Searching...
Selasa, 18 Juni 2013

Indonesia Menunggu Pertolongan Tuhan

Indonesia Menunggu Pertolongan Tuhan
Negeri tercinta Indonesia sepertinya menunggu pertolongan dan belas kasih Tuhan, agar jadi negeri makmur, adil dan sejarhtera. Kalimat itu adalah rasa frustrasi melihat kondisi Indonesia saat ini, yaitu ketika melihat perjuangan sia-sia demi menolak kenaikan harga BBM kemarin. Sedih melihat wakil rakyat tidak lagi mewakili aspirasi rakyatnya, lesu melihat mereka beradu sandiwara demi golongan dan bukan demi rakyat. 

Indonesia berdiri bukan karena adu mulut, bukan juga akibat kekuatan dan kepentingan golongan. Indonesia berdiri dan merdeka hasil dari perjuangan kakek dan nenek kita semua dulu, bukan pula pemberian atau hadiah dari asing. Para pejuang rela berkorban demi negara ini dengan harta, darah dan nyawa, tapi kini lihatlah apa yang terjadi di Indonesia. Gemerlap kesejahteraan, kedamaian dan kemakmuran hanyalah sekedar ilusi belaka. Negeri ini dibuat tak sadarkan diri, bila dulu tidak mudah untuk mengibarkan bendera merah putih sebagai lambang Indonesia merdeka.

Sadarkah bapak-bapak dan ibu-ibu yang terhormat, Indonesia sekarang bukan Indonesia yang dulu (maaf bukan lagu tegar!). Cepat marah, cepat emosi dan cepat tersulut, entah tiu demi kepentingan rakyat, golongan ataupun perseorangan. Siapa yang salah dan siapa yang memulainya? Tidakkah malu, bila saat ini Indonesia menjajah Indonesia, saudara saling diadu untuk suatu kepentingan golongan atau kelompok. Dimana dan kemana keramahan serta kearifan bangsa Indonesia yang terkenal itu?

Kenaikan BBM sebenarnya bukan masalah, asalkan memang benar-benar demi rakyat dan demi kemajuan bangsa Indonesia. Semua cerita demi rakyat, tapi bila dilihat dan dicermati semua itu hanyalah nyanyian hambar. Kenapa saya berani menulis demikian? Coba saja bayangkan, dari semenjak merdeka di tahun 1945 hingga sekarang Indonesia tetap berjalan ditempat, padahal Indonesia jauh lebih kaya dari Thailand atau Amerika Serikat sekalipun. Nah kenapa sampai saat ini Indonesia bangga dengan sebutan negara berkembang dan tidak pernah ingin beralih menjadi negara maju dengan kehidupan rakyatnya yang adil dan makmur. Tidak pernah! dan Tidak akan, kecuali atas pertolongan Tuhan.

Satu contoh nyata ketidak seriusan para pemimpin Indonesia dalam memajukan bangsa ini adalah hutang semakiin bengkak, korupsi jalan terus, teriakan rakyat tidak diperdulikan. kalaupun perduli, itu bukan untuk rakyat. Bila untuk rakyat, rakyat yang mana? Rakyat yang mau dibodohi sembako atau rakyat yang nanti akan dinina bobokan oleh kompensasi kenaikan BBM. Tuhan, tolonglah negeri ini, beri negeri ini jalan untuk lebih baik. Kami tidak lagi bisa berharap banyak dengan para pemimpin saat ini, kecuali atas kehendak-Mu ya Tuhanku.

Kompensasi tidaklah seberapa, bila dibanding dengan manfaatnya. Rakyat jadi malas dan nantinya rakyat pemalas dan peminta-minta akan berhadapan dengan rakyat yang mengerti dan ingin bangsa ini maju. Bukankah itu memposisikan rakyat berhadapan dengan rakyat? Kalau naik, ya naik saja! jangan ada korupsi, jangan ada manipulasi atau kenaikan BBM demi negara si tuan rakus. Saya, anda dan siapapun pasti menerima itu, bukan seperti sekarang ini. Para pemimpin kuatir bila tidak ada kenaikan BBM, maka Indonesia akan semakin terpuruk. Pertanyaannya, berapa kali naik dan berapa subsidi sudah dicabut ko hutang hampir mencapai 2000 triliyun rupiah. Bukannya hutang Indonesia semakin berkurang, malah semakin semakin aduhai. Anak yang belum lahir 25 tahun lagi mungkin harus menanggung hutang Indonesia.

