Searching...
Kamis, 15 Agustus 2013

Bangga dan Malu Menjadi Orang Indonesia

Bangga dan Malu Menjadi Orang Indonesia
Bangga dan malu menjadi orang Indonesia, itu terjadi ketika melihat kenyataan dari cita-cita pendahulu dan masa kini. Bangga jadi orang Indonesia, karena tidak perlu berselimut kain woll dimalam hari, tidak perlu merapat dekat perapian akibat cuaca dingin. Air dan sinar matahari begitu ramah dan bersahabat dengan bangsa Indonesia. Hijau pepohonan dan kesuburan bangsa ini bukan dongeng, karena nyata apapun bisa tumbuh di negeri tercinta ini. Semua itu membuat siapapun pasti bangga jadi orang Indonesia.

Kebanggaan jadi orang Indonesia semakin jelas terlihat ketika bangsa Indonesia saat itu berjuang untuk merdeka. Gegap gempita kemerdekan akhirnya menggema di seantero belahan bumi pertiwi Indonesia. Seluruh rakyat Indonesia bersatu, berjuang dan akhirnya merdeka. Tak ada kasta, tak ada perbedaan agama, suku bangsa, atau budaya. Saat berjuang merebut kemerdekaan hingga diproklamirkan hanya ada satu, yaitu rakyat Indonesia. Berbangsa satu bangsa Indonesia, bertanah air satu tanah air Indonesia, dan berbahaasa satu bahasa Indonesia. Sejarah bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan membuat siapapun akan bangga menjadi orang Indonesia.

Bagaimana tidak banggsa, para pendahulu dengan rasa nasionalisme tulus tanpa pamrih telah berjuang dengan gagah berani untuk kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan Indonesia bukan hadiah, bukan gratisan dari para penjajah rakus mlentus. Kita semua saat ini hanya tinggal mempertahankan, mengisi dan memajukan bangsa Indonesia. Bukan sekedar menikmati seperti kenyataan saat ini! Coba kita lihat, begitu luhur cita-cita para pendahulu bangsa ini dan itu bisa dirasakan pada kalimat teks proklamasi yang dibacakan pada waktu itu.
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan  dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta
Kalimat singkat teks proklamasi yang dibacakan saat itu memang singkat, tapi perlu pergorbanan harta, nyawa dan didapat pada waktu yang panjang untuk mendapatkannya. Bukan seperti mie instan, tinggal buka bungkusnya, masukan kedalam air panas, aduk dan makan.  Kemudian setelah teks proklamasi tersebut daitas, saya pribadi semakin bangga menjadi orang Indonesia ketika membaca cita-cita luhur pada Pembukaan UUD 45, seperti dibawah ini:
"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."

"Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur."

"Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya."

"Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada:
Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia."  (sumber: UUD 45)
Teks proklamasi dan isi Pembukaan UUD 45 begitu sarat makna dan dalam. Bisa dipastikan meskipun tidak hidup dijaman itu, akan merasakan begitu cintanya para pendahulu bangsa Indonesia dan begitu perhatiannya mereka pada anak cucu bangsa Indonesia yang hidup dikemudian hari. Ketika membaca Pembukaan UUD 45 warisan para pendahulu bangsa Indonesia, rasa bangga semakin tumbuh karena menjadi orang Indonesia.

Namun semua sirna, hilang dan terbang ketika saat ini kita bangun dari tidur. Disana ada ketidakpuasan, di kanan ada pembunuhan, di kiri ada berita korupsi, dan dimana-mana tentang kabar yang bertolak belakang dengan cita-cita murni para pendahulu bangsa Indonesia. Saya berani katakan para pendahulu bangsa Indonesia benar-benar murni berjuang, berbuat dan berkarya demi bangsa, bukan demi kelompok, suku, agama atau golongan. Coba lihat dan tatap kenyataan saat ini! Apa dan bagaimana kondisi bangsa Indonesia saat ini? Seketika perut terasa mual, bila melihat kondisi bangsa Indonesia saat ini. Jauh dan lari dari cita-cita proklamasi yang tertera pada Pembukaan UUD 45. 

Kemudian semakin mual dan malu, ketika melihat bangsa ni dijadikan bulan-bulanan para manusia kerdil bangsa Indoensia sendiri. Berpikiran cupet hanya demi kepentingan diri sendiri, menjajah bangsa sendiri dengan dusta dan korupsi. Alih-alih demi rakyat, demi bangsa, padahal kenyataannya disana-sini semua berantakan. Hutang menggunung ditengah kekayaan alam bangsa yang berlimpah. Cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia kini tinggal mimpi belaka, hanya tinggal coretan teks diatas kertas tak bermakna. 

Perasaan malu jadi orang Indonesia mulai tumbuh, apalagi melihat data hutang bangsa ini masuk pada lima belas digit, yaitu hampir 2000 triliyun. Malu jadi orang Indonesia, karena Indonesia bangsa banyak hutang, bangsa Indonesia saat ini mudah marah dan saling bersitegang demi kepentingan kelompok, bangsa Indonesia saat ini senang bermimpi dan dipuji serta dikibuli oleh liciknya globalisasi dunia dan banyak lagi lainnya. Malu sebagai bangsa Indonesia kan menjadi-jadi dan bertambah, bila kemudian membaca buku kumpulan puisi berjudul: AKU (MALU) JADI ORANG INDONESIA, karangan Taufik Ismail.

Berkaitan dengan jelang peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia, rasa bangga timbul dan muncul kembali. Namun kemudian malu dan sangat geram serta emosi, bila melihat kenyataan saat ini. Mereka bukan mengisi kemerdekan bangsa Indonesia sesuai dengan cita-cita kemerdekaan, tapi dengan korupsi, kolusi dan nepotisme berkepanjangan, sikut kanan sikut kiri demi jabatan, suap kiri suap kanan demi si pirang. Malu..malu, jadi malu Indonesia saat ini, namun apalah daya, sepertinya harus bersabar dan coba untuk tidak bergabung dengan mereka yang tidak tahu malu. 

Demikian tulisan bangga dan malu jadi orang Indonesia. Mudah-mudahan kelak Bangsa Indonesia tidak ada lagi orang-orang yang memalukan, agar tidak lagi ada yang merasa malu jadi orang Indonesia. Sekian dan terima kasih peace! Merdeka!!!

0 comments:

Poskan Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!