Searching...
Rabu, 03 Juli 2013

Mampukah Hary Tanoe Dobrak Tradisi Kepemimpinan Indonesia?

Mampukah Hary Tanoe Dobrak Tradisi Kepemimpinan Indonesia?
Mampukah Hary Tanoe dobrak tradisi kepemimpinan Indonesia yang selama ini dikuasai oleh kepemimpinan beragama Islam dan  asli pribumi. Boleh  dan sah saja bila Hary Tanoe ingin mendampingi ketua umum partai Hanura sebagai calon wakil presiden, tapi apa tidak terburu-buru dan terkesan bernafsu? Awalnya saya pikir Hary Tanoe tidak bernafsu pada jabatan itu, namun ternyata dia akan menjadi wakil presiden mendampingi Wiranto di pilpres 2014. Bila memang terpilih, mungkin Hary Tanoe orang pertama yang menjadi pendobrak tradisi kepemimpinan di Indonesia.

Ini saya tulis ketika melihat ambisi politik Hary Tanoe diluar dugaan, yaitu ingin menjadi wakil presiden. Rumor bubarnya Hary Tanoe dengan parta Nasdem tenyata jadi jelas dan terang, lalu kemudian bergabung ke partai Hanura dan dengan mendirikan Perindo lalu mendeklarasikan diri akan menjadi wakil presiden pada pilpres 2014 mendatang. Apakah tidak terlalu cepat dan sangat terbaca cara berpolitiknya? Mungkinkah dengan sederet artis dan aktornya, maka Hary Tanoe akan berhasil dobrak tradisi kepemimpinan Indonesia?

Benar memang saat ini tidak ada lagi sitilah keturunan atau pribumi, seperti apa yang terjadi di Jakarta, ketika wakil gubernurnya adalah Ahok. Namun perlu diingat, pengalaman Hary Tanoe hanya berbisnis dan sangat berbeda dengan Ahok. Itu bisa dilihat dari perjalanan hidup dan politik yang dimulai di partai Nasdem pertama kali, lalu kemudian entah karena ditolak atau tidak cocok dengan Surya Paloh lalu keluar dan kemudian hijrah ke Partai Hanura dengan membawa bendera Perindo.

Menurut saya perjalanan politik Hary Tanoe yang mendadak perduli dengan rakyat Indonesia begitu mudah dibaca dan tidak jauh dari cara berpolitik jaman dulu. Dimana tebar pesona dan sembako jadi andalan utama. Padahal bila dicermati, kemana Hary di tahun-tahun sebelumnya ketika itu? Bukankah tidak pernah terdengar nama dan terlihat jejaknya kecuali baru-baru ini di kancah politik nasional. Coba kita ingat lagi, slogan basmi korupsi, tegakkan keadilan dan jadikan negara ini adil dan makmur mungkin sudah menjadi kata-kata atau simbol usang jaman dulu. Dan itu menjadi kata-kata membosankan mata ketika sedang menonton televisi.

Bisa jadi nafsu Hary Tanoe menjadi wakil presiden mendampingi Wiranto adalah kepercayaan diri berlebihan. Hal itu bisa diihat dari terbentuknya Perindo dan setelah bergabung dengan partai Hanura, Hary Tanoe mendadak jadi perduli pada kesengsaraan rakyat Indonesia. Dimana ada bencana atau pun tidak, Hary kerap datang dengan tentengan sembako penarik simpati masyarakat yang didatangi. Begitu pun dengan tayangan iklan mencuri start kampanye partai Hanura di seluruh televisi milik Hary Tanoe bukan main seringnya melebihi tayangan iklan dan sinetron. Persis sekali ketika iklan SBY di tahun 2004 dan 2009 waktu itu. Masih ingat bukan iklan anti korupsi dan sebagainya banjir di RCTI waktu itu?

Satu hal yang membuat saya kagum adalah, Hary Tanoe sepertinya sangat paham dengan iklim dan sifat masyaarakat Indonesia, yaitu sangat mudah dibohongi dengan sembako dan memilih oleh sebab popularitas , entah itu artis atau siapaun yang sering muncul di layar kaca televisi. Apalagi beberapa media televisi dikuasai oleh Hary Tanoe, ini akan menjadi lawan berat bagi pasangan capres lainnya, kecuali bila Jokowi mau dijadikan calon Presiden atau Wakil Presiden. Untuk pasangan partai lain tidak akan mampu bersaing dengan pasangan cerdik Wiranto-Hary Tahoe. 

