Searching...
Rabu, 03 April 2013

Salah Siapa, Bila Seusia SD Sudah Tidak Bermoral?


Ilustrasi 5 Anak SD Tidak Bermoral
Kaget bukan kepalang, melihat tayangan berita mengenai lima bocah SD melakukan tindakan asusila pada teman SD-nya juga. Salah siapa, bila anak SD sudah tidak bermoral seperti kejadian lima bocah nekat berbuat asusila pada temannya? Herannya kejadian tersebut bukan di kota besar seperti Jakarta dan kota besar di Indonesia lainnya, tapi di Desa Kalebarembeng, Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa, Daerah Tingkat II Sulawesi Selatan. Prihatin sekali bila kenyataan, seumur anak-anak SD sudah berbuat asusila. Itu terjadi di kota kecil, bagaimana dengan kota besar ya?

Melihat kejadian lima bocah itu perlu sikap tegas dari berbagai pihak, terutama keluarga yang menjadi penanggung jawab. Bagaimana jadinya bangsa ini, bila seusia mereka yang masih SD sudah berani berbuat hal terlarang? Tidak bisa dibayangkan dan sama sekali tidak akan pernah sedikit pun terpikir oleh siapapun bila seumur mereka itu sudah tidak bermoral. Sepertinya kejadian itu adalah tanda semakin terpuruknya moral anak bangsa ini, semakin rancunya akhlak calon penerus bangsa. Maaf, bukan generalisasi, tapi kejadian tidak bermoral itu aneh bila dilakukan seusia anak SD. Siapa yang salah dan siapa yang harus bertanggung jawab? Bisa dipastikan, mereka itu tidak mengerti apa yang dilakukannya itu melanggar hukum dan tidak bermoral. Aduh..parahnya!

Perbuatan tidak bermoral kelima bocah tersebut adalah warning bagi kita semua, terutama bagi para orang tua untuk menjaga amanah yang diberikan. Menurut saya, kita bangsa Indonesia ini belum bisa menerima arti kebebasan, sehingga banyak hal keliru, menyalahgunakan dan mengatas namakan kebebasan serta keterbukaan. Buktinya anak seusia SD sudah berani melakukan hal tidak terpuji dan tidak bermoral. Nanti bila orang tua mereka disalahkan pastinya tidak mau, tapi mereka lalai dan tidak menanamkan pendidikan akhlak pada anak-anaknya itu. Lalu siapa yang harus bertanggung jawab atas perbuatan kelima anak tersebut? 

Seusia mereka umumnya melakukan sesuatu hal itu pasti ada yang ditiru, ya seperti apa yang mereka tonton sebelum melakukan perbuatan tidak bermoral itu. Mereka meniru hal-hal buruk dari apa yang diberikan oelh orang tuanya, seperti tontonan mereka di HP itu. Bukankah orang tua mereka sendiri yang memberikan dan membelikan barang tersebut? Lalu, apakah seusia mereka sudah bisa berpikir segala macam tentang baik buruk dan cara memanfaatkan pemberian dari orang tuanya itu? Tidak, usia mereka masih belum bisa menentukan apa-apa. Mereka masih lugu dan tidak mengerti baik dan buruknya perbuatan mereka itu. Lalu kenapa dalih sayang pada anak terkadang orang tua lupa, bahwa anaknya itu belum bisa membedakan baik dan buruk dari pemberian, fasilitas atau hadiah yang diberikan pada mereka.

Banyak sekali para orang tua, entah itu di kota besar, kota setengah besar sampai kota kecil, bila merasa mampu apalagi duitnya boleh korupsi pasti akan memberi fasilitas berlebih pada anaknya dengan dalih rasa sayang tanpa perduli risiko negatif yang akan ditimbulkan. Lihat di jalan-jalan banyak sekali anak seusia SD yang masih labil sudah mengendarai sepeda motor, padahal risiko negatif yang akan terjadi pada mereka jauh lebih besar dibanding risiko orang dewasa. Seusia SD masih belum memikirkan apa yang dilakukannya itu berbahaya, jelas ketika disalip oleh sepeda motor lain mereka spontan akan tancap gas, lalu bruk jatuh dan pecah kepalanya. Nah, apa itu yang diharapkan dan itu yang dinamakan rasa sayang orang tua kepada anaknya? Seperti apa yang dilakukan kelima bocah SD itu, mereka meononton dari barang pemberian orang tuanya dan terjadilah perbuatan tidak bermoral.

