Searching...
Minggu, 14 April 2013

Pentingnya Rasa Malu Dalam Membangun Bangsa Indonesia



Petingkah rasa malu dalam membangun bangsa Indonesia
Pentingnya rasa malu dalam membangun bangsa Indonesia sepertinya terlupakan, bila melihat kenyataan yang terjadi di Indonesia yang tidak banyak perubahan. Hilangnya rasa malu terjadi dimana-mana, bila melihat kekacauan yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia.

Kasus korupsi, kasus kekerasan hingga pembunuhan, kasus pelecehan seksual, hingga kasus mencotek ala anak sekolahan. Bukankah itu semua hal memalukan yang terus ada dan tidak pernah hilang dari negeri Indonesia tercinta? Bila memang ada, tolong sebutkan daerah mana di Indonesia ini yang telah terbebas dari kasus korupsi, terbebas dari kasus kekerasan, terbebas dari kasus pelecehan seksual atau telah terbebas dari kebiasaan mencotek? Apakah tidak malu bila ternyata terjadi seperti sekelompok anak SD yang sudah tidak bermoral ada di Indonesia?

Bangsa Indonesia seperti lupa dan terlalu bangga dengan nina bobo akal bulus kapitalis, hingga rasa malu bergeser demi kebanggaan, demi kepuasan dan demi pujian. Jujur kita sekarang ini seperti diselimuti oleh rasa bangga berlebihan, hingga lupa bahwa itu hanyalah selimut dan ketika selimut itu kotor yang didapat hanyalah keburukan dan keterpurukan. Dalih selimut demokrasi seringkali membawa bangsa yang saling bersaudara ini jadi berhadapan, baku hantam dan saling bermusuhan. Masih banyak lagi selimut bulus menutupi bangsa ini, hingga rasa malu bergeser jadi rasa tidak tahu malu.
'Malu' menurut Imam An-Nawawi adalah ‘akhlak mulia yang akan mendorong seseorang untuk meninggalkan keburukan dan mencegahnya dari melalaikan hak para pemiliknya’ 
'malu adalah akhlak (perangai) yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela, sehingga mampu menghalangi seseorang dari melakukan dosa dan maksiat serta mencegah sikap melalaikan hak orang lain' (al.manhaj)
Dalam ajaran agama manapun, khususnya Islam rasa malu itu sangat penting dan tidak bisa diabaikan. Tapi kenapa bangsa Indonesia yang beragama tidak mencerminkan bangsa yang memiliki rasa malu, bila melihat kejadian-kejadian memalukan yang kerap terjadi. Coba saja lihat wajah-wajah memalukan dari para koruptor yang ada di Indonesia. Memang tidak semua dari individu bangsa ini tidak memiliki rasa malu, tapi tetap saja akan terkena imbas bila ada orang atau pemimpin yang  tidak memiliki rasa malu. Lihat saja dan cari dimana letak rasa malu bila melakukan korupsi, melakukan pelecehan, melakukan tindakan kekerasan atau lain sebagainya. Akibatnya yang ditimbulkan bukan hanya dia atau mereka yang tidak punya rasa malu, tapi kita semua.
"Malu pada hakikatnya tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan. Malu mengajak pemiliknya agar menghias diri dengan yang mulia dan menjauhkan diri dari sifat-sifat yang hina"
"Malu adalah akhlak para Nabi , terutama pemimpin mereka, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih pemalu daripada gadis yang sedang dipingit"
“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘Lâ ilâha illallâh,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang Iman.” (al.manhaj)
“Iman dan malu merupakan pasangan dalam segala situasi dan kondisi. Apabila rasa malu sudah tidak ada, maka iman pun sirna” (HR Al-Hakim
Kalau saja bangsa Indonesia memiliki rasa malu, bangsa ini akan sejajar dengan bangsa maju lainnya dengan seabrek kekayaan alam yang dimilikinya. Tapi kenapa kenyataannya tidak pernah terjadi dan kebalikannya adlah Indoneisa masih menjadi anak kecil yang harus diberi asupan nutrisi secara terus menerus dari bangsa lain? Satu contoh paling tegas adalah bangsa Indonesia harusnya malu, karena ada badan seperti KPK. Bagaimana tidak malu, dengan KPK berarti mengisyaratkan bangsa ini rentan terhadap kasus korupsi? Saya pribadi malu dengan adanya KPK, KY atau MK, karena dengan keberadaan lembaga tersebut berarti ada ketidakberesan terjadi dan harus ada institusi seperti itu. 

Bila bangsa ini, terutama para pejabat basah memiliki rasa malu pastinya tidak akan kasus korupsi dan akhirnya tidak akan terbentuk KPK. Bila penegak hukum peradilan di Indonesia ini memiliki rasa malu dan bertindak adil, bisa dipastikan KY tidak akan terbentuk. Bila undang-undang produk pemerintah atau wakil rakyat itu berkualitas, dipastikan tidak ada protes karena produk undang-undang tersebut tidak dipertanyakan, tidak menimbulkan pergesekan dan lain sebagainya hingga kemudian perlu ditinjau kembali oleh institusi yang bernama MK. 

