Searching...
Jumat, 06 September 2013

Rahasiakan Penghasilan dan Peluang Korupsi

Rahasiakan Penghasilan dan Peluang Korupsi
Ada apa dengan ' Rahasiakan Penghasilan dan Peluang Korupsi"? Sebenarnya tidak ada apa-apa, hanya sekedar menyampaikan pandangan tentang hal tersebut. Ini sudah lama jadi pertanyaan, kenapa penghasilan kita masuk pada kategori rahasia. Padahal logikanya, segala sesuatu yang rahasia itu hanya Tuhan dan kita pribadi yang mengetahui. Nah, masalah penghasilan atau gaji ada yang mengetahui selain Tuhan dan kita, yaitu atasan kita, HRD, bagian keuangan atau teller bank juga tahu. Apa itu disebut rahasia?

Ini umum terjadi ketika ada seseorang bertanya tentang, "berapa penghasilan sebulan?" Jawaban umum yang akan keluar adalah 'rahasia', 'cukuplah' atau 'mau tahu saja!'. Kenapa tidak ada yang berani menjawab dengan jujur berapa nilai atau jumlah penghasilan kita? Toh, yang menerima jawaban kita tidak merugikan kita, tidak mengurangi nilai gaji kita atau membuat kita jadi bangkrut. Jika demikian untuk apa dirahasiakan? Takut dipinjam, takut ketahuan dan malu atau jangan-jangan takut ketahuan kita itu korupsi?

Menurut saya, penghasilan itu bukan sesuatu yang harus dirahasiakan dan sebenarnya memang bukan rahasia. Alasannya, penghasilan itu bukan kita saja yang tahu. Seperti telah saya tuliskan diatas, banyak pihak sebenarnya mengetahui berapa nilai penghasilan kita dalam sebulan. Masa iya dengan menyebutkan atau membeberkan penghasilan kita, maka kita akan jadi gembel, malu, dikira sombong karena nilainya besar, dan lain sebagainya. Itu sama sekali tidak akan terjadi. Membuka berapa nilai penghasilan tidak akan menimbulkan aib, kecuali kita membuka berapa ukuran pakaian dalam kita atau menceritakan ketika bercinta dengan suami atau istri, dan banyak lagi yang pantas untuk dirahasiakan. Dimana hanya Tuhan dan kita yang mengetahuinya.

Saya tidak tahu dasar hukumnya apa, hingga penghasilan itu menjadi rahasia. Padahal dalam beberapa formulir aplikasi pengajuan kredit bank atau sejenisnya, pasti ditanyakan  berapa penghasilan sebulan. Bukan itu saja, sekarang ini gaji para pejabat pun dibeberkan dan semua orang tahu. Tapi kenapa, bila ada pertanyaan mengenai 'berapa penghasilan kita' jawaban umumnya adalah rahasia atau ada deh! Hemat saya, transparansi penghasilan atau gaji para pejabat itu sangat positif dan sama sekali bukan hal negatif. Kenapa kita tidak pernah berani menjelaskan atau menjawab pertanyaan tentang penghasilan atau gaji kita? Bahkan, kita buat penghasilan itu adalah hal sakral dan lebih tertutup dari yang seharusnya ditutup. 

Sobat, teman, bapak atau ibu mungkin tidak sependapat dan tetap bersikukuh bahwa penghasilan itu adalah hal pribadi. Itu tidak masalah, karena ini adalah pandangan saya pribadi. Jangan salah, menutup atau merahasiakan penghasilan itu juga memiliki kecenderungan dalam melakukan korupsi. Yah, kalau tidak korupsi atau mendapat penghasilan gelap (baca = haram) buat apa takut dan menyebut penghasilan atau gaji itu rahasia pribadi? Jelaskan saja, biarkan mereka yang menerima jawaban berkata 'wow', ngiler, pusing atau ngiri. Menutup atau rahasiakan penghasilan menurut saya tidak ada aturannya, melainkan kebiasaan secara umum karena malu atau ada alasan lain. 

Perlu kita sadari, terutama bagi instansi pemerintah mengenai transparansi penghasilan, yaitu gaji sebaiknya dibuka secara umum. Bila ini dibuat, kemungkinan mereka yang berpikiran dan terbiasa korupsi akan berpikir dua, tiga atau seribu kali untuk melakukan korupsi. Bagaimana si A dengan jabatan 3a dengan data gaji terpampang secara umum 'sekian' bisa ke kantor dengan mobil x-trail terbaru? Pasti akan ada tanda tanya besar dan perlu diselidiki, darimana datangnya uang untuk beli mobil itu? Bila si A tidak korupsi buat apa takut, katakan dan buka saja serta beberkan datanya, bahwa mobil itu adalah dibeli dari uang warisan, bisnis keluarga atau memang asalnya orang kaya yang telah punya uang banyak sebelum bekerja. Ini kan jadi jelas, bukan gaji ditutup dan dikatakan rahasia lalu pegawai negeri golongan 2c bisa beli rumah harga miliyaran setelah dia menjabat sebagai staf pajak, staf logistik atau staf tender pada suatu instansi pemerintah. Mana yang lebih baik, transparansi penghasilan atau merahasiakan penghasilan? 

Pada tulisan saya ini tidak bermaksud mengumbar penghasilan ke siapapun, dimana ada orang lewat, "hey gaji saya sekian-sekian!" dan "halo Andi, gaji saya 1 M lho!'. Tulisan ini saya buat, karena saya melihat kebiasaan umum merahasiakan penghasilan itu tidak ada dampak positifnya. Bahkan sebaliknya, rahasia penghasilan atau gaji akan membuka peluang pada tindak korupsi, karena bisa jadi antara nilai sesungguhnya dengan kenyataan akan berbanding terbalik alias jomplang atau tidak mungkin bila dipikirkan secara logika. Membuka atau membeberkan berapa nilai penghasilan, terutama bagi instansi pemerintah juga tidak ada dampak negatifnya, malah lebih banyak dampak positifnya dalam mencegah terjadinya usaha korupsi dari tiap karyawan, entah itu pejabat tingginya atau pegawai negeri golongan terendah. Mereka akan pikir-pikir, karena data mereka terbuka secara umum!

Kesimpulannya, transparansi penghasilan dan tidak lagi menjadikan itu sebagai rahasia atau ditutup-tutupi akan memiliki dampak sangat positif. Itu menandakan keterbukaan dan kejujuran, tidak mengada-ada dan hidup apa adanya. Itu berlaku bagi kita secara umum, entah pegawai negeri, swasta, atau wiraswasta. Jadi, kata rahasia pada penghasilan itu tidak ada aturan dan tidak ada gunanya. Rahasia pada penghasilan cenderung memiliki beberapa makna negatif berseberangan dengan keterbukaan penghasilan. Untuk itu buat apa rahasiakan penghasilan kalau tidak mau disebut sebagai hasil dari peluang korupsi. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi instansi pemerintah pusat atau daerah dalam mencegah terjadinya korupsi. Mohon maaf bila berbeda pendapat, Salam...Peace!!

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!