Lantas bagaimana kita yang sadar menyikapi kejadian tidak bermoral itu? Sebenarnya tidak sulit dan terbilang kuno, ya seperti istilah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya sajalah. Menurut saya apa yang dilakukan anak adalah representasi dari tindakan, didikan dan pola hidup orang tua, karena mereka yang tidak bermoral itu belum mengerti arti dari moral. Jadi pendidikan yang bisa dipahami adalah dengan memberi contoh pada usia mereka itu. Sangat disayangkan, bila jaman semakin modern tapi pemikiran kembali ke jaman batu. Anak tidak lagi jadi tanggung jawab, tapi pelngkap hidup layaknya pajangan. Rasa sayang bercampur kebodohan membuat orang tua terlalu memberikan hal yang belum pantas digunakan oleh anak-anaknya, tanpa pikir ulang bahwa itu brdampak buruk. Mumpung banyak duit, apa yang diminta atau kelihat trend pasti akan diberi ke anak. Besoknya si anak mati terduduk kaku, karena menggunakan narkoba. Jangan salah ini kenyataan yang banyak terjadi.

Sepertinya orang tua harus back to basic dalam mendidik anak, agar tidak terjadi seperti kelima anak tidak bermoral itu. Menurut saya cukup para orang tua itu melakukan kewajiban beragamanya dengan baik, jujur dan  bertingkah laku baik dalam kesehariannya, apalagi bila benar-benar takut pada Tuhan bahwa anak itu adalah amanah. Si anak pasti tidak akan berkelakuan seperti kelima anak tidak bermoral itu, mereka pasti megnikuti pola baik orang tuanya dan akan baik-baik saja. Jangan salah, saat ini banyak sekali kelemahan yang sengaja dibuat dan dipromosikan, dimana akan membatasi dan terlalu memanjakan posisi anak. Saat ini orang tua akan disalahkan apabila memukul anaknya, istilahnya kekerasan dalam rumah tangga. Ujuk-ujuk melanggar hak asasi dan entah apalagi namanya. Bagaimana bila terjadi seperti mereka berlima yang tidak bermoral itu? Itukah kebebasan dan rasa sayang yang dimaksud oleh yang katanya peduli anak?

Menurut hemat saya lebih baik memang kembali keawal, agar para orang tua tidak menyesal ketika anaknya terlanjur berlaku tidak baik dan tidak bermoral atau mati akibat kebut-kebutan. Siapa yang melarang orang tua 'memukul' anak dalam menghukum? Siapa bilang anak usia SD akan celaka bila tidak menggunakan BB atau sepeda motor? Saya pikir tidak ada hak siapapun untuk melarang orang tua menghukum anaknya dengan pukulan, selama masih wajar.  Dan juga tidak akan ada yang mengatakan kita kikir atau kejam bila tidak memberikan hal-ha yang belum cocok dengan usia anak, meskipun si orang tua  mampu. 

Mari bapak dan ibu, kita kembali pada ajaran agama dalam mendidik anak. Jangan takut memberi hukuman, selama hukuman itu masih dalam batas wajar dan tidak dibuat-buat seperti dalam cerita sinetron. Berikan contoh pada anak-anak apa adanya dan tulus, jadi para orang tua pun tidak akan pusing dan memaksakan diri dalam memenuhi kebutuhan yang belum pantas bagi mereka dengan ketidak jujuran alias korupsi. Mereka, para anak baru mampu melihat dan megnikuti apa yang dicontohkan, tapi belum mampu memikirkan dari apa yang diberikan diusia mereka yang masih SD.

Untuk bapak dan ibu siapapun yang merasa terhormat bangsa ini, tolong pikirkan generasi penerus agar jadi generasi bersih dan bermoral. Berilah contoh pada anak bangsa dengan tindakan tulus dan jujur, agar bisa dicontoh oleh generasi penerus bangsa berikutnya. Jangan sampai generasi muda penerus bangsa ini hanya diberikan contoh buruk, seperti korupsi, kekerasan dan teriakan demokrasi ngawur. Kami generasi muda tidak perlu slogan dan janji, tapi tolong beri bukti konkrit. Jangan bicara bersih ternyata kotor, jangan bicara hak asasi tapi melanggar dan jangan bicara putih tapi hitam akhirnya. Jadikanlah generasi penerus bangsa ini sebagai penerus bangsa yang bermoral, tidak seperti kelima anak yang tidak bermoral dan belum mengerti apa moral itu? Terima kasih, semoga tidak terjadi lagi hal tidak bermoral diusia SD berikutnya.

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!