Semakin banyak lembaga pengawasan dari tingkat pusat hingga swadaya masyarakat, hal tersebut mengisyaratkan bahwa bangsa ini bangsa yang harus terus diawasi. Kenapa harus diawasi dan dipantau oleh mereka? Apakah harus bangga dengan seabrek lembaga pengawasan seperti KPK, KY, MK dan LSM-LSM dimana-mana? Silahkan bagi yang merasa bangga, namun saya pribadi tidak bangga sama sekali, malah merasa malu karena itu menandakan bangsa ini bangsa yang bermasalah. Mungkinkah rasa malu akan kembali diangkat dan menjadi bagian dari rasa yang dimiliki bangsa ini? Entahlah!
Bukti kehancuran tatanan kehidupan akibat menguapnya rasa malu itu sudah tampak secara kasat mata. Lihatlah anak yang berani melawan orangtuanya, bapak tega memerkosa anak kandungnya, gadis belia hamil tanpa menikah, pembantu rumah tangga membunuh anak majikannya, murid tanpa risih mencontek dalam ujiannya, guru merasa absah menelantarkan muridnya, istri tanpa beban mengkhianati suaminya, suami tanpa canggung menzinahi istri tetangga rumahnya. 
Tatanan kehidupan publik tidak kalah mengerikan. Orang mengaku wakil rakyat justru menipu rakyat, mengaku pemimpin negara justru merampok uang negara, mengaku penegak hukum justru melanggar hukum, mengaku ulama justru menyesatkan umat, mengaku pejuang HAM justru menginjak-injak HAM, mengaku pelindung masyarakat justru bertindak bagai preman.
Sungguh memilukan tatanan kehidupan jika tanpa rasa malu hadir di dalamnya. Kemaksiatan dan kebejatan moral dianggap absah dan lumrah belaka. Masyarakat manusia tetapi tidak ubahnya kumpulan binatang. Manusia yang seharusnya berkualitas ‘ahsana taqwim’ malah terjun bebas ke tingkat ‘asfala safilin’. Inilah yang sudah disinyalir Allah dalam Alquran, “Sungguh telah Kami ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya” (Qs At-Tin: 4-5). (republika)
Bila rasa malu menjadi bagian dari sikap dalam membangun bangsa Indoneisa, dijamin Bangsa Indoneisa akan menjadi lebih besar dari beberapa negara lain yang tidak sekaya bangsa ini. Bangsa ini akan mandiri, bangsa ini tidak akan tergantung hutang, bangsa ini tidak dilecehkan bangsa lain, bangsa ini akan menjadi bangsa yang disegani dan lain sebagainya. Malu untuk korupsi, malu untuk mennindas saudara sendiri, malu melecehkan saudara sebangsa, malu memeras bangsanya sendiri, apalagi malu memeras bangsa sendiri demi kepentingan bangsa lain.

Dengan rasa malu, individu yang beruntung tidak akan mencari, menekan dan  mengakali suadara sebangsa demi keuntugan pribadi. Sebaliknya bagi individu bangsa yang tidak beruntung, tidak menghalalkan segala cara dalam memperoleh keberuntungan mengabaikan rasa malunya. Sudahkan kita memiliki rasa malu? Ya, seperti malu nyontek, malu copas, dan lain sebagainya? Maaf, kalau mau maju ya jauhkan hal-hal yang bertolak belakang dengan rasa malu. Penerapan rasa malu sangat perlu dimulai dari pribadi hingga tingkat atas bangsa ini, agar bangsa ini tidak lagi jalan ditempat, tidak dilecehkan dan tidak dianggap bangsa yang tidak tahu malu dengan tindakan kourpsi, pelecehan, kekerasan,  copas dan lain sebagainya kali ya. 

Rasa malu sepertinya adalah mutlak dan lebih dari sekedar penting dalam membangun bangsa Indonesia. Karena itu, entah kita,  keluarga atau pun para elit diatas sana perlu  menanamkah rasa malu sebagai bagian dari perilaku kesehariannya di negara ini. Bukan rasa malu untuk tidak mengaku salah bila bersalah,    bukan rasa malu untuk tidak memeras saudara sebangsanya sendiri dan rasa malu lain yang dimiliki oleh kita, apalagi umumnya kita merasa malu bila tidak lagi disebut hebat.
Di antara sifat malu yang tercela adalah malu untuk menuntut ilmu syar’i, malu mengaji, malu membaca Alqur-an, malu melakukan amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi kewajiban seorang Muslim, malu untuk shalat berjama’ah di masjid bersama kaum muslimin, malu memakai busana Muslimah yang syar’i, malu mencari nafkah yang halal untuk keluarganya bagi laki-laki, dan yang semisalnya. Sifat malu seperti ini tercela karena akan menghalanginya memperoleh kebaikan yang sangat besar. (al.manhaj)
Pada akhir tulisan ini, saya rasa kita semua sebaiknya mengedepankan dan menjadikan pentingnya rasa malu dalam prilaku keseharian mulai saat ini juga, kecuali kita memang sudah tidak punya rasa malu. Indonesia perlu perubahan, negara Indonesia memerlukan dukungan seluruh rakyat yang memiliki rasa malu. Kita semua perlu memiliki dan mengembalikan rasa malu itu dalam membangun negeri ini, sesuai dengan bidang kita masing-masing. Dijamin Indonesia pasti maju!

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!