Searching...
Kamis, 09 Mei 2013

Tidak Ada Untungnya Dekati Miras atau Minol

Tidak ada untungnya dekati miras atau minol
Tidak ada untungnya dekati  minuman keras (miras) atau minuamn beralkohol (minol)! Kalimat tersebut bukan saja pernyataan penulis, tapi mungkin juga penryataan seluruh masyarakat yang sadar akan dampak dari minuman keras atau minuman beralkohol terhadap kesehatan ataupun kehidupan sosialnya dikemudian hari. Tapi kenapa miras atau minol masih tetap ada dan digemari oleh sekelompok orang? Inilah yang menjadi masalah dan perlu perhatian seluruh lapisan masyarakat, terutama oleh pemerintah Indonesia, agar minuman keras atau minuman beralkohol tidak lagi menjadi perusak generasi  penerus bangsa ini.

Dampak miras atau minol pada diri sendiri dan lingkungannya memang tidak sedasyat dampak korupsi, kecuali hanya berdampak pada si pelaku yang mengkonsumsi miras atau minol itu saja dan lingkungan si pelaku berada (mungkin hampir sama dengan dampak narkoba). Tapi bila melihat korban yang telah berjatuhan akibat mengkonsumsi miras atau minol dikalangan generasi muda terutama remaja, sepertinya miras atau minol perlu mendapat perhatian dan ketegasan berbagai pihak, terutama ketegasan pemerintah dalam membatasi peredasan atau masuknya miras atau minol di Indonesia. Karena jelas dan banyak terjadi bahaya miras atau minol tidak saja pada diri si pecinta miras, tapi juga akan menimbulkan bahaya pada lingkungannya, seperti kecelakaan yang dilakukan oleh pengemudi yang sedang mabuk akibat miras atau minol.

Bagi masyarakat yang telah memiliki tingkat pemikiran dewasa dan matang, serta sadar dampak dari miiras atau minol tidak perlu lagi mendapat perhatian khusus, kecuali pada kelompok masyarakat yang belum memiliki tingkat kesadaran dan pola pikir dewasa atau matang tentang dampak yang akan ditimbulkan oleh miras atau minol, yiatu seperti: tingkat masyarakat kategori remaja. Pada masyarakat kategori remaja atau muda itulah yang perlu disosialisasikan mengenai dampak dan bahaya miras atau minol. Jadi pada kelompok inilah perlu 'waspada akan bahaya miras dan minol bagi remaja'. Lalu, bagaimana dengan sosialisasi terhadap orang dewasa yang mengkonsumsi miras atau minol? Untuk sosialisasi pada masyarakat kategori dewasa sebenarnya mereka itu telah tahu dampak dan bahayanya miras atau minol, jadi mereka itu bukan subjek yang perlu dan penting dalam sosialisasi dampak dan bahaya miras. 

Pada tulisan ini, saya lebih setuju sosialisasi tentang bahaya miras atau minol terhadap generasi muda (remaja) lebih digalakkan, karena pada usia tersebut belum menyadari bahaya miras yang sebenarnya. Menurut sumber yang pernah dan bahkan senang dengan miras atau minol, pada usia tersebut sangat rentan dan mudah untuk mencoba hal-hal baru. Umumnya pada kategori atau usia inilaih mereka mencoba, mulai dari gratis hingga akhirnya membeli secara patungan (urunan) bersama teman-temannya untuk sekedar mencari sensasi mabuk dan bergaya seperti 'jagoan koboy'. Mereka tidak menyadari hal coba-coba itu akan menjadi suatu kebiasaan, meskipun saya yakin setiap kelompak keluarga telah memberi tahu dan melarang anggota keluarga mendakati atau meminum miras atau minol.

Mengacu pada pertanyaan, "Sejauh mana pemahaman masyarakat akan bahaya miras bagi diri sendiri dan lingkungannya ?" Tentu jawabanya sederhana, yaitu setiap keluarga pastinya sudah tahu akan bahaya miras atau minol bagi diri sendiri dan lingkungannya. Jadi tidak mungkin rasanya seorang ayah, ibu, kakak atau suadara yang lainnya tidak tahu dan tidak akan memberi tahu akan bahaya miras bagi diri si peminum dan bahaya pada lingkungannya. Meski semua keluarga secara teori telah tahu dan mengerti bahaya miras, tetapi tetap saja masih ada yang menjadi korban dari miras. Entah itu berusia remaja ataupun yang telah dewasa.

