Searching...
Sabtu, 31 Agustus 2013

Korupsi Hanya Dilakukan oleh Orang Pintar

Korupsi Hanya Untuk Orang Pintar
Benar apa salah ya, bila korupsi hanya dilakukan oleh orang pintar? Pada kenyataannya, mereka para pelaku bukan orang sembarangan dan jarang sekali yang tidak bertitel. Umumnya dibilang korupsi kalau nilainya besar dan kalau tertangkap lalu disiarkan di media massa. Untuk korupsi kecil-kecilan, seperti nyatut, ngentit, uang damai, salam tempel atau nyontek masih belum ada yang berani menyebutkan sebagai korupsi. Semua itu umumnya pasti hanya dilakukan oleh orang yang lihai alias pintar.

Coba kita perhatikan, jelas-jelas melakukan korupsi itu dilarang dan ada undang-undangnya. Tapi kenapa semakin hari semakin banyak pelakunya dan semakin rata-rata air. Sepertinya pola para pelaku korupsi bukan pola orang bodoh, mereka semua sangat tahu letak celah atau kesempatan melakukan korupsi. Andaikan mereka tidak pintar, dijamin saat melakukan korupsi akan terlihat kaku atau kagok. Mereka tidak kaku atau kagok, semua berjalan mulus hingga tertangkap pun mereka masih lihai dan pintar berkelit. 

Contohnya si Sudji (maksudnya: Sudjiono Timan), maaf saya sengaja tidak sopan bagi pelaku korupsi karena mereka tidak patut untuk itu. Bagaimana si Sudji tidak pintar? Pelaku hukum (Hakim Agung) yang masuknya saja sulit dan berbelit-belit harus  melalui uji sana sini bisa juga di pinteri olehnya. Undang-undang produk yang terhormat pun masih juga kalah pintar oleh kelihaian para pelaku korupsi, karena buktinya selalu kalah debat dan kalah ilmu di persidangan mereka. Apa sengaja ya undang-undang produk yang terhormat dibuat bodoh, sehingga para koruptor bisa dengan mudahnya dan lebih pintar dari produk undang-undang anti korupsi.

Ini kenyataan, kalau dibilang frustasi pastinya iya. Dibilang bosan, sudah pasti bosan melihat itu-itu lagi kejadiannya. Mau marah apa daya, mau berbuat sesuatau kalah banyak dari mareka yang terorganisir rapi. Mau tidak mau sepertinya ya jalan ditempat atau teriak sekali-kali dan itu pun kalau didengar. Wong sekian banyak demo saja tak ada hasil, gimana cuma teriak atau tulisan model begini. Mau lokakarya, seminar atau apapun itu, mereka para pelaku korupsi itu sudah merasa pintar, jadi tidak ada gunanya. Buang-buang uang saja! Berbeda dengan orang bodoh, karena orang bodoh biasanya mau belajar, mau baca, mau diperingati dan mau mendengarkan. 

Hanya orang pintar yang kalau diperingatkan cuek sambil senyum, masa bodoh sambil pura-pura menerima usulan dan bisa-bisa mereka para pelaku korupsi berkata," Siapa elu berani-beraninya demo, kritik atau ikut campur urusan gua?".Coba sobat atau siapapun beri nasihat mereka (teman) yang disinyalir melakukan korupsi. Mereka akan ngeles kanan,. ngeles kiri, geleat gelot putar haluan dengan seribu alasan. Karena apa? Tentunya, karena mereka itu orang pintar dan lebih tahu dari si pemberi nasihat. Saking pintarnya, para pelaku korupsi itu tahu cara membodohi Tuhan juga. Masa iya para pelaku korupsi membodohi Tuhan? Yee,..bagaimana Tuhan tidak dibodohi oleh mereka, hasil korupsi buat sumbangan anak yatim, sumbangan masjid atau sejenisnya. Dia pikir, Tuhan bisa disogok dengan amal seperti itu. Ini banyak terjadi, dan parahnya lagi mereka yang pintarnya itu plus-plus yaitu mereka yang sudah pintar masalah teknis korupsi juga pintar agamanya. Sekarang korupsi besok tobat dengan beramal jariah selesai, Tuhan kan Maha Pengampun! Semoga para pelaku korupsi baca ini dan bisa memberikan komentar tentang kebenarannya.

