Searching...
Kamis, 02 Mei 2013

Maraknya Unjuk Rasa Potret Buruknya Kebijakan

Maraknya Unjuk Rasa Potret Buruknya Kebijakan
Maraknya unjuk rasa di negeri ini adalah gambaran atau potret buruknya kebijakan, entah itu kebijakan yang dibuat oleh legislatif ataupun eksekutif. Aksi unjuk rasa sepertinya menjadi pilihan, bila kebijakan atau aturan yang dikeluarkan oleh pihak legislatif ataupun eksekutif tidak sesuai. Mungkin negara lain yang lebih demokratis tidak pernah terjadi unjuk rasa sesering dan semeriah di Indonesia, bila pun ada seperti contoh di Yunani pada saat krisis euro 2012 atau Mesir ketika menggulingkan rezim Hosni Mubarak.. Lain dengan Indonesia, sedikit saja ada kebijakan yang tidak cocok atau tidak berkenan dengan suatu kelompok, golongan, apalagi bagi masyarakat umum, sudah bisa dipastikan akan terjadi aksi unjuk rasa.

Aksi unjuk rasa yang tercatat dalam sejarah negeri ini sebagai aksi unjuk rasa terbesar hanya ada dua, yaitu ketika aksi unjuk rasa pada tahun 1966 (tritura) dan aksi unjuk rasa pada tahun 1998 (reformasi). Kedua aksi unjuk rasa itulah sepertinya mau tidak mau harus dilakukan, karena tidak ada lagi cara dan upaya yang bisa dilakukan oleh para wakil rakyatnya pada waktu itu. Jelas sekali motivasi dan tujuan kedua aksi unjuk rasa terbesar di Indonesia itu sangat berbeda dengan aksi unjuk rasa yang sekarang ini marak terjadi di Indonesia. Aksi unjuk rasa setelah tahun 1998 sudah tidak jelas antara motivasi dan tujunannya. Mungkin berpijak pada Undang-Undang No 9 Tahun 1998 Tentang Kemerdekaan Menyampaikan pendapat dimuka umum (atma), hingga siapapun bebas mengemukakan pendapat dalam bentuk aksi unjuk rasa.

Maraknya aksi unjuk rasa di Indonesia ini sepertinya sudah berlebihan dan gambaran ketidak becusan dari produk kebijakan. Siapapun itu, pastinya mereka seharusnya membuat kebijakan yang tidak menimbulkan kontra dan sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Seperti contoh aksi unjuk rasa besar-besaran pada peringatan hari buruh sedunia yang di hampir seluruh wilayah Indonesia. Bukankah itu bentuk aksi penolakan atau ketidakpuasan pada kebijakan para wakil rakyat di legislatif ataupun eksekutifnya? Secara logika, siapapun sangat menginginkan kesejahteraan dan kemakmuran, seperti yang diharapkan oelh para pendemo dan pembuat kebijakan. Namun, sepertinya ada yang tidak matching antara kebijakan dan kebutuhan, sehingga timbulah ketidakpuasan dalam bentuk aksi unjuk rasa.

Sadar atau tidak, aksi unjuk rasa besar-besaran yang dilakukan oleh kaum bruuh se Indonesia kemarin adalah gambaran tidak selarasnya kebijakan yang dibuat oleh para wakil rakyat (pemimpin). Bagaimana selaras, bila terjadi penolakan ini dan itu dari kebijakan yang dibuat oleh wakil rakyat di legislatif ataupun di eksekutif? Akhirnya aksi unjuk rasa kemarin bukan saja berakibat bagi kelompok atau golongan buruh yang merasa tidak puas, tapi pada masyarakat lain yang tidak tahu menahu mengenai perihal ketidakcocokan yang terjadi. Berapa kerugian yang terjadi pada satu hari kemarin, ketika aksi unjuk rasa di peringatan hari buruh sedunia terjadi? Atau dampak mengerikan adalah larinya investor dari Indonesia, lalu kalau ini terjadi mau unjuk rasa kemana?

