Searching...
Kamis, 20 Juni 2013

Lanjutan Apa Beda Kabinet Masa Orde Baru Dengan Masa Kini?

Lanjutan artikel apa beda kabinet masa orde baru dengan masa kini? Ini adalah sambungan dari tulisan sebelumnya disini
 Apa dampak, baik dari dalam maupun luar negeri, dari kabinet baru ini?
Lanjutan Apa Beda Kabinet Masa Orde baru dengan masa KiniSaya kira pemerintah-pemerintah asing agak bingung menghadapi keadaan ini. Umpamanya para pejabat Washington ataupun Tokyo. Mereka mengharapkan adanya indikasi dari Pak Harto bahwa ada sedikit keterbukaan untuk perubahan. Dan mereka juga harus memutuskan masalah bantuan berdasarkan atas potensi reformasi. Dan sekarang ini mereka jelas kecewa.
Pemerintah AS sangat kebingungan, karena mereka betul-betul mau menolong Indonesia. Namun mereka tidak tahu harus berbuat apa. Jelas, bahwa reformasi tidak mungkin dilakukan dengan pemerintahan semacam ini. Mungkin saja Washington memutuskan akan tetap memberikan bantuan. Tetapi saya tahu, karena saya sendiri ditelepon, bahwa mereka merasa tidak tahu harus berbuat apa. Kalau mereka memberi banyak uang kepada pemerintah ini, apa bisa diharapkan terjadinya suatu reformasi? Dan ada ketakutan uangnya dikorupsi?
Ya. Menurut saya, kemungkinan besar uang itu akan hilang cepat sekali. Kalau mau memberi bantuan, serahkan saja uang itu kepada mereka yang berada di luar pemerintah, misalnya lewat LSM. Ini supaya uang ini benar-benar hanya untuk menolong rakyat. Jangan lupa, kalau uang bantuan IMF yang dikasih itu mungkin tidak akan sampai ke Indonesia, karena mungkin malah masuk ke bank di AS. Ini memang cukup sulit juga. Kalau memikirkan struktur dunia sekarang ini, kita akan depresi. Tetapi saya kira, orang-orang di Washington ataupun di Tokyo mengerti betul bahwa kabinet ini sulit sekali.
Apakah menurut Anda, kabinet baru ini akan mampu mengatasi krisis Indonesia sekarang ini ?
Sama sekali tidak. Malah kepentingannya sendiri saja yang akan dipikirkan. Untuk mengatasi krisis ini, para pemimpin sekarang malah harus membentuk institusi-institusi yang akan melakukan kontrol atas pemimpin sekarang. Namun ternyata mereka tidak mau. Coba Anda pikirkan kalau pemerintah betul-betul setuju untuk menghapus monopoli. Maka yang akan menderita adalah orang-orang di pemerintah sendiri. Apa Bob Hasan akan setuju dengan kebijakan itu ? Mereka bilang menghapus monopoli, tetapi kemudian memberikannya kepada orang lain lagi. Politik macam apa ini ? Dan Bob Hasan mengatakan bahwa kalau monopoli itu untuk keperluan rakyat, maka pemerintah harus memberlakukan monopoli itu.
Menurut Anda?
Ya. Apalagi kalau kita melihat diumumkan bahwa proyek triple decker-nya Tutut dilanjutkan. Ini bagaimana? Ini yang menyebabkan Jepang, Amerika, Inggris, dan negara lain agak bingung, karena mereka sebenarnya tidak mau menyerah pada keinginan Indonesia. Namun mereka tidak mau menjauhkan diri dari Indonesia yang mereka anggap terlalu penting bagi mereka. Dan mungkin inilah yang dipikirkan Pak Harto. Mereka akan merasa terpaksa untuk menolong Indonesia. Dan dalam hal ini, saya kira Pak Harto salah.
Salahnya?
Karena dia salah dalam menafsirkan apa yang sedang dipikirkan Tokyo, Washington, dll. Mereka mungkin memang akan merasa terpaksa untuk memberi bantuan. Tetapi belum tentu bantuan itu cukup, dan belum tentu bantuan itu bantuan yang serius. Karena yang dirasakan sekarang di Washington, mereka frustasi dan marah. Mungkin mereka mau menunggu saja. Mereka pikir toh Pak Harto sudah cukup tua .
Apa yang bisa dilakukan agar pemerintah Indonesia melakukan reformasi?
Ini terlalu sulit. Di dalam suatu sistem politik, di mana tentara menyokong sistem ini, pada akhirnya senjata atau bedil yang akan dipakai. Bedil itu merupakan alat politik yang fundamental. Sehingga sulit untuk memaksakan suatu perubahan. Karena tidak ada satu, dua, tiga, atau empat organisasi rakyat di Indonesia yang bisa memaksakan perubahan. Pada akhirnya, Orde Baru ini menciptakan suatu keadaan yang hanya bisa menolong elit politik. Sejak dulu sistem politik dan ekonomi Orba memang tidak dimaksudkan untuk menolong rakyat, melainkan malah memandang rakyat sebagai suatu alat, sebagai suatu sumber, setidaknya sebagai sumber buruh.
Rakyat dijadikan komoditi?
