Searching...
Selasa, 09 April 2013

Tokoh Kontroversial Negeri Laskar Pelangi


Tokoh Kontroverisal Negeri Laskar Pelangi
Siapa tokoh kontroversial Negeri laskar Peangi kalau bukan Basuki Tjahaja Purnama, wakil gubernur DKI Jakarta yang akrab dipanggil Ahok. Sebutan sebagai tokoh kontroversial menjadi populer, ketika salah satu stasiun televisi swasta di Jakaarta akan menggelar ajang 'Anugerah Seputar Indonesia 2013'. Ahok merupakan salah satu dari tiga nominator kategori tokoh kontroversial versi ajang tersebut, dimana nominator lainnya adalah: Yusril Ihza Mahendra dan Abraham Samad.

Ahok terpilih menjadi nominator di ajang tersebut, disebabkan oleh gerakan reformasi birokrasi yang dilakukannya itu sangat kontroversial. Sepak terjangnya itu tentunya memberikan dampak positif. Namun tak sedikit juga yang kontra terhadap gerakannya," tutur Arief, Pemimpin Redaksi "Seputar Indonesia", Kamis (4/4) siang, di MNC Tower, Jakarta. Sedangkan Abraham Samad, menurut Arief, dipilih untuk masuk ke kategori tersebut, jauh-jauh hari sebelum peristiwa bocornya surat perintah penyidikan KPK mengemuka di berbagai media  massa. Untuk Yusril Ihza Mahendra, tim juri juga menilai langkah-langkah hukum yang dilakukannya dalam memperjuangkan hak-haknya pada partai politik yang dipimpinnya, memberi inspirasi bagi banyak orang.

Sesuai dengan judul tulisan diatas, sebutan Ahok sebagai tokoh kontroversial Negeri Laskar Pelangi sepertinya tepat sekali. Harus diakui gebrakan dan cara kerja Ahok sebagai orang no.2 di Ibukota Negara Indoneisa kadang membuat jantung berdegup bagi mereka yang pernah bersinggungan langsung   dengan Ahok. Sebut saja notulen yang pernah terkena damprat atau dinas pekerjaan umum DKI Jakarta, pasti mereka itu merasakan betul kotroversial Ahok. Bagi mereka tindakan Ahok itu tergolong baru dan mengejutkan, bahkan mengarah pada  rasa sakit hati saat tindakan kontroversial Ahok terjadi.

Pastinya mereka kaget dengan perubahan birokrasi ala Ahok, yang tembak langsung seperti seorang koboy. Mereka kaget karena masih terbawa kebiasaan lama asal bapak senang, sementara hal itu tidak cocok dengan gaya Ahok. Shock, kesal, mengumpat dalam hati atau dendam mungkin itu yang terjadi bagi mereka yang merasakan reformasi birokrasi Ahok. Yang jelas, mereka belum siap dan masih bertahan pada pola lama dan kemudian berhadapan dengan dua pimpinan yang sama-sama memiliki keunikan dan caranya masing-masing, yaitu Jokowi dan Ahok. 

Sepak terjang Ahok memang membuat sebagian orang setuju, karena membawa pada perubahan yang lebih baik. Namun, tidak sedikit dari mereka yang tidak setuju dan bahkan sakit hati melihat gaya kontroversial ala Ahok. Apa yang ditunjukan dan dilakukan oleh Ahok sebenarnya sangat baik bila dilihat dari sisi positif, karena sejujurnya belum pernah ada pimpinan yang gaya birokrasinya seperti Ahok. Kebiasaan baru, yaitu spontanitas dan transparansi dalam berbagai tempat dipertontonkan Ahok tanpa merasa takut dan sungkan.

Bila dilihat dari latar belakang budaya Ahok, menurut saya wajar bila Ahok ceplas-ceplos dengan gaya muda untuk ukuran seorang wakil gubernur. Jadi hal wajar dan biasa saja bila Ahok itu vokal dan berani. Hal itu beralasan bila melihat prestasi Ahok sebagai Bupati Belitung timur pertama setelah pemekaran dari Kabupaten Bangka Belitung. di tahun 2005. Dibawah kepemimpinannya membuat masyarakat Beltim dapat menikmati sekolah, karena pendidikan digratiskan Selain pendidikan, Ahok juga membebaskan biaya berobat bagi warganya. Akses ke daerah-daerah pedalaman di Beltim terbuka dengan adanya pengaspalan jalan. Ahok juga membantu renovasi rumah-rumah penduduk Beltim yang nyaris roboh. Singkat kata, Beltim pun mampu berbenah berkat tangan dingin Ahok. Padahal, sebagai kabupaten baru, kemampuan daerah itu masih sangat terbatas. Alokasi APBD Beltim saat Ahok mulai memimpin ‘hanya’ Rp 200 miliar. Kantor-kantor Pemda pun masih banyak yang mengontrak.

Kontroversi Ahok itu wajar saja, karena memang Ahok berhasil merubah Beltim yang penuh keterbatasan pendidikan di tahun 1970-an, menjadi bisa dinikmati oleh seluruh masyarkat Beltim. Menurut saya meskipun dibilang atau terkesan sombong pun tidak masalah, karena memang bukan omong kosong apa yang dilakukan oleh Ahok. Seperti umumnya terjadi di masyarakat yang terkadang  memandang hanya dari satu sisi, hingga menganggap si pemberi sumbangan itu hanya show of force alias pamer. Padahal si pemberi sumbangan itu memang benar-benar ingin menyumbang bukan untuk pamer. Apalagi dijaman dulu belum pernah ada kepala daerah DKI Jakarta yang berasal dari Thionghoa dan baru kali ini terjadi pada Ahok yang mendampingi Jokowi sebagai wakil gubernur DKI Jakarta. Pastilah anggapan miring atau negatif sebagian orang yang kontra, mulai dari isu agama dan sebagainya akan muncul menjadi sorotan.

Kemudian pada akhirnya, mereka yang terbiasa asal bapak senang di jajaran pemprov DKI Jakarta terkejut-kejut dengan cara kepemimpinan Jokowi-Ahok, terutama oleh gaya cuek Ahok. Birokrasi ala Ahok ini benar-benar inspiratif bagi calon pemimpin di kemudian hari, karena gaya yang ditunjukan layaknya koboy yang gentlemen satu lawan satu alias fair play. Gaya seperti Ahok ini lebih baik dibanding gaya pemimpin yang selalu tersenyum dan senang dipuji. Melihat gaya Ahok, sepertinya Ahok tidak menutup diri bila dikritik. Saya yakin, tidak ada orang yang hanya mau mengkritik tapi tidak mau dikritik. Yah konsekuensi itu rasanya ada pada Ahok yang kapan saja bisa dikritik, karena Ahok juga begitu.

Penilaian terhadap Ahok sebagai nominator tokoh kontroversial versi 'anugerah seputar Indonesia 2013' adalah sangat tepat. Seperti mengingatkan kembali pada daerah asal Ahok, Belitung Timur yang terkenal dengan Negeri Laskar Pelangi, dimana pada dikisahkan tentang perjuangan anak-anak di daerah tersebut dalam meraih pendidikan. Begitu pun Ahok saat ini, berjuang untuk masyarakat DKI Jakarta dengan reformasi birokrasi yang lain dari lainnya. Entah nominasi itu pencitraan atau bukan, menurut saya kontroversi reformasi birokrasi Ahok adalah insporasi dari pemimpin masa depan plus.Maju terus pak Gubernur dan wakil gubenrur,  warga Jakarta patut bangga memiliki gubernur dan wakil gubernur seperti Jokowi-Ahok.

0 comments:

Poskan Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!