Searching...
Minggu, 28 April 2013

Konsentrasi BNN Seharusnya Bukan Raffi Ahmad

Konsentrasi BNN Seharusnya Bukan Rafi AhmadKonsentrasi BNN seharusnya bukan Raffi Ahmad, melainkan pada pemberantasan gembong alias bandar narkoba di Indonesia. Kasus Raffi hanyalah kasus kecil yang tidak perlu menjadi seramai kemarin-kemarin,  bila hanya terbukti dengan beberapa pil kapsul methylon dan dua linting ganja. Kemelut sekian lama antara kubu BNN dan kubu Raffi Ahmad sangat membingungkan, hingga untuk penangguhan saja harus melibatkan beberapa pihak dan pada waktu yang lama. Akhirnya hari Sabtu, 27 April 2013 penangguhaan penahanan diberikan oleh BNN, setelah Raffi menjalani proses rehabilitasi di Lido, Bogor, artinya Raffi Ahmad bisa kembali ke rumahnya. 

Entah apa sebabnya kasus Raffi Ahmad menjadi sebuah kemelut, tidak seperti kasus artis sebelumnya yang tidak seramai kasus Raffi Ahmad. Pastinya kasus Raffi Ahmad ini sangat menguras waktu, tanaga dan biaya yang sangat besar, bila dibanding kasus narkoba artis lain sebelumnya. Apa sebenarnya penyebab ramainya kasus Raffi Ahmad? Sangat membingungkan dan misterius, serta tidak jelas! Kasus Raffi Ahmad bagaikan kasus demo reformasi atau kerusuhan Mei 1998, kisruh, ramai dan seru.

Kalau memang mau serius dan bertolak pada hukum dan keadilan, penggunaan obat dengan mengandung methylon tidak tergolong pada pelanggaran. Kandungan zat methylon belum ada didalam undang-undang narkoba, kecuali ganja. Nah, dua linting ganja itu mungkin alasan masuk akal, asalkan memang benar terbukti ganja tersebut adalah milik Raffi Ahmad. Kecuali dikemudian hari setelah zat methylon tersebut dimasukkan kedalam undang-undang narkotika da obat terlarang, barulah pengguna seperti Raffi Ahmad bisa dijerat hukum.

Yang menjadi perhatian saya sebagai masyarakat umum adalah: kenapa BNN tidak konsentrasi pada pencegahan pada masuknya narkoba ke negeri ini.? Indonesia ini lucu, ada badan narkotika nasional, tapi masih banyak barang haram itu dan penggunanya. Ya seperti adanya Komisi Pemeberantas Korupsi )KPK), tapi masih ada dan makin jago kiat pelaku korupsi di negeri ini. Dimana letak permasalahannya, bukannya ada BNN seharusnya narkotika makin lama makin hilang atau dengan adanya KPK, korupsi lenyap dari dari Indonesia?

Untuk pencegahan sebenarnya bisa saja dilakukan oleh BNN dengan monitoring langsung, yaitu menempatkan anggota BNN distiap pintu masuk atau yang ditenggarai rawan sebagai pintu masuk narkoba. Bukannya selama ini, yang menggagalkan masuknya barang haram itu adalah beacukai bandara atau pelabuhan? Satu dua bisa terdeteksi, tapi enam tujuh delapan dan sembilan lolos, karena pada kenyataannya pengguna narkoba buanyak sekali. Mau bukti, silhakan lihat di RSKO Cibubur, penuh sesak dengan pecandu narkoba collapse, belum lagi dipembantaran BNN dan yang belum terjaring atau sudah Over Dosis (OD= siap dikubur).

Pintu masuk rawan masuknya barang haram narkoba umumnya di bandara-bandara atau pelabuhan internasional. Apakah petugas BNN ada disetiap tempat rawan tersebut? Kaalu tidak ada, kenapa tidak disiagakan ditiap-tiap tempat itu? Saya yakin, dengan kecanggihan teknologi dan keseriusan pihak BNN (pemerintah),  pemberantasan narkoba bukan hanya isapan jempol. Akibatnya lolosnya barang haram itu, Raffi Ahmad dan sekian banyak generasi muda jadi korban dan bahkan harus mati muda sia-sia.

Ayo dong Mr. BNN jangan hanya tegas pada kasus Raffi,  tolong lebih tegas dan semangat pada pencegahan masuknya barang haram di Indonesia. Jangan menunggu laporan dan jangan menunggu sakau atau terjadinya kasus baru BNN turun tangan. Pasang petugas BNN dan peralatan canggih dari uang rakyat untuk mencegah masuknya barang haram disetiap pintu masuk gembong dan bandar narkoba disetiap bandara atau pelabuhan. Begitu saja ko repot,  mr. BNN ! Masa harus menunggu dan mengorbankan anak bangsa yang belum mengerti dan tidak tahu. 

Sosialisasi sudah dan iklan anti narkoba sudah, yang belum adalah menangkap gembongnya saja saat ini. Tidak mungkin gembong narkoba itu terbang seperti superman atau gundala dan tidak terdekti oleh alat canggih saat ini, kecuali 'ada apa-apanya'. Untuk itu, sebagai bagian dari bangsa ini, saya menghimbau, agar konsentrasi BNN difokuskan pada masuknya barang haram itu dan pada gembong/bandar, bukan hanya pada kasus Raffi yang geger gondes. Mudah-mudahan saja pihak dari mr. BNN ada yang mengintip tulisan ini. Jangan salah, kejadian kasus Raffi Ahmad adalah pelajaran atau menjadi bahan masukan bandar untuk bertepuk tangan

Mereka, para bandar atau gembong barang haram sekarang ini sedang tertawa dan jaya. Come on mr BNN, sikat gembong dan bandar. cegah masuknya barnag haram, ramaikan kasus pencekalan bandar atau gembong, kalau perlu buka dan terlarang bagi gembong untuk didampingi tim pembela di pengadilan seperti Amerika akan memproses pelaku bom Bosotn. Hukum mati gembong dan bandar narkoba, jangan berlakukan remisi seperti yang pernah terjadi. Selamat Raffi Ahmad dan semoga tidak lagi menyentuh barang haram itu lagi. Tidak ada cara atau obat penghilang lelah terbaik, kecuali istirahat yang cukup! Kasus Raffi Ahmad menjadi pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia, yaitu dengan ditemukannya tanaman Khat yang sudah lama tumguh subur dan diperjual belikan di Indonesia sebagai teh Arab.

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!