Ya. Akibatnya, dari sudut sejarah Indonesia, ini merupakan suatu keadaan yang payah. Sistem pemerintahan yang begitu, memang tidak bisa tahan lama. Pada akhirnya mereka akan runtuh. Tetapi tetap akan cukup sulit untuk menggoyangnya, karena rejim ini tidak mengijinkan adanya pengalaman politik di dalam masyarakat. Mereka tidak mengijinkan menyebarnya informasi yang perlu, tidak mengijinkan berkembangnya organisasi politik, di mana orang-orang bisa mulai memikirkan tanggung jawab politik. Akibatnya seperti sekarang. Orang yang sangat mampu seperti Gus Dur, Amien Rais, terpaksa hanya berteriak saja. Menurut saya, sekarang ini hanya sedikit pemimpin politik yang mempunyai rasa tanggung jawab.
Lalu apa agenda yang harus dilakukan rakyat Indonesia?
Menurut saya, mendesak supaya kabinet baru ini betul-betul bekerja dengan baik, tidak ada gunanya. Meskipun demikian memang tetap harus dituntut. Kabinet ini tidak bisa berbuat apa-apa karena orang-orangnya memang tidak tepat. Kalau mau reformasi, kalau mau ekonomi dan politik membaik, harus diangkat orang-orang yang betul-betul tahu tentang ekonomi.
Apakah menurut Anda kabinet harus dirombak?
Sebetulnya, ya. Tetapi memang dengan sendirinya orang-orang akan menuntut supaya kabinet sekarang ini juga bisa bekerja dengan baik. Tetapi menurut saya, kabinet ini tidak akan bisa bekerja dengan baik. Apa seorang Bob Hasan akan sekonyong-konyong berubah sikap ? Ini tidak mungkin.
Apa yang harus dilakukan kabinet sekarang ini?
Agenda pertama adalah menolong orang yang kelaparan atau mereka yang sulit mencari makan. Kedua, mereka harus memikirkan soal pengangguran. Ketiga, mereka memikirkan bagaimana mengatasi masalah keuangan ini. Tetapi untuk mengatasi soal ekonomi yang mendasar, mereka harus mencari bantuan dari luar negeri atau rela melepaskan uang dari kantong sendiri . Nah, apa Pak Harto dan keluarganya rela kalau misalnya paling sedikit menyerahkan 30 milyar dollar AS untuk menolong ekonomi ini. Apa Ginanjar rela ? Apa Pak Habibie rela ? Ada banyak orang kaya di Indonesia. Kalau Bob Hasan betul-betul mau menolong, dia punya banyak uang untuk menolong banyak orang. Saya mau bertaruh bahwa mereka tidak akan melepaskan kekayaaannya.
Toh kalau semua menteri kabinet menyumbangkan uangnya, apakah uang itu cukup untuk mengatasi krisis di Indonesia ini ?
Memang tidak. Tetapi paling sedikit dengan uang itu bisa memberi makan pada rakyat. Kalau betul-betul mau mengatasi krisis, harus dipakai orang-orang yang ahli. Ada ekonom yang betul-betul mengerti. Panggil kembali orang seperti Mar’ie Muhammad, Soedrajad atau Widjojo Nitisastro. Atau bahkan Sadli. Sadli cukup marah sekarang. Tetapi sekitar enam atau delapan bulan yang lalu, Sadli masih merasa bahwa keadaannya cukup baik.
Menurut saya, masih ada orang-orang yang mampu, yang jujur, dan yang bisa bekerja dengan baik. Tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang masuk dalam kabinet. Mar’ie Muhammad sebetulnya disingkirkan. Sehingga saya tidak melihat kemungkinan adanya harapan bahwa rejim ini akan berakhir, dan digantikan dengan suatu rejim atau suatu kabinet yang sedikit lebih bertanggung jawab.
Kekuatan seperti apa yang bisa mendorong perubahan?
Ini memang sulit. Sebenarnya ada tentara. Tetapi tentara terpecah dan tidak berbuat sesuatu, terkecuali merasa terpaksa betul. Pak Harto, sebagai pemain politik memang luar biasa. Saya tidak melihat sesuatu kekuatan pun, bahkan yang dari luar negeri juga tidak bisa memaksakannya.
Jadi putus harapankah rakyat Indonesia untuk melihat suatu perubahan?
Kalau sekarang ini memang ya. Para pemimpin rakyat mulai hilang. Harapannya sekarang hanya pada Tuhan. Sayangnya Tuhan tidak masuk dalam kabinet.
Sumber artikel: http://www.tempo.co.id/ang/min/03/03/utama5.htm 
Bagaimana setelah membaca wawancara TEMPO dengan Daniel S. Lev, semoga artikel lawas ini menjadi pembelajaran bagi kita semua. Saat ini atau pun waktu waktu itu, ternyata hanya beda-beda tipis dikulit dan judulnya saja. Pada kenyataannya sama, dan lebih parah lagi, karena saat ini lebih mudah rusuh dan tersulut, mudah protes, mudah segala-galanya demi kata demokrasi samar.

Saya tidak tahu tulisan saya sebelumnya itu telah lebih dulu keluar ditahun 1998, dan juga tulisan mengenai Indonesia menunggu pertolongan Tuhan tidak terinspirasi oleh artikel tersebut diatas, hanya intuisi dan curhat saja. Saya kaget dan tidak percaya bila membaca artikel ditahun 1998 ternyata hanya satu dua dengan kondisi saat ini, maka itu saya muat ulang agar kita semua lebih hati-hati dalam memilih, lebih banyak pertimbangan siapa dan siapa yang harus dipilih, serta tidak lagi mau dibohongi oleh janji manis plus sebungkus sembako atau amplop. Demi Indonesia apapun akan saya lakukan, karena saya cinta Indonesia dan kita semua adalah saudara. Terima kasih, Peace!!

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!