Searching...
Kamis, 19 September 2013

Jadi Diri Sendiri Untuk Tidak Korupsi

Jadi Diri Sendiri Untuk Tidak Korupsi
Jadi diri sendiri untuk tidak korupsi, apa memang demikian? Bukannya sehari-hari kita sudah hidup dengan jadi diri sendiri? Pada umumnya kita ini selalu melakukan pembenaran menguntungkan diri sendiri. Padahal bila disadari dan direnungkan, kadang kita bermimpi terlalu jauh hingga lupa diri dan malu pada diri sendiri. Hal mudah untuk membuktikan banyak kepalsuan dalam kehidupan sehari-hari, entah disengaja atau tidak. Kadang juga ada meskipun sekedar ikut-ikutan, terlalu terobsesi tanpa melihat kemampuan diri sendiri dan lain sebagainya.

Ini hal umum dan mudah ditemui ketika kita masuk ke dalam ruangan salon , disana ada beberapa gambar model potongan rambut dari artis, aktor atau entah siapa di gambar tersebut. Karyawan salon atau kita kemungkinan akan bertanya," model apa kira-kira yang sedang atau lagi trend?" Dipilihlah satu model potongan rambut, maka jadilah potongan rambut kita seperti pada gambar. Ilustrasi ini tidak ada negatifnya, namun seperti dikatakan diatas kita ini sudah menipu dengan menyamai penampilan orang lain. Ini baru satu, belum lainnya.

Untuk orang dewasa dengan pemikiran matang, meskipun cenderung banyak juga terjadi seperti ilustrasi diatas tapi masih dalam batas wajar. Artinya hanya sekedar potongan rambut dan tidak mengakar pada karakter untuk berubah dari diri sendiri menjadi orang lain. Bagaimana bagi mereka yang belum matang cara berpikirnya? Bukankah kebiasaan sedikit demi sedikit menjadi orang lain akan menjadi sebuah karakter yang tertanam dalam di kehidupannya nanti kelak?

Saya melihat orang melakukan korupsi itu hanya ada satu tujuan, yaitu memperkaya diri sendiri dengan berbagai cara meskipun itu terlarang. Nah, untuk mendapatkan kekayaan tersebut tidak mungkin tanpa ada dorongan atau alasan pasti. Bohong bila pelaku melakukan korupsi itu seperti air yang mengalir atau bahkan tidak mengetahui atau tidak sadar telah melakukan korupsi. Semua punya alasan, wong minum segelas air putih saja ada alasannya, bagaimana dengan melakukan korupsi?

Bisa jadi alasannya karena mereka para pelaku korupsi dulunya miskin dan ogah miskin serta dendam pada kemiskinan. Kenapa mereka bisa ogah atau dendam pada kemiskinan? Menurut saya mereka melihat orang-orang terdahulu yang hidup kaya raya entah itu hasil jerih payah jujur atau korupsi. Ini pasti sangat menarik hati. lantaran seumur-umurnya ketika masih sekolah atau hidup di kampung miskin, kesana-kemari jalan kaki, maka mulailah bermimpi untuk jadi seperti orang yang mereka lihat. Mereka sangat ingin kaya, hingga bukan rahasia umum pada jaman dahulu tiap orang tua menganjurkan anak-anaknya menjadi pegawai negeri. Entah apa alasan ilmiah anjuran orang tua jaman dulu tersebut, apa karena dapat uang pensiun seumur-umur atau nanti bisa jadi 'orang kaya'.

Contoh lain, ketika seorang teman yang bersahabat melihat sahabatnya sukses serta kaya raya, tentunya si sahabat ini tertarik lalu ingin mencontoh si sahabatnya yang telah sukses itu. Pada akhirnya mereka berdua berkumpul di KPK atau di sel tahanan akibat melakukan korupsi. Hal macam begini adalah umum kita temui dan kadang disadari tapi sering terlupakan. Padahal itu semua tidak lain adalah masalah jadi diri sendiri, dalam artian perilaku keseharian dalam kehidupan serta bertindak sesuai dengan apa yang kita miliki. Percaya atau tidak, bahwa kita ini cenderung melakukan korupsi seperti pada artikel saya sebelumnya mengenai siapapun cenderung melakukan korupsi.

Melihat perkembangan sebenarnya korupsi bukan tindakan individu, meskipun hasilnya akan tersebar rata di antara para pelaku sesuai porsi masing-masing. Mereka itu orang-orang yang tidak bertindak sebagai dirinya sendiri, lalu kemudian bergabung membangun kekuatan untuk korupsi. Bahaya bila kita tahu akibat tidak jadi diri sendiri kemudian dibiarkan begitu saja hingga nantinya saling bertemu antara mereka yang berperilaku sama. Akhirnya korupsi tidak akan dapat terhindar, lalu negara akan ludes dikuras oleh mereka-mereka ini.

Ini ada cara sederhana bagi kita, sobat, bapak atau ibu yang ingin mengetahui seseorang itu lebih kepada jadi diri sendiri atau sebagai orang lain. Mudah sekali dan jujur saja, saya pun pernah tidak jadi diri sendiri. 
  • Coba sobat, bapak atau ibu tempelkan beberapa poster dan sebuah cermin. 
  • Lalu minta pada siapa saja yang akan diuji apakah mereka itu memiliki pendirian untuk jadi diri sendiri atau bukan. 
  • Mintalah mereka untuk memilih dan tanyakan, " kira-kira anda seperti siapa?" 
  • Lihat hasil jawaban mereka yang telah memilih.
Saya bisa pastikan saat ini juga, jarang dan tidak ada yang menjawab seperti yang ada dalam cermin. Padahal itulah sesungguhnya bayangan yang sama persis dengan diri kita, bukan seperti di poster.  Untuk yang menjawab tidak seperti siapa-siapa berarti mereka itu aneh. Boleh saja berkeinginan, misalnya seperti Fathin, miss world, Habibie atau kecantikan Angie, namun semua tentunya dalam batas wajar dan tidak menjadi racun yang memaksa kita untuk jadi seperti mereka secara instan. 

Begitulah para pelaku korupsi, mereka ingin kaya, sukses, terpandang, dan bisa beli segala macam lantaran kapok miskin ingin cepat menjadi kaya seperti orang yang mereka contoh secara instan meskipun berisiko. Ini akibat mereka terbiasa menanam benih terlalu berlebihan dari luar angkasa tanpa melihat batas kemampuan sesungguhnya, akhirnya korupsi sebagai jalan pintas untuk semua mimpinya. Demikian tulisan tentang Jadi Diri Sendiri Untuk Tidak Korupsi semoga bermanfaat. Terima kasih, peace!!

0 comments:

Poskan Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!