Searching...
Minggu, 26 Mei 2013

Fhatin, Gadis Remaja Taklukan Rampok X - Faktor

Fhtain, Gadis  Remaja Penakluk 'Rampok'Melihat hasil X-Faktor Jumat malam kemarin sepertinya bisa dijadikan inspirasi siapapun dan apapun bidangnya. Ya, Fhatin Shidqia Lubis, seorang gadis remaja yang menaklukan 'rampok' Novita Dewi di di perhelatan grand final X-faktor Indonesia pertama kalinya di Jumat malam itu perlu dicungi jempol. Banyak prediksi dan nggapan meleset dengan keberhasilan Fathin Shidqia Lubis, termasuk saya pribadi pun salah menebak dan mengira calon pemenang bila melihat kepiawaian si 'rampok' X- Faktor Novita Dewi.

Mungkin keberhasilan Fathin menaklukan 'rampok' X-faktor adalah fenomena keberhasilan seorang gadis remaja yang tidak disangka-sangka. Fathin atau pun si 'rampok' Novita Dewi memang sangat memiliki kelebihan atau x-faktor, meskipun saya pribadi tidak mengerti definisi x-faktor itu sendiri. Fhatin memberi sebuah inspirasi bagi kita semua, khususnya bagi saya pribadi tentang suatu 'keberhasilan'. Bisa dibayangkan bila melihat kepiawaian si' rampok' Novita Dewi' dalam bernyanyi ssesungguhnya jauh dan lebih berpengalaman dari Fathin. Lalu, apa dan kenapa Fathin imut yang pernah salah lirik itu begitu disukai oleh masyarakat Indonesia? 

Pada tulisan ini, fokus yang menjadi perhatian saya adalah mengenai inspirasi dari si imut Fathin. Apa inspirasi yang bisa diambil dari Fathin? Kenapa Fathin dipilih dan akhirnya mengalahkan si 'rampok' Novita Dewi? Bagaimana Fathin bisa menaklukan rampok x-faktor? Dan banyak pertanyaan lain, tapi mungkin ketiga itulah yang akan saya ulas pada tulisan ini sebagai inspirasi dari kemenangan Fathin.

Apa saja inspirasi dari kemenangan Fathin Shidqia Lubis?

Kesederhanaan dan kepolosan dari Fathin Shidqia Lubis mungkin hal pertama yang perlu dijadikan inspirasi. Siapapun dan apapun bidangnya perlu melihat inspirasi dari Fathin, terutama saya pribadi dan teman-teman yang ingin maju. Kesederhanaan dan kepolosan Fathin menggambarkan sifat bangsa Indonesia yang sebenarnya pada jaman perjuangan dahulu kala, ketika merebut kemerdekaan di tahun 1945. Tidak ada gaya dibuat-buat atau merasa kebarat-baratan, meskipun bisa berbahasa asing pada waktu itu. Yah, seperti ketika Fathin menyanyikan lagu berbahasa Inggris, tapi tetap saja Fathin berpenampilan Indonesia dan bahkan Indonesia sekali.

Melihat kesederhanaan dan kepolosan Fathin, lalu membandingkan dengan keadaan bangsa Indonesia saat ini sangat jauh berbeda. Bangsa Indonesia saat ini tidak lagi sederhana, polos, karena dibeberapa aspek banyak sekali hal-hal yang tidak Indonesia dilakukan oleh bangsa ini. Kenapa mengatakan hal seperti itu? Satu hal termudah dan sudah menjadi slogan, bahwa bangsa ini adalah bangsa agraris karena kesuburan wilayah negeri ini tidak ada bandingnya, tapi kenapa sekarang kebutuhan pangan harus impor dari negara lain dan bahkan dari negara yang sebenarnya tidak subur. Atau coba kita tengok kesisi kiri dan kanan sewaktu melintas di jalan tol Jakarta - Cikampek, disana umumnya berdiri bangunan beton industri atau perumahan. Masihkan daerah Karawang yang didalam buku termasuk lumbung padinya Indonesia? Apakah masih ada kesederhanaan dan kepolosan sebagai bangsa Indonesia, bila melihat dua contoh tersebut?

Dua contoh diatas belum seberapa, mengenai kesederhanaan dan kepolosan Fathin juga bertolak belakang dengan aspek politik, ekonomi dan bahkan budaya Indonesia pun sudah tidak seperti itu lagi. Bila bangsa Indonesia ini memiliki keserhanaan dan kepolosan dalam politik, bisa dipastikan rakyat Indonesia akan sejahtera, adil dan makmur. Bukan seperti sekarang ini, dimana politik Indonesia banyak dipengaruhi dan mengikuti politik barat alias kapitalis. Indonesia saat ini hanya menjadi bulan-bulanan dan tempayan 'sumber rejeki' kaum politikus sok kebarat-baratan yang selalu bicara hak asasi manusia dan demi kepentingan rakyat banyak. Akhirnya apa? Korupsi, rakyat miskin banyak, pengangguran dimana-mana, dan lain sebagainya semakin hari semakin tumbuh subur di Indonesia akibat hilangnya kesederhanaan dan kepolosan bangsa Indonesia.

