Searching...
Senin, 02 September 2013

Siapapun Cenderung Melakukan Korupsi

Siapapun Cendrung Melakukan KorupsiSiapapun cenderung melakukan korupsi, tidak ada batasan umur, pendidikan, jabatan, jenis kelamin, beragama atau tidak. Semua orang memiliki kecenderungan untuk satu hal ini, meskipun dilakukan secara tidak sengaja atau tanpa sadar. Ini bukan tebakan atau sekedar dugaan, tapi sangat beralasan. Saya, sobat, bapak dan ibu semua memiliki kecenderungan untuk korupsi. Entah itu karena keadaan, trend, ajakan teman, setia kawan, terpaksa, kebutuhan mendesak dan lain sebagainya. Saya yakin sekali kita semua cenderung untuk korupsi!

Ini bukan menuduh siapapun melakukan korupsi, tapi 'cenderung' untuk melakukan tindakan korupsi. Percaya atau tidak, kecenderungan itu bisa dibuktikan dengan mudah. Nanti di akhir tulisan ini sobat atau siapapun yang membaca tulisan ini boleh melakukan uji coba ke lainnya dan lihat hasilnya. Apa kata kecenderungan yang saya sebut itu salah atau benar? Karena apa, kadang kita tidak sadar sering meremehkan apa yang seharusnya tidak kita lakukan. Kalau untuk korupsi sekian miliar atau triliun itu nanti, begitu kecenderungan untuk melakukan korupsi dipupuk dan dirawat hingga tumbuh dan berkembang jadi jiwa koruptor.

Kita sering lihat demo berteriak-teriak anti korupsi, menghujat para koruptor pesakitan ketika sidang di depan layar kaca tv masing-masing atau bukan jarang ketika gosip begitu berapi-api menentang korupsi yang dilakukan oleh mereka-mereka yang telah piawai dalam hal korupsi. Saya, KPK atau anti korupsi lainnya begitu kesal dan ingin segera pemberantas korupsi di Indonesia ini berhasil, hingga Indonesia ke depan bebas dari perilaku korupsi. Sadarkah bahwa kita juga cenderung melakukan korupsi? Jujur, kita bukan Nabi atau para ulama masa silam, dimana hanya menggigit sebuah apel liar yang terbawa aliran sungai, kemudian dicari pemiliknya dan mau melakukan apapun untuk mendapatkan keikhlasan pemilik apel (kisah Imam Syafi'i). Kita bukan beliau, sama sekali jauh untuk bisa berpikir sekecil itu.

Menurut pandangan saya pribadi, korupsi tidak akan habis dan kita tidak akan mampu memberantas korupsi, bila tidak melihat diri kita masing-masing. Bagaimana bisa memberantas korupsi, bila kita nya sendiri masih cenderung melakukan korupsi? Kalau kecenderungan itu disadari, tentunya di lain hari atau waktu segala sesuatu atau persoalan yang sedang dihadapi akan lebih dipikirkan meski itu sekecil pasir di pantai. Jika memang kita telah mengakui, bahwa kita cenderung untuk melakukan korupsi pastinya itu akan jadi suatu pengalaman berharga bagi kita. Baru kemudian melakukan bersih-bersih diri dengan berpikir logis. Jangan salah fit and proper test tidak menjamin orang itu bersih dan tidak memiliki kecenderungan, apalagi test tulis yang bisa menggunakan logika dan teks book

Oke, kita masuk pada inti dari apa yang ingin saya sampaikan. Saya berharap ini akan berguna bagi kita semua, keluarga, terutama bagi generasi penerus yang masih belum tahu apa-apa alias masih polos. Saya bisa jamin, sobat, bapak dan ibu sangat mampu melakukan apa yang saya minta. Begini, saya hanya meminta sobat, bapak atau ibu untuk menuliskan sesuatu diatas kertas sesuai dengan contoh yang saya berikan. Contoh yang saya berikan itu adalah tulisan angka diatas sepotong kertas. Sobat, bapak atau ibu 'saya minta membuat hal yang sama persis seperti yang saya buat dan tidak boleh berbeda' . Untuk itu saya berikan sebuah pensil yang ujung karbon-nya patah dan  sepotong kertas putih. Setelah saya berikan pensil dengan ujungnya yang patah dan sepotong kertas, lalu saya letakkan sebuah rautan di meja sobat, bapak atau ibu. Kemudian saya mohon diri sejenak untuk keluar, karena kebetulan hp berdering. Apa yang akan dilakukan sobat, bapak atau ibu setelah saya keluar ruangan? 