Untuk mencegah bahaya miras atau minol, hal terbaik yang perlu dilakukan adalah pada ruang lingkup keluarga dan aturan tegas pemerintah mengenai pelarangan peredaran miras atau minol. Pada ruang lingkup keluarga, kondisi atau keadaan keluarga sangat menentukan terjadi atau tidaknya anggota keluarga mendekati atau menjadi pecinta miras atau minol. Umumnya miras atau minol menjadi alternatif pelarian bagi mereka yang memiliki keluarga tidak harmonis atau kacau. Pertama mereka hanya menikmati miras atau minol itu hanya sebagai pelarian dan akhirnya menjadi kecanduan, lalu kemudian tidak menghiraukan bahaya yang  akan ditimbulkan sebelum si pecinta miras atau minol ini jatuh sakit dan sekarat.

Tanpa perlu memberi nasehat ini dan itu bila lingkungan keluarga harmonis dan tidak kacau, maka kemungkinan besar anggota keluaraga tersebut tidak akan mendekati miras atau minol, apalagi mencintai miras atau minol. Kenapa saya bisa  menyimpulkan demikian? Begini, pada kondisi keluarga harmonis, maka kehidupan beragama, sosial, bermasyarakatnya dan lain sebagainya akan menjadi rambu yang membatasi anggota keluarga dengan miras atau minol. Berbeda dengan keluraga yang tidak harmonis atau kacau, tidak ada ketenangan bagi anggota keluarga tersebut, maka kemungkinan peluang mendekati miras atau minol menjadi lebih besar.  Siapapun yang mennjadi anggota keluarga harmonis pastinya tidak perlu mencari pelarian seperti anggota keluarga yang tidak harmonis. Jadi, disinilah pentingnya membina keharmonisan keluarga yang tentunya dilakukan oleh kepala keluarga (ayah dan ibu), karena pada situasi keluargalah penentu dari terlibat atau tidaknya anggota keluarga pada miras atau minol. 

Bila pada ruang lingkup keluarga telah berhasil menjauhkan setiap anggota keluarga dari miras atau minol, tentunya secara tidak langsung telah menjadi atau mensosialisasikan bahaya miras atau minol di masyarakat. Bagaimana bila keluarga itu tinggal di daerah yang banyak ditemui tempat-tempat atau lokasi peredaran miras? Menurut saya memang terkadang pengaruh lingkungan kemungkinan menjadi penyebab anggota keluarga mencoba dan bergaul dengan miras, namun tidak untuk keluarga yang harmonis. Lalu bagaimana memposisikan  keluarga harmonis pada lingkungan masyarakatnya, bila lingkungan masyarakat tersebut banyak beredar miras? 

Untuk menjawab pertanyaan terakhir diatas tidaklah mudah, karena mau tidak mau sebagai anggota masyarakat, lingkungan sekitar tempat tinggal keluarga harmonis berada juga menjadi tanggung jawabnya. Paling yang bisa dilakukan adalah menegur atau memperingatkan, untuk lebih dari itu sepertinya yang berperan haruslah pemerintah dengan aturan atau undang-undangnya yang melarang peredaran miras atau minol. Selama peredaran miras atau minol ada dan diperbolehkan entah dengan alasan apapun oleh pemerintah, maka bahaya miras dan minol tetap mengintai generasi muda penerus bangsa secara umum, generasi muda pada kelompok keluarga tidak harmonis pada khususnya.

Peran keluarga sebagai bagian dari masyarakat hanya sebatas mencegah, menjauhi dan menutup daerahnya pada peredaran miras atau minol. Untuk larangan peredaran miras atau minol oleh masyarakat  sebenarnya tidak akan effektif dan tidak akan membuahkan hasil, kecuali hal itu dilakukan oleh pemerintah dengan peraturan atau undang-undangnya. Perhatian dan keseriusan pemerintah dalam mencegah terjadinya bahaya miras lebih menentukan, barulah kemudian masyarakat ikut membantu di wilayahnya masing-masing. Bagaimana mungkin masyarakat melakukan pencegahan atau melarang peredaran miras atau minol, sedangkan miras atau minol tersebut mendapat ijin beredar dari pemerintah? Bukankah hal tersebut akan menimbulkan masalah baru atau sekelompok masyarakat yang sangat tidak suka pada miras akan melakukan tindakan melanggar. Ya, seperti sweeping oleh FPI dikala bulan puasa pada beberapa tempat hiburan malam. Bukankah hal yang dilakukan oleh FPI sebagai kelompok masyarakat telah benar bila melihat dari bahaya miras dan minol, apalagi bila mengacu pada hukum agama yang mengharamkan adanya miras atau minol? Disisi lain, apa yang dilakukan ketika sweeping miras oleh FPI itu bertentangan dangan peraturan dan hukum di negara ini. Akhirnya terjadi dilema antara yang setuju dan tidak setuju dengan sikap dan tindakan sweeping yang dilakukan oleh FPI. Bukankah kedua kelompok ini mengerti tentang bahaya miras atau minol?

