Searching...
Jumat, 05 April 2013

Sprindik Ketoprak Pemberantas Korupsi


Sidang Komita Etik Kasus Pembocoran Sprindik
Sepertinya masyarakat Indonesia disajikan pertunjukan sprindik ketoprak pemberantas korupsi yang berakhir dengan hasil temuan Komite etik KPK, yaitu Wiwin Suwandi sebagai pelaku tunggal pembocoran sprindik Anas. Saya pikir hanya seniman saja yang bisa bermain ketoprak, ternyata institusi sekelas KPK bisa memainkan tarian sandiwara beralun musik genderang gegap gempita media massa dan opini publik terkait bocornya sprindik  atas Anas Urbaningrum.

Melihat kenyataan yang terjadi pada tubuh KPK, ternyata terjadi juga hal yang memalukan dan terlihat KPK itu hanya angin segar pemberantas korupsi. Bagaimana tidak, meskipun sprindik itu bisa dikatakan bukan dokumen rahasia, tapi bukan berarti bisa dibuka begitu saja (Ganjar Laksamana Bonaprapta). Hebatnya lakon ketoprak sprindik Wiwin Suwandi memainkan peran kebenciannya pada pelaku korupsi dengan menyebarkan sprindik tanpa melalui tata cara resmi yang ada di KPK. Kalau dibilang benci, semua juga benci dengan pelaku korupsi. 

Menurut pendapat saya pribadi kebocoran sprindik atas Anas Urbaningrum persis dengan pertunjukan ketoprak dan dimainkan oleh Wiwin Suwandi sekretaris ketua KPK Abraham Samad sebagai lakon tunggal pembocoran. Apa benar peran lakon ketoprak itu hanya karena benci pada pelaku korupsi dan tidak ada motivasi lain? Apalagi ketua KPK tidak mengetahui hal itu dan diam saja. Bagaimana jadinya pemberantasan korupsi di Indonesia  bila perilaku seperti Wiwin Suwandi berada dilingkungan internal KPK? 

Tepisan demi tepisan yang diutarakan mengenai kebocoran terjadi diawal-awal heboh kebocoran sprindik, ternyata terbukti sekretaris ketua KPK melakukan hal itu. Bukankah KPK harus bersih se bersihnya dari tindakan konyol seperti :melakukan pembocoran sprindik tersebut? Bagaimana kasus korupsi tuntas, bila diisi oleh orang yang seperti itu? Kata korupsi di Indonesia ini diartikan melakukan sesuatu hal yang merugikan negara, gratifikasi dan sejenisnya oleh pejabat negara atau publik. Tapi balik ke sumber bahasa aslinya, berarti KPK juga corrupt. Tindakan pembocoran oleh Wiwin Suwandi menurut saya adalah tindakan kacau (corrupt adj) yang menimbulkan kekacauan 
Korupsi berawal dari bahasa latin corruptio atau corruptus. Corruptio berasal dari kata corrumpere, suatu kata latin yang lebih tua. Dari bahasa latin itulah turun ke banyak bahasa Eropa seperti Inggris yaitu corruption, corrupt; Prancis yaitu corruption; dan Belanda yaitu corruptie, korruptie. Dari Bahasa Belanda inilah kata itu turun ke Bahasa Indonesia yaitu korupsi
Arti Kata Korupsi
Busuk; palsu; suap (Kamus Bahasa Indonesia, 1991), buruk; rusak; suka menerima uang sogok; menyelewengkan uang/barang milik perusahaan atau negara; menerima uang dengan menggunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi (Kamus Hukum, 2002), Kebejatan; ketidakjujuran; tidak bermoral; penyimpangan dari kesucian (The Lexicon Webster Dictionary, 1978), Penyuapan; pemalsuan (Kamus Bahasa Indonesia, 1991), Penyelewengan atau penggelapan uang negara atau perusahaan sebagai tempat seseorang bekerja untuk keuntungan pribadi atau orang lain (Kamus Hukum, 2002) (sumber: Mukhsonrofi)
Hal yang lucu dan persis lakon ketoprak adalah ketika menurut Ketua Komite Etik, Anies Baswedan, saat ditanya, Wiwin mengaku membocorkan Sprindik tersebut karena benci dengan koruptor. "Dia merasa benci dengan koruptor. Karena dari segi ucapan dan tindakan sering tidak konsisten. Sehingga dia  membocorkan Sprindik," kata Anies saat jumpa pers di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Rabu (3/4/2013). Lakon lucu gaya bocah menurut saya, bila alasannya adalah benci pada ucapan dan tindakan para koruptor. Lantas, bagaimana dengan tindakannya yang dikabarkan sering melakukan pembocoran sebelum sprindik Anas? Yang begini nih, maling teriak maling dan herannya menjadi sekretaris ketua KPK dan masa iya tindakannya tidak diketahui oleh ketua KPK.

