Searching...
Rabu, 19 Juni 2013

Apa Beda Kabinet Masa Orde Baru Dengan Masa Kini?

Apa beda kabinet masa orde baru dengan masa kini ? Dimana letak perbedaannya? Silahkan disimak apa kata pengamat politik tentang kabinet jaman presiden Suharto pada waktu itu dan dimana letak perbedaannya selain perbedaan waktu dan jaman. Wawancara ini dilakukan di tahun 1998, tapi sepertinya isi wawancara itu tidak jauh berbeda dengan kondisi saat ini, meskipun berbeda masa.

Artikel ini adalah saduran dari tempo.co.id edisi 03/03 - 21/Mar/1998 tentang wawancara dengan Daniel S. Lev: "Kabinet Ini Hanya Menunggu Pertolongan Tuhan". Silahkan disimak dan dibaca artikel lawas , tapi menarik untuk dicermati dibawah ini:
Wawancara Daniel S. Lev:  "Kabinet Ini Hanya Menunggu Pertolongan Tuhan"
Apa Beda Kabinet Masa Kini dengan Kabinet masa orde baruSULIT. Itulah pendapat seorang pengamat politik Indonesia dari University of Washington, Daniel S. Lev, melihat peluang kabinet yang baru saja dibentuk untuk mengatasi krisis. Masuknya Tutut, putri sulung Soeharto, Bob Hasan "si Raja Kayu", Hartono, dan tokoh-tokoh yang dekat dengan "istana" lain dalam jajaran kabinet ini dianggap pakar soal Indonesia itu sebagai memupuskan harapan rakyat Indonesia untuk melihat masa depan yang lebih cerah.
Meskipun demikian, penulis buku "Transition to Guided Democracy : Indonesian Politics" ini juga menyatakan kepada Purwani Diyah Prabandari dari TEMPO Interaktif pada Senin (16/3) lalu, bahwa Soeharto akan gagal melanggengkan kekuasaannya. Rejim ini sudah terlalu tua. Rejim ini juga kelihatan sekali kalau sudah tidak mendapatkan dukungan ataupun legitimasi publik. Sehingga wajar kalau Presiden Soeharto meminta MPR untuk memberikan kekuasaan yang lebih besar – dengan Tap MPR soal pelimpahan kekuasaan -- untuk meyakinkan kelangsungan kekuasaannya. Dan wajar pula ketika dia memilih orang-orang terdekatnya untuk melindunginya dengan barisan menteri kabinet.
Menurut Lev, rakyat Indonesia tidak bisa berharap untuk melihat perubahan dengan kabinet ini. Sehingga mereka terpaksa hanya berharap pada Tuhan. "Sayangnya Tuhan tidak masuk dalam kabinet Soeharto ini," seloroh profesor dari Cornell University ini.
Bagaimana Anda melihat kabinet baru sekarang?

Sekarang ini Indonesia mempunyai masalah yang sangat sulit. Jelas sekali kelihatan, elit politik seperti Pak Harto dan beberapa pejabat, tidak peduli akan nasib negara dan masyarakat.
Menurut Anda, apa yang sebenarnya dia inginkan?

Menurut saya, keinginan Pak Harto cukup jelas. Yang kelihatan sekali dalam kabinet ini, Pak Harto membentuk semacam benteng. Dan benteng itu untuk menjaga, bukan hanya keluarganya dan kekayaan diri sendiri. Dia juga ingin membentengi elit yang dia bentuk. Sebuah elit yang sangat kecil, dan yang hanya memikirkan kepentingannya sendiri.
Apa ada kemungkinan skenario, dia ingin melanggengkan atau meneruskan kekuasaan ini untuk keluarganya?

Ya. Tetapi dalam hal ini, saya kira dia tidak akan berhasil. Tetapi memang jelas itu maksudnya.
Kenapa tidak berhasil? Rejim sekarang ini adalah rejim yang sama sekali telah kehilangan kepercayaan. Dan rejim ini sebetulnya sudah mati. Hanya saja tidak ada penggantinya. Ini yang sulit. Saya kira banyak orang yang di dalam ABRI atau di lembaga lain, termasuk beberapa menteri, sudah tahu realita ini dan tidak sependapat dengan dia.
Apakah Anda masih percaya adanya potensi dari kelompok ABRI atau juga menteri yang berani bicara "tidak" terhadap Presiden Soeharto?