Dimana letak kelebihan pasangan Wiranto dan hary Tanoesudibyo pada piplres mendatang? Mungkin beberapa  perkiraan dibawah menjadi faktro andalan mereka berdua untuk menjadi kandidat calon presiden dan wakil presiden di pilpres mendatang, seperti dibawah ini:
  • Jaringan politik partai Hanura akan semakin kuat berkat bergabungnya Hary Tanoe sang penguasa beberapa stasiun televisi swasta di Indonesia. Mungkin jaringan bentukan Hary Tanoe dengan Perindonya akan membuat dukungan pada partai Hanura akan bertambah besar, karena di dalam Perindo banyak artis dan aktor yang tentunya memiliki fan (meskipun bukan pendukung). Disini letak kecerdikan Hary Tanoe dengan Perindonya dan kemudian bergabung ke salah satu partai politik, dan ternyata partai itu adalah partai hanura. Dengan Perindo Hary Tanoe bebas untuk melakukan aksi sosialnya, meskipun kemudian nyata sekali Perindo hanyalah alat Hary Tanoe untuk kampanye lebih awal dibanding calon atau partai lainnya.
  • Jaringan politik Hary Tanoe akan didukung oleh para artis yang hidupnya dimotori oleh beberapa stasiun televisi dan jaringan perusahaan milik Hary Tanoe. Tentu saja akan banyak massa pendukung yang akan diraup oleh partai Hanura, terutama Hary Tanoe. Massa itu adalah para fans artis penyanyi, pemain sinetron dan para pecinta musik, sinetron dan gosip di seluruh Indonesia. Bukan rahasia lagi, disela-sela acara menarik pasti diselipkan berita mengenai kunjungan Hary Tanoe dengan perindonya atau ketika dengan partai Hanuranya di beberapa daerah, terutama daerah yang terkena bencana. Tentu saja bagi kita yang mengerti semua itu hanya sekedar trik politik pamrih, memberi sedikit meminta banyak nantinya. Namun tidak bagi masyarakat Indonesia di daerah atau di pelosok sana, bisa dipastikan mereka memilih karena orang itu sering muncul di layar televisi, meskipun tidak tahu siapa sebenarnya yang dipilihnya itu. Satu Nikita Willy akan membawa suara sekian ribu, belum lagi Olga Syahputra dengan berjuta fans di seluruh Indonesia. Saya tidak yakin, Olga tidak mendukung Hary Tanoe yang telah menjadikannya besar.
  • Satu hal ini masih menjadi senjata ampuh penarik suara, yaitu tebar pesona dengan bantuan atau minimal sebungkus sembako untuk mendapat dukungan. Ini dijalankan oleh Perindo, bukan partai Hanura agar tidak menuai protes dari partai lain sebagai nyolong start. Bagaimana tidak kelihatan mencuri start, tiap ada acara Perindo disitu ada partai Hanura, lalu semua akan disiarkan ke seluruh Indonesia melalui jaringan televisi milik Hary Tanoe. Hampir tiap hari pasti ada berita tentang Perindo atau partai Hanura, tapi tidak untuk partai atau calon presiden lainnya. Bagaimana masayarakat tidak akan terpengaruh, bila setiap hari melihat wajah, nama dan lambang dari Hary Tanoe dan Partai Hanura?

Tiga hal diatas saja sudah bisa dijadikan andalan Wiranto-Hary Tanoe dan pastinya sangat berat bagi pasangan lainnya, kecuali seperti saya tulis diatas, yaitu Jokowi mau jadi calon presiden atau wakil presiden. Untuk pasangan lain sepertinya berat, bila nama Jokowi tidak jadi pasangannya! Bayangkan saja, saat ini hanya Wiranto-Hary Tanoe yang kemunculan di layar kacanya  tidak bisa dihitung. Partai atau tokoh lain bisa dihitung dengan jari kemunculannya dilayar kaca.

Kembali pada mampukah Hary Tanoe dobrak tradisi kepemimpinan Indonesia, sepertinya kemungkinan itu ada dan besar. Untuk dukungan minoritas dan dari agama lain pasti akan diperoleh, tapi akan sulit mendapat dukungan masyarakat Indonesia 'mayoritas'. Saya melihat sepak terjang politik Hary Tanoe ternyata mengejar sesuatu, yaitu untuk menjadi wakil presiden. Bagaimana jadinya, bila jabatan diinginkan, dikejar dan bukan mandat rakyat secara suka rela atas kemampuan dan perjuangannya dalam membangun bangsa. Membangun usaha bisnis berbeda dengan membangun bangsa ini yang perlu itikad, kejujuran dan ketulusan tanpa perlu disebut. Satu lagi nyanyian usang basmi korupsi, teriakan partai bersih dan seriosa adil serta makmur tidak lagi bisa mempengaruhi pemilih yang berpikir.

Sebagai penutup,  "Mampukah Hary Tanoe Dobrak Tradisi Kepemimpin Indonesia?" pastiya akan diketahui setelah pilpres mendatang, bila saat ini hanyalah dugaan dan terkaan semata. Bisa iya dan tidak, bila Hary Tanoe tidak akan mendapatkan dukungan 'mayoritas' masayarkat Indoensia, meskipun disana ada Wiranto. dan segudang artis serta fansnya. Kita lihat saja nanti, apakah pilpres mendatang akan mendapat perlawanan dari pasangan lainnya? Menurut saya hanya satu yang bisa mengalahkan kelebihan Wiranto-Hary Tanoe, yaitu Jokowi bila ikut di Pilpres 2014. Bila tidak, ya siap-siap saja Indonesia dipimpin oleh orang yang menginginkan posisi Presiden dan wakil presiden. Disanalah nanti, masyarakat Indonesia akan diuji kecerdasannya dalam memilih. Thank, peace!

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!