Kebocoran sprindik itu adalah bentuk kelalaian yang tidak seharusnya terjadi dan tidak dipertontonkan kepada masyarakat. Bagaimana pemberantasan korupsi bisa berjalan dengan baik seperti yang diharapkan oleh mayoritas rakyat Indonesia yang juga sangat benci dengan koruptor, bila di tubuh KPK sendiri sudah corrupt. Saya rasa benar apa yang dikatakan oleh Febriiansyah ICW yang menegaskan, siapapun itu pembocornya harus diberi sanksi. "Siapa pun pembocornya, baik itu pegawai, polisi, jaksa, atau bahkan pimpinan semua sama di hadapan hukum. Tidak boleh ada orang bermasalah berlindung di balik KPK," 

Indonesia Corruption Watch (ICW) mendesak Komite Etik menjatuhkan sanksi tegas terhadap oknum KPK yang telah membocorkan draf sprindik tersangka Anas Urbaningrum. Febridiansyah, peneliti ICW, mengatakan meski belum ditemukan unsur pidana tapi dapat merusak kredibilitas KPK sebagai lembaga superbody.
Kesan ketoprak yang diperankan oleh sekretaris Wiwin Suwandi menurut saya adalah ketika membaca berita  yang berjudul "pakar hukum dokumen sprindik bukan rahasia negara" dengan link telah disebut sebelumnya, dimana ada kesan ketua KPK tidak terlibat pada pembocoran Sprindik Anas, seperti cuplikan berita dibawah ini:

Sebelumnya diberitakan, Ketua KPK, Abraham Samad, menuding ada oknum yang mencoba melakukan kudeta dari kursi jabatan KPK. 
Salah satunya melalui kasus kebocoran Surat Perintah Penyidikan atas nama Anas Urbaningrum sebagai tersangka kasus dugaan gratifikasi proyek Hambalang.
"Kebocoran sprindik adalah skenario untuk menjatuhkan dan membungkam saya dari KPK," tegas Samad, melalui pesan singkatnya kepada wartawan, Rabu (27/3).
Dan kemudian ternyata pada wawancara antara salah satu stasiun televisi  dan ketua komite etik, Anis Baswedan ternyata yang melakukan pembocoran itu sekretaris Ketua KPK dan diketahui oleh ketua KPK. Bagaimana jadinya lembaga KPK, bila tidak bisa menjadi lembaga atau institusi yang rapat dan terbebas dari tindakan ngawur? Masih Pantaskah Abraham Samad menjadi ketua KPK dengan peristiwa bocornya sprindik? 
Berdasarkan analisa komunikasi yang dilakukan, Wiwin diketahui berinisiatif mengabarkan status tersangka Anas Urbaningrum kepada Irman Putra Sidin. Dalam komunikasi BlackBerry Messenger itu, Wiwin mengutip kata-kata dalam pesan BlackBerry Abraham Samad kepada Tri Suharman.
"Jangan disebut namaku dulu, soalnya saya ambil alih kasus ini supaya bisa jalan," kata Tumpak membacakan isi BlackBerry Abraham Samad.
"Bahwa benar, terperiksa I Abraham Samad tidak bersedia menyerahkan BlackBerry miliknya kepada Komite Etik untuk dilakukan proses kloning agar diketahui komunikasi Abraham dan Tri Suharman," kata Tumpak. (Eks) (liputan6)

Inilah Indonesia, dimana sering terjadi istilah "lempar batu sembunyi tangan". Tidak pernah ada pimpinan yang mau bertanggung jawab dengan 'kata mundur', apabila ada bawahannya melakukan pelanggaran,  seperti yang dilakukan Wiwin Suwandi. Tetap kekeh merasa tidak bersalah dan itu adalah kesalahan orang lain, entah diketahui atau tidak olehnya. Kapan bangsa ini memiliki pemimpin yang berani berkata "saya mundur"? Mungkin Dicky Chandra wakil Bupati Garut adalah pimpinan yang berani mengatakan mundur, meskipun bukan akibat konflik yang disebabkan bawahannya.

Jadi kesimpulannya pribadi saya, KPK ternyata tidak bisa memberikan contoh dan memberikan harapan besar bagi pemberantasan korupsi di Indonesia. Hal itu disebabkan oleh internal KPK yang diisi oleh Wiwin Suwandi sekretaris Abraham Samad, hingga akhirnya merusak citra KPK yang menjadi harapan bangsa ini sebagai pemberantas korupsi. Tindakan komite etik pada Abraham sepertinya kurang tegas, bila kesalahan ketua KPK adalah pelanggaran etik sedang. Pantas saja kasus korupsi tidak beres-beres, wong di KPK nya sendiri main ketoprak gaya bajaj (ngeles). Amburadul


0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!