Searching...
Minggu, 08 September 2013

Bagaimana Cara Meluluhkan Keteguhan Hati Pelaku Korupsi?

Setitik Cahaya Harapan Meluluhkan Hati Pelaku Korupsi
Bagaimana cara meluluhkan hati pelaku korupsi? Tentunya pertanyaan ini sedikit berharap pada pepesan kosong, tapi apa salahnya berharap agar mereka itu berhenti melakukan tindak korupsi. Ini pun bukan sebagai pertanyaan frustasi, bahkan sebaliknya optimis ada setitik cahaya terang dalam pemberantasan korupsi. Saya melihat pada kenyataannya kecenderungan untuk melakukan korupsi saat ini semakin besar, padahal begitu banyak dan gigih para pelaku pemberantasan korupsi dan anti korupsi lainnya. Ini jadi pertanyaan, kenapa ada KPK dan lainnya pelaku korupsi bukannya habis tapi malah semakin banyak dan meluas?

Masa iya pelaku korupsi itu seperti nyamuk atau tikus, mereka itu jauh lebih mulia karena diciptakan oleh Tuhan sebagai manusia. Kalau bicara nyamuk atau tikus yang hidupnya memang sebagai hama dan menjijikkan, masa mereka para pelaku korupsi itu menjijikkan. Buktinya mereka para pelaku korupsi itu banyak teman dan pendukung, apalagi ketika tertangkap. Kita basmi nyamuk atau tikus dengan obat atau racun serangga tetap saja kemudian mereka datang dan banyak lagi, persis seperti para pelaku korupsi. Apa begitu ya, para pelaku korupsi tak ada bedanya dengan tikus atau nyamuk?

Apa hubungannya antara tulisan diatas, yaitu antara pertanyaan diatas, semakin diberantas semakin banyak dan meluasnya para pelaku korupsi dengan tikus dan nyamuk. Begini, siapapun yang sudah mengerti pasti melihat dan merasa bila saat ini para pelaku korupsi itu bukan sedikit, padahal institusi pemberantasan korupsi sudah ada, undang-undang anti korupsi ada, pendidikan anti-korupsi meski kadang-kadang ada, spanduk atau iklan jujur bertebaran dimana-mana. Fenomena apa yang terjadi, kenapa bukan makin habis malah semakin seperti tikus dan nyamuk. Jujur saja, pelaku korupsi saat ini, bagaikan nyamuk yang menghindari obat nyamuk yang kita bakar. Tikus pun demikian, kita bangun mereka lari dan ketika kita lengah si tikus balik lagi mengerat apa yang bisa dikerat.

Bila saya renungkan, kata pemberantasan atau obat serangga seperti nyamuk atau racun tikus itu sangat mengerikan dan mematikan. Buktinya tikus dan nyamuk akan mati terkulai bila terkena obat nyamuk atau memakan racun tikus. Tapi untuk pemberantasan korupsi yang kelihatan keras, kejam dan menakutkan itu ternyata hanya di depan saja. Kemudian setelah mereka para pelaku korupsi sial tertangkap dan diproses oleh pemberantasan korupsi pada akhirnya tetap saja hidup enak dan dimanjakan. Padahal berapa biaya proses pemberantasan korupsi, betapa melelahkan saat pembongkaran kasus korupsi dan bukan main pusing pastinya ketika melakukan pemberantasan korupsi hanya pada satu orang. Bagaimana pemberantasan pada seluruh para pelaku korupsi? Berat, bisa-bisa mati berdiri!

Anggap saja ini khayalan saya pribadi, bila sobat, teman, bapak atau pun ibu tidak berkenan ya jangan diambil hati. Saya beranggapan, dari pada harus buang-buang biaya terlalu banyak, korupsi makin banyak apa tak sebaiknya diputihkan saja para pelaku korupsi itu? Sabar, tunggu dulu dan jangan mencibir baca tulisan saya. Apa yang saya harapkan ini bukan berarti tidak mungkin atau mimpi di siang bolong, tapi ini realistis dan bisa 'dilaksanakan'. Pemutihan para pelaku korupsi tentunya bukan seperti pemutihan pembuatan akta kelahiran atau akta tanah. Hal ini perlu aturan yang tersusun rapi dan tentu didukung oleh para orang yang terhormat atau bapak Presiden, jika ingin Indonesia bersih dari korupsi. 