Bagi saya tidak perlu repot bicara mengenai kesederhanaan, dimana gampangnya adalah hidup apa adanya dan tidak memaksakan sesuatu hal yang belum tentu cocok untuk kita. Bagaimana dengan Indonesia? Banyak hal yang dipaksakan dan dikarbit, hingga ujung-ujungnya kacau, korupsi, demonstrasi dan kerusuhan. Coba kita menjadi bangsa yang sederhana dalam arti bangga dengan bangsanya sendiri, apa mungkin memaksakan diri melakukan korupsi dan menghianati bangsanya sendiri? Diatas kertas memang mereka bangsa Indonesia dan hafal lagu Indonesia raya, tapi apa mereka yang melakukan korupsi itu bisa diebut sederhana? Tidak, mereka pelaku korupsi, entah itu si A, M atau siapapun itu telah melupakan kesederhanaan bangsa Indonesia, berbeda dengan Fhatin Shidqia dan Claudia Marcia. Kedua remaja ini jauh lebih sederhana dan mengerti kesederhanaan, meskipun mereka berdua berada diatas panggung glamour dibanding para bangsa Indonesia yang berada 'diatas awan'.

Jadi, inspirasi kesederhanaan Fhatin itu menurut saya perlu dicermati, terutama bagi mereka yang berotak korupsi dan bergaya wah ala barat kesiangan. Belajarlah hidup sederhana dan apa adanya, sebelum bangsa Indonesia ini hancur nantinya. Belajarlah menghargai diri dan kemapuan sendiri sebagai wujud kesederhanaan dan tidak gila pujian dan sanjungan! Ayo, kita belajar dari Fathin untuk hidup lebih sederhana dan polos sebagai bangsa Indonesia yang dulunya sangat sederhana, tapi memiliki semangat juang menggelora.

Kenapa Fathin dipilih dan kalahkan 'rampok'?

Untuk jawaban dari pertanyaan tersebut diatas, sepertinya masyarakat voter x-faktor menggambarkan sifat keaslian positif bangsa ini. Melihat hasil vote dengan kemenangan Fhatin Shidqia Lubis atas 'rampok' Novita Dewi adalah sebagai wujud judgement masyarakat normal dan logis. Masyarakat voter bisa melihat dimana letak x-faktor, dan benar-benar jeli dalam menilai siapa yang patut mereka pilih. Kalau di x-faktor bisa, bagaimana dengan gaya dan cara memilih bangsa ini? Apakah sama saat memilih di x-faktor dengan saat pemilu atau pilkada? Sepertinya berbeda, karena masyarakat voter x-faktor bukan jenis masyarakat sembako atau amplop ketika meimilih.

Bayangkan bila cara memilih bangsa ini pada pemilu dan pilkada seperti saat memilih Fathin atau siapapun itu, Indoneisa tidak akan kecolongan lagi dengan para wakil rakyat yang tidur ketika sidang, korupsi atau punya skandal dengan para wanita. Kenapa bisa terjadi perbedaan mencolok cara dan hasil pilihan dari x-faktor dengan pemilu atau pilkada? 

Kontestan x-faktor tidak ada bedanya dengan para kontestan di pemilu atau pilkada/pilpres, mereka semua terdaftar dan masuk kategori untuk dipilih. Namun, ada perbedaan mencolok dan keunggulan dari x-faktor adalah benar-benar dilihat, dinilai dan dipilih oleh masyarakat Indoneisa berdasarkan kualitas, kemampuan dan karakter kontestan, bukan karena sembako atau amplop berisi gocap atau cepe ceng. Tidak malukah bangsa ini yang telah sekian kali melakukan pemiliu dan pilkada dikalahkan oleh kemurnian pilihan di ajang x-faktor yang baru kali pertama diadakan di Indonesia? Pastinya harus malu!

Coba para wakil rakyat entah itu di dewan perwakilan rakyat, kepala daerah atau pun kepala negara  berperilaku seperti Fathin, pasti akan didukung oleh konstituen tanpa mengeluarkan sembako atau amplop, kemudian si terpilih akan bekerja 100% demi rakyat dan bukan untuk kembali modal seperti oknum pelaku korupsi di dewan sana, benar bukan? Bagaimana bisa  melakukan hal-hal yang tidak terpuji, apalagi korupsi bila si legislator atau siapapun itu terpilih berdasarkan atitude, kredibilitas dan kapabilitasnya, tapi tentu tidak hanya berpangku pada popularitas semata. Mimpi barangkali cara memilih bangsa Indoneisa bisa sama dengan cara memilih Fathin di X- faktor.