Secara logika, para pengunjuk rasa itu bukannya telah memilih wakil rakyat, entah itu di DPRD ataupun di DPR-RI, lalu kenapa juga kebijakan mereka ditolak. Oh, satu lagi yang hampir lupa, bukannya presiden dipilih oleh para buruh atau siapapun yang pernah berunjuk rasa. Herankan? Mereka memilih, lalu menolak dengan aksi unjuk rasa. Pertanyaannya adalah, kenapa waktu itu tidak memilih wakil rakyat yang perduli dan sesuai dengan aspirasi mereka yang melakukan aksi unjuk rasa? Mungkin disinilah letak kesalahannya, yaitu antara kesalahan memilih dan yang dipilih, hingga akhirnya terjadi aksi unjuk rasa yang begitu marak di Indonesia ini. Bukankah ada puluhan juta buruh, lalu kenapa partai buruh tidak ada di DPR-RI?

Jadi menurut pendapat saya pribadi, semua itu adalah sebab akibat. Kebijakan yang ditolak oleh aksi-aksi unjuk rasa adalah hasil kerja para wakil rakyat, dan wakil rakyat dipilih oleh para pengunjuk rasa. Lalu, salah siapa dan apa yang harus dilakukan dikemudian hari? Tentunya aksi unjuk rasa tidak hanya dilihat dari sisi kebutuhan para pengunjuk rasa, tapi coba dilihat dari sisi lain, entah itu dampak, penyebab atau lain sebagainya. Bayangkan bila saat itu ada mobil ambulance yang sedang mengantar ibu yang akan melahirkan atau sedang sakit keras dan terhambat oleh aksi unjuk rasa? Apakah di ibu dan pengemudi ambulance itu bersalah dalam membuat kebijakan atau tidak perduli dengan jeritan pengunjuk rasa? 

Memang tidak semua aksi unjuk rasa itu buruk, tapi apakah yakin semua aksi unjuk rasa yang terjadi di Indonesia ini benar-benar mewakili aspirasi orang banyak? Belum tentu! Ada sebagaian aksi unjuk rasa kelompok atau golongan yang tidak jelas motivasi dan tujuannya, berbeda memang dengan aksi unjuk rasa yang dilakukan buruh se Indonesia kemarin. Andaikan para wakil rakyatnya peka dan melek,  saya yakin peringatan hari buruh sedunia tidak harus dengan aksi unjuk rasa seperti itu. Apalagi bila wakil rakyat berbuat sesuatu dan tidak lagi korupsi, pastinya masalah UMR atau yang berhubungan dengan kejahteraan buruh tidak akan dipermasalahkan. Masa dari tahun ke tahun, Indonesia masih terendah dan hanya cerita saja pendapatan per kapita penduduk Indonesia itu tinggi. Penduduk yang mana?

Pendapat saya, maraknya unjuk rasa yang terjadi di Indonesia adalah potret buruknya kebijakan yang dibuat oleh para wakil rakyat yang duduk dilegislatif ataupun di eksekutif. Sayangnya para pendemo tidak menyadari, bila merekalah yang memilih para wakil rakyat itu. Kemudian dampak dari sebaik-baiknya unjuk rasa yang pernah terjadi di Indonesia itu sepertinya tidak terlalu signifikan, bila mereka para pengunjuk rasa masih berpola lama dalam memilih wakil rakyat dan pemimpin negeri ini. Lalu, bila dicermati lebih mendalam seluruh aksi unjuk rasa terkandung muatan politis dan pastinya ada yang diuntungkan. 

Mudah-mudahan para pengunjuk rasa tidak lagi tergoda sembako, goban atau cepean dalam memilih wakil rakyat di pemilu 2014, hingga kebijakan yang dihasilkan para wakil rakyatnya memuaskan hati para pengunjuk rasa (buruh) dan mensejahterakan seluruh buruh di Indonesia. Hidup buruh, selamat hari buruh se dunia! Semoga aksi unjuk rasa tidak terlalu marak di Indoensia, bila pun ada itu sebatas aksi demo memasak atau demo penggunaan alat-alat elektronik yang berguna.

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!