Searching...
Senin, 04 April 2016

Trik Jitu Atasi Kehadiran Taksi Plat Hitam

Trik Jitu Atasi Kehadiran Taksi Plat HitamTrik Jitu Atasi Kehadiran Taksi Plat Hitam Grabcar Uber salah besar bila melakukan demonstrasi besar-besaran yang berakhir dengan anarkis. Peristiwa biasa yang kemudian jadi luar biasa, akibat mengguanakan otot dan bukan otak. Persis seperti segerombolan kancil yang kalah adu balap lari dengan dua ekor siput. Itulah yang terbersit ketika melihat demonstrasi penolakan grab dan uber yang diklaim ilegal.

Tidak ada yang bisa disalahkan, bilamana periuk nasi tergoyang dan hampir jatuh. Namun, apakah penolakan kepada hadirnya Grab dan Uber hanya terkait periuk nasi yang goyang? Menurut saya pribadi protes yang dilakukan tidak salah dan bahkan tepat daripada disimpan dan akhirnya menjadi buah simalakama. Dimana bila didiamkan dan terus berjalan, maka satu persatu taksi argo akan runtuh dan kosong melompong tanpa penumpang berjalan mengukur jalan.

Apa Trik Jitu Atasi Kehadiran Taksi Plat Hitam?

Persoalan mudah sebenarnya bagi perusahaan taksi mengatasi kehadiran taksi plat hitam Grab dan Uber, terutama bagi beberapa perusahaan taksi besar di kota Jakarta. Pengalaman dan sepak terjang perusahaan taksi argo seperti kehilangan percaya diri dan kalut melihat kiprah Grab dan Uber. Pada akhirnya muncul sebuah demonstrasi yang berakhir anarkis dan merusak properti yang sejatinya adalah teman sendiri.

Grab dan uber sebenarnya bukan persoalan besar yang dapat memporakporandakan beberapa jawara pengelola taksi argo hingga tujuh keliling. Jika melihat tututan pun sepertinya biasa-biasa saja, bila pihak grab dan uber mengikutinya pun belum tentu persoalan terpecahkan. Malah sebaliknya, Grab dan Uber menjadi lebih populer lewat iklan "yang terzhalimi" dan semakin dikenal masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Pada akhirnya order jasa menggunakan kedua taksi plat hitam tersebut meledak bagai bom atom keberuntungan pengemudi grab dan uber.

Barangkali akibat terlalu emosi dan kemudian hanya melihat satu sisi saja, maka terjadilah peristiwa yang seharusnya menguntungkan pendemo, malah jadi bumerang. Kenapa bisa bilang demonstrasi beberapa waktu lalu menjadi bumerang bagi taksi Arga? Alasannya coba Anda tanya kepada pengemudi Grab dan Uber yang begitu semangat lupa istirahat, putar kiri, putar kanan mengejar bonus target menggiurkan, 

Dilain pihak, coba bandingkan kondisi jalan raya setelah matahari tenggelam, banyak sekali lampu diatas mobil berjenis sedan yang berbunyi "TAKSI" menyala terang beradu dengan cahaya lampu jalan dan lampu mobil-mobil lainnya. Anda pasti bisa menebak apa maksudnya! Bila demikian, dimana letak keberhasilan demonstrasi yang banyak meninggalkan kenangan pahit buat mereka yang menjadi korban ketika itu? Jawabannya gagal total, meskipun telah disepakati agar Grab dan Uber harus mematuhi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Darat.

Sedikit geli dan lucu dalam benak melihat pengalaman pengelola taksi argo yang telah makan asam garam jadi binggung menghadapi dua kompetitor yang sebagian menyebutnya dengan transportasi ilegal, namun sebagian menyukai sistem yang digunakan Grab dan Uber. Apa yang dilakukan sepertinya mirip dengan menepuk air dalam baskom, yang akhirnya muncrat ke muka sendiri.

