Searching...
Selasa, 23 April 2013

Perlu Kecerdasan Pada Pemilu 2014



Perlu Kecerdasan Pada Pemilu 2014
Bila rakyat Indonesia ingin negara ini jadi lebih baik,  maka perlu kecerdasan pada pemilu 2014. Nasib bangsa benar-benar ada ditangan peserta pemilih, bukan ditangan calon legislatif nantinya. Salah memilih calon  legislatif, maka Indonsia kedepan sudah bisa dibayangkan tidak akan jauh berbeda dengan saat ini. Jujur saja banyak diantara kita telah salah memilih, bila melihat daftar hadir palsu, kursi kosong ketika sidang, tidur saat sidang, produk undang-undang yang tidak pro rakyat dan lain sebagainya disamping skandal korupsi.

Pemilu 2014 sudah dekat, calon Legislatif berbondong-bondong mendaftarkan diri sebagai calon legislatif dari partai politiknya masing-masing. Berbagai golongan dan profesi calon legislatif akan meramaikan persaingan di pemilu 2014. Mulai dari politik handal dan kawakan hingga politikus karbitan akan bertarung di pemilu 2104., Sepertinya jabatan wakil rakyat entah itu di tingkat daerah atau pusat sangatlah menggiurkan seluruh lapisan masyarakat tak terkecuali.

Aneh bin ajaib banyak yang mendadak perduli dan ingin mewakili rakyat di dewan perwakilan rakyat, padahal untuk perduli sebenarnya tidak harus duduk di DPR-RI, DPRD tingkat 1 atau DPRD tingkat 2. Seperti banyak contoh yang telah dilakukan oleh beberapa masyarakat di Indonesia ini tanpa harus menjadi anggota legislatif, tapi sangat perduli bahkan melebihi keperdulian wakil rakyat aslinya. Apa sebenarnya yang menjadi motivasi calon legislatif dadakan, padahal mereka tidak perlu jadi anggota legislatif pun bisa berbuat banyak  bagi kepentingan dan kebaikan di masyarakat. Masa sih tertarik study banding atau sebutan yang terhormat. 

Siapapun memang berhak ikut menjadi calon legislatif, entah itu artis, pengusaha, dan lain sebagainya, tapi apakah semudah itu menjadi wakil rakyat.  Apakah modal populer, punya duit, cantik atau ganteng dan bisa ngoceh bisa menjamin dapat melaksanakan tugasnya sebagai wakil rakyat? Bukankah saat ini saja banyak produk undang-undang yang selalu mendapat perlawanan dari rakyat dengan aksi demonya? Lalu dimana letak wakil rakyatnya? Nah dari kejadian yang lalu-lalu, sepertinya tidak mudah menjadi wakil rakyat yang benar-benar mewakili rakyatnya.

Bila melihat kursi kosong disaat sidang saja itu membuktikan, bahwa mereka yang duduk di dewan perwakilan rakyat sesungguhnya tidak perduli dengan rakyat, apalagi mewakili rakyat. Mereka itu dibayar oleh rakyat dan dipilih oleh rakyat, tapi pada kenyataannya diantara mereka tega menyakiti hati rakyat. Tidakkah kenyataan ini menjadi bahan pemikiran bagi kita pemilih calon legislatif yang akan bertarung di pemilu 2014 nanti? Satu lagi kenyataan yang terjadi adalah calon legislatif karbitan rata-rata hanya mewakili rakyat disaat membutuhkan suara pemilih, setelah itu siapa lo?

Wakil rakyat bukan hanya sekedar bicara peduli disaat menjadi calon, tapi lebih dari itu. Kemampuan intelektual, moral, etika, sehat jasmani dan rohani calon legislatif sangatlah diperlukan dalam menjalankan amanah pemilihnya. Satu lagi sepertinya yang perlu diperhatikan dari para calon wakil rakyat di pemilu 2014 nanti, yaitu apakah mereka sepertinya memiliki rasa malu dan jangan sampai membuat malu bangsa nantinya seperti seniornya terdahulu. 