Fathin dipilih karena kemampuannya dan ciri khasnya bernyanyi, selain kesederhanaan dan kepolosannya. Sedangkan bagi para caleg atau mungkin mereka yang telah duduk tidak pernah seperti proses terpilihnya Fathin. Umumnya terpilih karena te o pe alias populer (sering muncul di televisi), kaya dan berduit tebal untuk sebar sembako dan amplop. Bohonglah kalau ada yang tidak bermmodal minimal sembako sebagai rayuan pemikat hati konstituen. Kapan bangsa Indonesia belajar dari Fhatin? berangkat dari nol besar, dengan kemampuan dan nilai plus lalu dipilih dengan suka hati dan rela oleh masyarakat Indonesia.

Bagaimana Fhatin bisa menaklukan 'rampok'?

Pada point ini sepertinya sangat menarik dan condong menggembirakan hati saya secara pribadi. Ketika ungkapan'rampok' (orang yg mengambil dengan paksa dan kekerasan barang milik orang) muncul meski itu hanya sebutan canda atau gaul, jelas itu bukan bahasa Indonesia yang baik dan layak dipertontonkan pada ratusan juta pasang mata masyarakat Indonesia. Satu juri ini, yaitu Bebi Romeo sepertinya tidak pernah belajar bahasa dan lupa akan dampak psikis dari ungkapan 'rampok', Ahmad Dhani dengan berpenampilan gaul malah jauh lebih baik dalam menggunakan dan beretika ketika bicara atau mengeluarkan pendapatnya. Selain dari sebutan 'rampok' yang berulang-ulang dengan gamblang dan bangga di ajang x-faktor, mentor 'rampok' terlalu percaya diri dan takabur asuhannya memenangi dan menggungguli si imut Fhatin.

Dari dua hal sebutan 'rampok' dan percaya diri berlebihan (sombong/takabur) diatas itu menjadi cikal bakal penilaian masyarakat voter dalam memilih. Pada kenyataannya bukan 'rampok' sebagai pemenangnya, tapi orang baik-baiklah yang menjadi pemenang x-faktor kali pertama di Indonesia. Hal ini membuktikan, bahwa masyarakat voter x-faktor Indonesia adalah masyarakat kritis yang tidak menyukai hal buruk, yaitu menyukai 'rampok'. Coba ketika kali pertama mentor Bebi Romeo menyebut Novita Dewi tidak dengan sebutan 'rampok', tapi dengan sebutan 'si cantik' atau apalah yang positif pasti hasilnya berbeda. 

Pandangan saya pada voter x-faktor Indonesia dari sisi anti korupsi melihat masyarakat voter x-faktor Indonesia itu sudah jenuh dan tidak menyukai rampok atau korupsi. Kata sederhana 'rampok' adalah bumerang kekalahan Novita Dewi akibat kebodohan mentor dalam berbahasa Indonesia dengan baik. Apapun alasannya, ungkapan kata 'rampok' tidak pantas diumbar diatas ajang sebesar x-faktor. Bagaimana bila seorang anak kecil bercita-cita menjadi 'rampok' setelah melihat pertunjukkan x-faktor, meskipun yang dimaksud adalah menjadi penyanyi. Bukankah kata penyanyi berbeda jauh dengan kata 'rampok' ? Panitia atau penyelenggara x-faktor harus berbenah dan memilih para juri berdasarkan kemampuan juri termasuk dalam berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, karena ajang x-faktor bukan ajang lomba nyanyi  di kamar mandi yang tidak ti tonton atau di dengar oleh orang banyak.

Untuk point ketiga itu, bagaimana Fathin menaklukan 'rampok' adalah berkat kelihaian dan kecerdasan menilai masyarakat voter x-faktor. Bila saya ambil sedikit kesimpulan, masyarakat voter x-faktor tidak suka rampok dan pastinya tidak suka korupsi. Satu hal ini membuat saya bangga sebagai bangsa Indonesia, tapi kemudian hilang dan redup kembali ketika melihat berita korupsi tak kunjung padam. Menyedihkan!

Mohon maaf, sepertinya tulisan ini terlalu panjang. Sebagai penutup tulisan saya tentang fenomena Fhatin, gadis remaja taklukan rampo x-faktor, semoga bisa diambil kebaikannya dan buang jauh-jauh keburukannya di tong sampah, ktia bangun negeri ini, kita pilih pemimpin negeri ini seperti memilih Fhatin Shidqia Lubis. Tidak ada sembako, tidak ada amplop, tidak ada ancaman, tidak ada nepotisme dan lain sebagainya, hingga terpilih murni berkat kemampuannya, kepribadiannya, ketulusannya, kesederhanaannya. Begitu saja, kalau ada yang kurang mohon dimaafkan. Terima kasih, peace!

0 comments:

Poskan Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!