Ada kesalahan besar yang mungkin tidak disadari oleh pengusaha transportasi taksi argo, yaitu langsung mengambil keputusan untuk berdemo sebagai langkah terbaik. Kalo boleh menebak, apa yang diinginkan waktu itu adalah "Grab dan Uber ditutup oleh pemerintah!" Kemudian berdasarkan banyak pertimbangan pada pertemuan yang diadakan maka  pemerintah memberi waktu 2 bulan kepada kedua transportasi taksi berbasis aplikasi untuk mengikuti persyaratan  seperti halnya taksi argo yang telah diatur dalam UU No.22 tahun 1999 Tentang Lalu lintas angkutan darat. Entah apa seratus persen telah diikuti atau main kucing-kucingan, ternyata saat ini bonus penghasilan di kedua taksi berbasis aplikasi semakin menggiurkan dan membuat pelaku ataua pengemudi Grab atau Uber jadi lebih semangat untuk mengejar target.

Untuk mengatasi Grab dan Uber, sebenarnya dapat juga dilakukan oleh perusahaan taksi argo, dengan trik yang seharusnya sudah diketahui. Apa yang bisa dilakukan sebagai antisipasi menghadapi geliat cantik Grab dan Uber? Nah, jawabannya tidak jauh dan sudah ada dari dahulu semenjak Grab atau Uber muncul. Yah, pengusaha taksi telah mengetahui, tetapi tidak menyadari bahwa hal yang dilihatnya itu adalah jawaban dalam mengatasi persaingan dengan Grab dan Uber. Apa kira-kira jawaban.

Seperti ketika Karni Ilyas di acara ILC pada acara yang mengulas perihal demonstrasi besar angkutan darat di jakarta beberapa waktu lalu mengatakan, bahwa taksi Blue Bird di demo di setiap daerah pada awal kehadirannya dan kemudian hilang begitu saja, bahkan menjadi raja transportasi taksi meskipun daerah tersebut baru. Hal wajar bilamana Blue Bird kemudian menjadi nomer 1 dan berhasil unggul, karena taksi lain tidak melakukan hal yang sama dengan taksi Blue bird. Jadi pantas lah, bila taksi lama akan tergerus oleh kehadiran Blue Bird yang terkenal sangat profesional dalam melayani pelanggannya.

Kembali pada masalah Grab dan Uber sebenarnya tidak jauh berbeda dengan ilustrasi yang terjadi ketika Blue Bird hadir di daerah baru di beberapa kota di Indonesia. Lalu kemudian, bahkan Blue Bird pun pusing dan paling besar melakukan aksi demo bersama angkutan darat lainnya. Blue Bird dan perusahaan taksi besar lain seperti taksi express permasalahan Grab dan Uber bisa dipecahkan seperti menyentil batu kerikil.

Coba kita lihat dengan teliti jumlah armada Grab dan Uber, apakah bisa menandingi jumlah taksi argo, terutama Blue Bird Group dan Ekspress Group? Rasanya Jumlah Blue Bird Group dan Ekspress Group jauh lebih besar, ditambah pengalaman panjang, sarana dan prasarana sebagai bagian dari angkutan  darat sangat mumpuni. Bila demikian, kenapa pusing toh tinggal tambah armada, dengan mengikuti undang-undang yang berlaku plus basis aplikasi, tanpa harus merubah cat mobil dan tetap menggunakan plat hitam. Masa iya perusahaan sekaliber Blue Bird dan Ekspress Group tidak mampu beli mobil taksi berplat hitam seperti halnya grab dan Uber? Pasti seru persaingan layanan taksi berbasis aplikasi. Bila persaingan dilakukan sama dengan kondisi seperti sekarang, pelanggan sudah kadung lebih enak naik taksi plat hitam, yang seolah-olah naik mobil sendiri dengan supir pribadi. Betul tidak?

Jadilah Seperti Grab atau Uber Sebagai Trik Jitu Atasi Kehadiran Taksi Plat Hitam

Begitulah kira-kira pemikiran saya, bila saya adalah pengusaha taksi Argo, toh tidak ada yang dilanggar, karena semua mengikuti aturan Undang-undang No. 22 Tahun 2009. Bahkan sebaliknya, dengan armada jenis sedan dijamin jauh lebih nyaman dibanding jenis mobil keluarga berpenumpang 6 orang. Bila perlu, samakan jenis armada yang ada di Grab atau Uber, lalu lihat mana yang lebih bersaing, taksi argo yang jadi plat hitam atau tetap milik Grab dan Uber sebagai penguasa transportasi angkutan darat berjenis taksi berbasis aplikasi. Terima kasih, bila kurang tepat tentang tulisan Trik Jitu Atasi Kehadiran Taksi Plat Hitam, mohon dimaafkan,..salam hangat dan sukses.

0 comments:

Poskan Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!