Belajar dari pengalaman yang telah lalu, dimana beberapa produk undang-undang selalu bertolak belakang dengan keinginan rakyat, kinerja buruk, kelakuan minor hingga terjerat korupsi ditemui dan dilakukan oleh sebagian dari yang terhormat di dewan perwakilan rakyat. Masa iya kita harus terjerembab kelubang yang sama hanya karena selembar gocap atau cepean, akhirnya sengsara dan beli tempe saja tidak sanggup. Kita harus cerdas dalam memilah dan mimilih siapa calon yang benar-benar mau bekerja untuk rakyat dan benar-benar memiliki kemampuan menjadi anggota legislatif.

Cerdas bukan berarti kita harus sarjana atau doktor dalam memilih calon legsilatif, tapi kita kita cerdas dalam melihat track record calon legislatif. Jangan sampai memilih calon hanya melihat keterkenalannya, cantiknya, gantengnya atau parahnya adalah duitnya. Dijamin, negara Indonesia ini akan hancur kesekian kalinya bila model mereka-mereka yang pernah tersangkut skandal dipilih pada pemilu 2014 nanti. Satu hal yang harus dipertimbangkan adalah tidak mudah dalam merumuskan satu ayat undang-undang. Lalu bagaimana bila memilih calon legislatif yang hanya bermodalkan populer, duit dan hanya jago membual?

Untuk memilih calon legislatif tidak beda ketika membeli suatu barang, dimana kualitas, penampilan atau harga menjadi bahan pertimbangan disaat membeli. Masyarakat Indonesia sebenarnya sudah maju, hanya saja disaat-saat sekarang ini kebiasaan menerima dan iming-iming rayuan gombal, apalagi disodori selembar duit kerap jadi lupa segalanya. Lalu setelah sekian tahun berikutnya baru menyadari si A yang saya pilih itu ternyata koruptor. Nah loh, gimana kalo itu terjadi lagi di tahun 2014? 

Sebagai bangsa yang telah merdeka sekian tahun lamanya dan sekian lamanya belajar, seharusnya di pemilu tahun 2014 tidak lagi terjebak rayuan gombal si mulut manis, tidak lagi melihat dia artis atau aktor, tidak lagi mau dibeli untuk memilih. Kitalah raja dan kitalah yang menentukan nasib calon itu tanpa paksaan dan tipuan mereka. Bangsa ini ada ditangan kita memang, bukan ditangan para calon wakil rakyat seperti ayng sudah-sudah. Jadi, dalam memilih wakil rakyat di pemilu 2014 yang dibutuhkan hanya satu, yaitu kecerdasan rakyat Indonesia dalam memilih.

Indonesia pasti lebih baik, lebih maju dan lebih sejahtera  bila rakyat Indonesia cerdas dalam memilih calon legislatifnya di pemilu 2014 nanti. Jangan sampai kita berjalan mundur seperti yang diajarkan menteri pendidikan, kita harus maju bersama bangun negara ini. Jangan pula kita malu, karena dijaman orde baru sebutan adil dan makmur bertebaran selama puluhan tahun, sedangkan sekarang kata itu seperti hilang. Ya, meskipun jaman itu meninggalkan luka dalam pada bangsa Indonesia. Apa salahnya bla setelah pemilu mendatang ada slogan lebih dari sekedar adil dan makmur, tidak seperti saat ini yang sama sekali tidak memiliki slogan kecuali slogan pujian palsu bangsa asing. 

Ayo saudaraku sebangsa dan setanah air, kita lupakan masa lalu dan pandang masa depan bangsa Indenesia untuk lebih baik dan tidak lagi menjadi bangsa besar hanya dalam sejarah. Bangsa Indonesia harus menjadi bangsa yang maju dan perduli pada rakyatnya, maka itu perlu kecerdasan pada pemilu 2014. Merdeka! Indonesia pasti maju, bila kita cerdas dalam memilih wakil rakyat di pemilu 2014. 

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!