Saya yakin, pengeluaran biaya jauh lebih efisien dibanding hanya melakukan pemberantasan dan pemberantasan korupsi saja seperti kenyataan saat ini. Satu contoh, untuk memulangkan M. Nazaruddin dari Colombia itu butuh sekian miliar. Itu baru satu, bagaimana bila banyak dan sepertinya banyak yang kabur dan belum berhasil ditangkap seperti Sudjiono Timan. Lantas bagaimana mimpi saya itu? Saya bermimpi, Presiden dan DPR sepakat lalu mengeluarkan Undang-Undang pemutihan bagi para pelaku korupsi. Dalam undang-undang itu ada beberapa poin penting yang membuat para koruptor mau tidak mau akan lapor diri sebelum dilaporkan dan akan menerima sangsi berat akibat tidak mengakui kalau dia itu telah melakukan korupsi. Lebih baik membiarkan para pelaku korupsi itu bebas dan dimaafkan oleh negara asalkan uang kembali. Untuk masalah hukuman, tentunya telah dihukum oleh rasa malu meski nama dan identitasnya tidak disebarluaskan di media massa.

Sobat pasti bertanya, mana mungkin ada orang yang mau mengaku telah melakukan tindak korupsi? Menurut saya bisa, karena dalam Undang-undang itu pastinya akan disertai dengan sangsi. Bisa saja sangsinya itu seperti hukuman potong tangan atau mati bila ternyata terbukti. Bagaimana cara mengetahui kalau ada pelaku korupsi yang tidak mau mengakui perbuatannya dan tidak mau melaporkan diri sebagai pelaku korupsi? Sebenarnya jawabannya mudah saja. Untuk sangsi pastinya harus ada dukungan beberapa pihak, misalkan ada tim khusus audit yang akan menghitung harta bagi mereka para pegawai pemerintah yang disinyalir telah melakukan korupsi atau tidak.

Dalam hal ini bisa saja dilakukan oleh KPK dengan membentuk bagian auditor khusus ekonomi. Saya berpikiran positif, bahwa mereka para auditor itu jujur dan adil. Disini pasti timbul pertanyaan lagi, berarti pengeluaran biayanya makin besar dengan penambahan tim seperti itu? Kalau pengeluaran lebih besar jawabannya pasti besar, namun bukan untuk jangka panjang. Menurut saya sekitar tiga atau lima tahun itu lebih baik ketimbang Indonesia bangkrut seumur hidup. Hitung saja berapa biaya pemberantasan untuk satu orang pelaku korupsi dan berapa uang yang kembali pada negara. Paling-paling hasilnya seri atau mungkin sisa dikit, karena uang hasil korupsi sudah pergi kemana-mana. Lima tahun waktu yang panjang bila dihitung secara matematis, tapi pendek untuk Indonesia kedepannya. 

Apa untungnya dengan mimpi saya itu? Wah, pasti banyak sekali untungnya, pertama dengan Undang-undang ini rakyat akan semakin percaya bahwa Presiden dan Wakil rakyatnya tidak mendukung pelaku korupsi dan benar-benar benci korupsi, kedua uang hasil korupsi akan balik tanpa harus mengeluarkan biaya pemberantasan terlalu besar, ketiga ada efek jera bagi mereka yang mau melakukan korupsi setelah melihat ada yang terkena hukum potong tangan atau mati, keempat Indonesia tidak bangkrut kedepannya, dan kelima Undang-undang ini sangat manusiawi dan lemah lembut namun tegas dibanding undang-undang korupsi yang berlaku saat ini keras di depan lembek di belakang.

Seperti begitulah cara menjawab 'Bagaimana cara meluluhkan keteguhan hati pelaku korupsi' versi saya, meskipun sobat dan lainnya menganggap ini adalah hal mustahil. Bagi saya tidak ada yang mustahil. Saya pernah membaca tentang olah raga atletik lompat tinggi dan ini sangat menarik, karena pada awalnya lompat tinggi dilakukan selalu dilakukan dengan saling berhadapan antara tiang dan pelompat. Atlet tidak terkenal ini mendekat ke palang rintangan, yang sedang dipasang dengan ketinggian rekor dunia waktu itu setinggi 7 feet 4 1/4 inci. Dia melompat, tetapi bukan menghadapkan badannya pada palang, justru membalikkan badannya, atau membelakangi palang. Dia mengangkat kaki dan melompati palang itu dengan membelakanginya. Nama atlet ini adalah Dick Fosbury, sedangkan cara lompatan itu lalu dikenal dengan sebutan Fosbury Flop. Metode itu masih digunakan hingga sekarang. Ia melompat jauh lebih tinggi dari siapa pun sebelumnya, dengan cara berpikir dan secara berlawanan dari umumnya. Dalam hal korupsi, yang terpenting adalah berusaha apapun caranya agar korupsi pergi jauh dari Indonesia. Sekian, mohon maaf, ...Peace!!

0 comments:

Poskan Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!