Saya tidak tahu. Tetapi potensi memang ada. Pertama, karena mungkin ada orang yang terpaksa memikirkan hari depannya sendiri. Kedua, saya kira atau mungkin saya hanya mengharap, ada orang yang tahu betul bahwa keadaan ini tidak benar. Dan mereka juga tahu bahwa kepentingan masyarakat Indonesia ataupun kepentingan negara, sebetulnya telah diabaikan. Elit sekarang adalah suatu elit politik yang sudah tua, yang sudah terlalu biasa melayani diri sendiri, dan mungkin tak mampu lagi memikirkan kepentingan umum. Itu sering terjadi dalam sejarah. Suatu elit yang terlalu kuat, yang hanya mendasarkan kekuatannya atas kekerasan saja, seolah-olah mereka lupa akan kepentingan umum. Atau malah tidak bisa mengerti bagaimana memisahkan kepentingan umum dengan kepentingan diri sendiri .
Menurut Anda, apakah ada skenario bahwa Presiden Soeharto membuka jalan bagi Tutut untuk menjadi presiden mendatang, dengan diangkatnya putri sulungnya itu menjadi menteri?

Saya tidak tahu. Saya tidak tahu apa yang dipikirkan Pak Harto sekarang ini. Ada kemungkinan bahwa Tutut sendiri memang meminta kedudukan itu. Atau mungkin Pak Harto memang sudah capek. Saya pikir, Tutut sendiri merasa masih mempunyai banyak energi. Dan kelihatannya ia tahu itu tujuannya. Atau mungkin juga Habibie yang berpengaruh di situ.
Apakah Presiden Soeharto akan menjadikan Tap MPR yang memberikan wewenang yang luas baginya sebagai senjata untuk menyerahkan kekuasaannya kepada Tutut ataupun orang lain yang dipilihnya?
Bisa saja. Sekarang ini, Tap tersebut hanya menjadi semacam legitimasi. Selama ini, Pak Harto bisa berbuat apa saja. Rejimnya bukan suatu rejim yang banyak menghiraukan soal hukum. Sehingga Tap ini hanya sebuah legitimasi. Tetapi, inilah yang justru menunjukkan suatu kelemahan yang bukan main.
Kelemahan yang bagaimana?
Kelemahan dalam support. Kalau seorang presiden minta kekuasaan yang luar biasa, itu berarti bahwa dia sama sekali tidak percaya pada rakyat. Dia sedang memikirkan kepentingan diri sendiri. Kalau tidak, buat apa perlu kekuasaan yang begitu luas.
Apakah pemilihan Muhammad "Bob" Hasan merupakan upaya Presiden Soeharto untuk mendapatkan dukungan kelompok etnis Cina?
Sama sekali tidak.
Apa alasannya?

Karena Bob Hasan adalah seorang teman yang kuat. Dan Bob Hasan itu orang yang pintar dan dapat dipakai. Dia hanya merupakan alat. Jadi, ini bukan masalah etnis Cina. Kalau betul karena dia Cina, ada banyak orang Cina di Indonesia yang kemampuannya tidak dapat disangkal. Banyak orang Cina yang bertanggung jawab. Kalau Pak Harto serius, dia tidak akan mengangkat seorang teman karib.
Kabinet sekarang dipenuhi dengan orang-orang terdekatnya. Apakah ini memang benar-benar untuk melindunginya?

Ya. Memang itulah yang dia maksudkan. Ini juga menunjukkan bahwa dia merasa agak terkepung. Dia paham betul bahwa di dalam masyarakat, ada kemarahan atau kejengkelan. Tidak mungkin dia tidak tahu itu. Untuk itu, dia membentuk semacam benteng. Orang-orang yang masuk dalam kabinet, setidaknya ada yang merasa malu. Dan saya kira memang ada.
Sebenarnya saya agak terkejut ketika tahu Juwono menerima posisi dia sekarang, menjadi Menteri KLH. Ini gila. Sebetulnya saya kenal baik dengan Juwono. Saya sangat hormat pada orang itu. Dia memang seorang konservatif Tetapi dia pintar sekali dan cukup bertanggung jawab serta jujur. Harus dipertanyakan, apa yang Juwono tahu tentang lingkungan.
Ini sebagai indikasi apa?

Saya kira, ini menunjukkan bahwa Pak Harto sendiri sama sekali tidak peduli pada soal itu. Kabinet ini hanya dimaksudkan untuk memberi sesuatu kepada para pendukungnya. Itu saja. Jadi mereka dipilih bukan karena kemampuan mereka.
Mohon maaf, karena tidak bisa di upload, jadi artikelnya dipotong dan bersambung di "apa beda kabinet masa orde baru dengan masa kini berikutnya agar tuntas tas, terima kasih, harap maklum.

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!