Disitulah peran penting pemerintah dalam mencegah terjadinya atau timbulnya bahaya yang disebabkan miras atau minol. Tanpa campur tangan pemerintah, maka permasalahan miras atau minol hanyalah pepesan kosong yang diperdebatkan dari tahun ke tahun dan tidak akan pernah selesai , serta akan selalu menimbulkan korban. Entah itu korban harta, hingga korba jiwa akibat bahaya yang ditimbulkan oleh miras atau minol Untuk itu pemerintah tidak perlu lagi berpikir dan berlama-lama dalam membuat aturan tegas pada larangan peredaran miras atau minol jenis apapun. Entah untuk konsumsi hotel atau tempat hiburan malam, semua harus dilarang bila pemerintah memang serius dan tidak ingin generasi penerus bangsa ini terkena dampak dari miras atau minol.

Jadi, menurut saya pribadi permasalahan bahaya akibat miras atau minol yang membahayakan diri sendiri dan lingkungannya itu bukan saja menjadi tugas setiap keluarga atau masyarakat saja. Peran yang sangat berpengaruh pada pencegahan bahaya miras atau minol sebenarnya ada ditangan pemerintah, masyarkat atau keluarga tidak bisa berbuat apa-apa bila peredaran miras atau minol tetap mendapat dukungan pemerintah. Bagi pemerintah juga tidak ada untungnya dengan memberikan ijin peredaran miras atau minol, bila dikemudian hari generasi penerusnya menjadi korban miras atau minol. Paling sebagai masyarakat hanya bisa melakukan himbauan langsung atau tidak langsung atau sosialisasi seperti pada tulisan ini atau seperti lomba blog bertema 'waspada akan bahaya miras dan minol bagi remaja', selebihnya hanya peran pemerintahlah yang dapat menghentikan dan mencegah terjadinya bahaya miras atau minol secara total.

Apalah arti keuntungan pajak yang didapat pemerintah, bila dibandingkan kehancuran yang akan dialami oleh generasi penerus bangsa? Jadi sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, saya rasa pemerintah sebaiknya benar-benar melarang atau mencabut ijin dan tidak lagi memberikan alternatif bagi peredaran miras atau minol. Bila peredaran miras dan minol tidak ada, pastinya ruang untuk generasi penerus mencoba atau mendekati miras atau minol menjadi sempit dan bahkan tidak ada. Bilapun ada miras atau minol yang beredar, maka tentunya tidak seperti bila peredaran miras atau minol diijjinkan oleh pemrintah, hingga korbannya pun terbatas pada kelompok kecil yang memang sudah rusak.

Mudah-mudahan tulisan ini sebagai jawaban dari pertanyaan ,"Sejauh mana pemahaman masyarakat akan bahaya miras bagi diri sendiri dan lingkungannya?" dan "Bagaimana peran masyarakat dalam pernyebaran akan bahaya miras dan harapannya kepada pemerintah dalam mengkampanyekan serta menyikapi bahaya miras?" Untuk bahaya akibat miras atau minol pada kesehatan atau lainnya tidak saya buat secara detail, karena semua sudah tahu dan sudah banyak dibahas. Pada tulisan ini, saya hanya menulis 'tidak ada untungnya dekati miras atau minol' untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut. Karena memang bagi individu, kelompok keluarga, masyarakat dan pemerintah, miras atau minol lebih banyak keburukannya dibanding kebaikannya. Jadi untuk apa didekati atau diberi keleluasaan beredar di negeri ini? Ada satu kalimat penutup dan umum terjadi, semua anti miras pasti anti narkoba, tapi belum tentu semua anti korupsi. Semoga anti miras. juga anti korupsi. Jangan diambil hati, tak akan ada perubahan tanpa peringatan. Selamat berjuang anti miras. Sukses!

0 comments:

Poskan Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!