Kenapa Indoensia negara besar dan kaya, tapi miskin bukan kepalang karena banyak hutang? Saya yakin Tuhan Maha Tahu, dan Maha Bijak menentukan siapa-siapa yang bertanggung jawab atas kekacauan Indonesia. Ayolah bapak-bapak dan ibu-ibu yang terhormat, kasihani kami generasi yang akan menanggung kekacauan ini nantinya. Tidakkah ada pelajaran berharga selama 32 tahun menelan pengalaman pahit Indonesia? Kenapa dalam kurun waktu 15 tahun sudah kacau balau. Rakyat beradu dengan rakyat, demo dimana-mana setiap saat dan setiap waktu bila dirasa tidak puas dengan keputusan atau kebijakan. Korupsi merajalela tanpa malu dan masih menyebut nama Tuhan sebagai pelindung dengan lambaian tangan minta dukungan dan senyuman memuakkan.

Kita sudah lelah dengan taburan janji manis, nyanyian basmi korupsi dan sebagainya, lalu akhir-akhirnya cari kerja susah, cari makan harus berbuat jahat dan sebagainya pula. Seperti kejadian kemarin, itu benar-benar memalukan, karena menggambarkan tidak ada lagi arti wakil rakyat. Mereka yang terhormat teruas membenturkan palu keputusan kenaikan BBM, padahal rakyat menjerit dan menolak. Menurut saya bapak dan ibu yang terhormat di dewan sana tidak lagi berpihak kepada rakyat, bila membiarkan rakyat berteriak dan baku hantam dengan rakyat berseragam dan bersenjata.

Salahkah saya menuliskan ini? Salahkah saya melakukan protes lewat tulisan ini? Satu yang saya inginkan sebagai generasi muda, yaitu hidup damai apa adanya tanpa janji manis "tidak untuk korupsi", tapi anda dan anda lah yang korupsi. Kami perlu kejujuran, bukan nyanyian dan tebaran kompensasi ala penutup mulut. Seorang anak kecil saja malu ketika ketahuan berbohong, tapi kenapa kebohongan-kebohongan orang pintar berumur lebih dekat dengan liang lahat tidak lebih ada malunya meski nyata dan gamplang untuk dibaca? Ayo kita semua kembali, bapak-bapak dan ibu-ibu yang terhormat ingatlah kami-kami ini, pls jangan jadikan Indonesia sebagai lahan dan ladang politik semata tanpa tujuan demi mensejahterakan rakyat. Jangan jadikan Indoensia sebagai sawah ladang mengumpulkan kekayaan, agar bisa disebut orang terhormat dan untuk menjadi terhormat. Jangan jadikan kami sebagai tameng dan selalu diadu dengan saudara kami sendiri. Dengarkanlah kami wahai yang terhormat! Jangan biarkan negara ini menjadi negara Nombokdonk!!

Dibaca atau pun tidak tulisan ini, hanya ini yang bisa saya lakukan. Tidak dengan demo atau pun lemparan batu, tidak dengan mencaci atau melayangkan telur busuk. Jujur saya sedih melihat kejadian demo penolakan BBM kemarin, tidak kuat untuk tidak melalkukan protes dan saya merasa berbela sungkawa pada kenaikan BBM serta tidak merasa senang dengan kompensasi penutup mulut penyebab malas. Tuhan telah menyediakan apapun dan akan memberi rejeki bagi rakyat Indonesia tanpa kecuali, meski tidak ada dana kompensasi BBM. Lebih baik kerja keras tunggang langgang, ketimbang harus meletakkan posisi tangan dibawah demi dana kompensasi BBM.

Tahun 2014 akan terpilih para wakil rakyat dan pemimpin bangsa Indonesia yang baru. Bila hasilnya itu-itu saja, bisa dipastikan Indonesia hanya bisa berharap pada Tuhan, Indonesia Menunggu Pertolongan Tuhan dari keterpurukan akibat ketidakmampuan para tuan dan nyonya terhormat. Terima kasih, sekali lagi biarlah tulisan ini dianggap tidak realistis dan kuno karena tidak mengikuti jaman. Bagi saya, tidak realistis masa bodoh, asalkan masih punya idealisme dan kecintaan pada negeri ini. Dianggap kuno tidak mengikuti jaman juga masa bodoh, asalkan saya masih punya akal sehat dan jernih dalam melihat, berpikir dan berbuat. Atau mungkin saya dianggap bodoh dan tolol, tentu itu akan lebih baik daripada orang piintar berbuat tolol dan bodoh. Terima kasih, Indonesia negeriku dan Tuhan Pelindungku. Salam sebangsa dan setanah air, peace!!

0 comments:

Poskan Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!