Sobat, bapak dan ibu pasti akan berpikir, bahwa "mana mungkin bisa sama tulisannya, pensilnya saja patah!" Lalu setelah melihat ada sebuah rautan, maka spontan segera meraut pensil tersebut. Alasannya adalah, bila menulis dengan pensil patah ujungnya pasti akan dibilang bodoh, karena di depannya ada rautan. Tentu bodoh sekali jika tidak menggunakan rautan yang ada dihadapan sobat, bapak atau ibu. Siapapun tidak mau disebut bodoh, apalagi hanya sekedar menuliskan angka seperti contoh. Malu dong! Begitu saja tidak bisa dan tidak mau berusaha agar hasilnya mendekati contoh atau bahkan lebih baik dari yang dicontohkan. Apa salahnya menggunakan rautan saya? Bukankah saya sedang berada diluar? Ya sudah lebih baik gunakan rautan, toh ketimbang malu, atau dibilang ga bisa nulis. Pokoknya selesai sesuai dengan permintaan, yaitu menulis angka sesuai dengan contoh. Sobat, bapak atau ibu pasti beranggapan, bahwa saya curang ketika menulis pensil tidak patah dan ketika meminta sobat, bapak atau ibu pensiilnya patah. Selesai sudah telepon dan saya balik menemui sobat, bapak atau ibu, wow ternyata sama persis dengan tulisan saya, bahkan lebih bagus lagi tulisannya karena pensil baru diraut.

Saya yakin, sobat, bapak atau ibu akan menulis jauh lebih bagus dari tulisan saya, karena ketika saya menulis pensil agak tumpul. Sobat, bapak atau ibu pasti tidak mau kalah, malu atau dibilang tidak mampu menulis seperti apa yang saya minta, karena secara logika mana bisa menulis dengan pensil patah dan pastinya pensil itu harus diraut. Betul sekali cara berpikir seperti itu! Cara berpikir yang bertanggung jawab, dimana tugas harus diselesaikan dengan baik atau lebih baik dari contoh. Begini sobat, bapak atau ibu, tadi saya hanya minta untuk menulis seperti contoh yang saya berikan. Ketika saya meminta itu memang saya membawa rautan, tapi saya tidak minta sobat, bapak atau ibu untuk meraut pensil itu terlebih dahulu. Apalagi, sobat, bapak atau ibu menggunakan rautan milik saya yang tergeletak diatas meja itu tanpa seijin saya. Kenapa tidak ditulis saja apa adanya dengan pensil patah, meskipun hasilnya akan jauh lebih buruk dari permintaan saya. Disinilah letaknya kecenderungan kita, sobat, bapak atau ibu dalam hal melakukan korupsi. 

Sadar atau tidak, kadang kita meremehkan hal kecil. Diatas itu adalah contohnya, dan saya pastikan bila ini dilakukan atau dibuat menguji kecenderungan yang tidak membaca tulisan saya ini, dijamin kena! Dijamin sama seperti sobat, bapak atau ibu, mereka akan meraut pensil tanpa ijin. Menggunakan sesuatu tanpa ijin saja dimanapun hukumnya adalah melanggar hak orang lain. Bukan begitu? Jadi mudah saja untuk melihat kecenderungan kita dalam hal melakukan korupsi, ya seperti contoh diatas. Coba saja ke siapapun, silahkan atau kalau perlu orang yang paling kelihatan jujur atau ketua KPK juga boleh, dijamin belum tentu lolos uji seperti hal diatas. Jujur, saya pun gagal dan ini adalah akibat ide dari kepolosan anak kecil yang menulis dengan apa adanya tanpa embel-embel malu, gengsi atau apalah. Yah, kadang kita lupa untuk bertindak dan berlaku apa adanya, malah kita sering berperilaku bukan seperti diri kita sendiri. Jika sudah begitu, nah loh berarti sobat, bapak atau ibu cenderung melakukan korupsi. Silahkan uji mereka yang sehari-hari alim atau jujur luar biasa, sobat, bapak atau ibu akan tahu jawabannya nanti. Terima kasih, semoga bermanfaat....Peace!!

0 comments:

Poskan Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!