Untuk yang tidak korupsi itu tergolong orang bodoh menurut mereka, tapi kita bersyukur karena kita sebagai orang bodoh masih mau baca hal yang benar, mau diperingati dan mau tahu tentang hal yang dilarang dan yang bukan. Berbeda dengan para pelaku korupsi, mereka juga baca buku, mereka juga mengerti larangan dan ancaman korupsi, tapi karena mereka lebih pintar, tulisan, bacaan, atau peringatan seperti sapaan biasa sehari-hari yang tidak berguna bagi mereka. Mereka merasa sudah tahu jawabannya, mereka merasa tahu kuncinya dan mereka juga tahu caranya bermain dan minteri hukum plus penegak hukum di Indonesia. Bukan berarti orang pintar seperti para pelaku korupsi itu hanya diatas saja kelasnya, dibawah pun juga banyak dan merata tidak mau ketinggalan juga.

Para pelaku korupsi itu pintar segala-galanya, ya termasuk pintar menyembunyikan mimik muka ketika tertangkap, pintar menyembunyikan wanita-wanita simpanan, pintar membagi-bagikan uang korupsi pada orang, pintar bersedekah dan pintar mengatur posisi apa yang harus dilakukan termasuk pintar mengelabui penegak hukum dengan uang hasil korupsinya. Bagaimana mereka bisa bayar lawyer semahal itu, bila mereka jelas-jelas menjadi tersangka korupsi? Bukankah uang itu seharusnya dipertanyakan? masa iya pelaku korupsi punya sponsor dalam pembelaan, ada juga teman atau konconya sembunyi supaya tidak terkena imbas. Ini satu kepintaran yang mungkin tidak pernah digembar-gemborkan di media massa atau media elektronik, yaitu darimana dan pakai uang siapa para koruptor membayar biaya miliyaran untuk sederet lawyer?

Yang jelas, para pelaku korupsi tidak akan mampu berkembang pesat di Indonesia bila mereka bukan tergolong orang pintar. Indonesia saat ini penuh dengan orang pintar dan sedikit orang bodohnya. Kenapa begitu? Gampang lah, tanah kita subur, kekayaan melimpah, dan segalanya ada, tapi tidak pernah dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kepentingan rakyat. Lumbung padi Karawang jadi lumbung industri, pemukiman jadi gunung terpendek di dunia, adanya di Jawa Timur (lapindo). Itu akibat apa? Ya korupsi pastinya. Kalau tidak korupsi mana mungkin ada gunung di pemukiman, lahan sawah ganti jadi industri. Indonesia yang dulunya pernah bantu beras sekarang import beras, sampai-sampai sapi saja kebingungan dan harus import dari daerah yang kesuburannya jauh dari Indonesia. Apa itu namanya, kalau bukan akibat pintarnya orang Indonesia. Pintar dalam hal korupsi, pintar dalam memanfaatkan kesempatan dan pintar keblinger.

Jadi kita berada di kelompok mana? Pintar atau bodoh? Saya pilih bodoh, karena memang saya masih sekolah dan masih baca buku. Kalau orang pintar tidak perlu baca buku, tidak perlu diperingati dan tidak perlu lagi hukum! Mungkin bagi yang tidak melakukan korupsi di mata para pelaku korupsi adalah orang bodoh dan penakut serta ketinggalan jaman. Biarin aje! Asalkan hidup nyaman dan tentram apa adanya. Kita biarkan saja, kalau korupsi hanya dilakukan oleh orang pintar. hal yang bisa kita lakukan saat ini adalah belajar dan belajar, seperti layaknya orang bodoh terus menerus mencari kepintaran, ilmu, dan sebagainya. Terima kasih, Peace!!

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!