Searching...
Rabu, 10 April 2013

Kenaikan Harga BBM itu Mendesak atau Terdesak?


Untuk Siapa Kenaikan Harga BBM
Dalam waktu dekat pemerintah akan mengumumkan kenaikan harga BBM bersubsidi, sesuai dengan seruan IMF bahwa subsidi lebih banyak dampak negatif dibanding manfaatnya. Menafsirkan penjelasan SBY kemarin malam, kenaikan harga BBM yang tidak bisa ditunda lagi itu untuk kebaikan rakyat Indonesia sendiri, bila tidak pembangunan akan terganggu. Jadi bingung nih, sebenarnya kenaikan harga BBM itu Mendesak atau terdesak?

Sepertinya memang kenaikan harga BBM itu sangat diperlukan dan pasti akan semakin membantu keuangan negara dalam melaksanakan pembangunan. Selain itu juga, dengan kanaikan harga BBM akan membuat rakyat Indonesia lebih mandiri dan berhemat dalam pemakaian BBM sehari-hari. Lantas sebagai kompensasi dari kelebihan dana penghapusan subsidi akan dibagikan kepada rakyat miskin. Menurut saya tujuan dan alasan tersebut sangat baik sekali, Rakyat Indonesia jadi mandiri dan rakyat miskin akan terbantu.

Untuk kelompok yang pro mungkin kenaikan harga BBM tidak berarti apa-apa dan tidak mempengaruhi kehidupannya, tapi bagi yang pas-pasan dan senin kamis mungkin tidak setuju dengan rencana kenaikan BBM tersebut. Seperti pengalaman kenaikan BBM sebelumnya, sepertinya kenaikan kali ini tidak akan jauh berbeda dan kemudian akan diilupakan seiring waktu berjalan. Entah karena apa mereka yang berteriak tidak setuju lalu diam, dan atau yang diteriaki tak mau mendengar dan membuat bosan peneriak. 

Ada hal mengganjal dan menimbulkan pertanyaan perihal kenaikan BBM dalam waktu dekat ini, diantaranya adalah:

Benarkah Kenaikan BBM Bukan Akibat Tekanan IMF?

Dari dulu hingga kini semua tahu bila Indonesia sangat bergantung pada IMF, dan badan-badan keuangan dunia lainnya. Cuma herannya prinsip mudah ekonomi sepertinya tidak pernah terjadi di Indonesia, karena selalu berhutang dan tidak pernah jauh dari ketergantungan dari bantuan bantuan .negara-negara lain, terutama negara barat atau maju. Padahal dalam skala kecil, pedagang nasi goreng yang mendapat pinjaman entah darimana saja, pada suatu waktu tidak lagi meminjam dan bisa mandiri bahkan mampu mengembangkan sayap. Kenapa Indonesia tidak ya?

Coba bila melihat kekayaan alam Indonesia yang berlimpah dimana-mana, tapi ko tetap saja tergantung dari bantuan asing. Alih-alih bantuan teknologi, anulah inilah dan itulah yang akhirnya barter dengan isi perut kekayaan Indonesia. Menurut saya sih Indonesia itu seperti anak sekolah yang tidak pernah naik kelas, tidak pernah mau belajar dan tidak pernah mau maju. Bagaimana tidak dikatakan seperti itu, wong nyatanya memang kita (Indonesia) jalan ditempat.

Saya heran sekali dengan begitu takutnya Indonesia pada badan-badan keuangan dunia seperti IMF dan sebagainya itu. Begitu mudahnya meminjam dan herannnya habis terus itu modal kalau bicara dagang. Kemana larinya si duit itu? Oh barangkali habis untuk subsidi BBM, kalau demikian adanya ya wajar demi kepentingan seluruh rakyat Indonesia dari kelas bawah hingga kelas atas. Indonesia seperti buah kelapa bagi negara-negara maju, dikerok habis dari isi, kulit hingga batoknya.

Padahal dalam buku sejarah, kemerdekaan dan kedaulatan negara Indonesia itu bukan berasal dari negara-negara barat (IMF), semua diperoleh dengan perjuangan dan kemudian merdeka dengan segala kekurangan. Tapi kenapa sekarang sepertinya sama seperti jaman perjuangan kemerdekaan dulu? Perbedaannya hanya pada triknya saja menurut saya, kalau dahulu asing menjajah dengan senjata, sekarang dengan dollar. Salah berpendapat seperti ini, bukankah ini kenyataan yang terjadi di Indonesia saat ini? Benar atau salah, menurut saya negara Indonesia memang sangat takut dengan badan keuangan dunia seperti IMF dan sejawatnya, hingga menurt saja saran mereka untuk menghapuskan subsidi energi bagi negara-negara berkembang.
WASHINGTON – Dana Moneter Internasional (IMF) menyerukan kepada negara-negara yang memberlakukan subsidi energi untuk memangkas subsidi karena lebih banyak dampak negatif dibanding manfaatnya. Sebelum kena pajak (pre-tax), subsidi produk minyak dan gas (migas), listrik, gas, dan batubara global mencapai US$ 480 miliar pada 2011. Subsidi energi bertujuan untuk melindungi konsumen dengan menekan harga. “Namun subsidi menyebabkan ketidakseimbangan fiskal, menekan investasi swasta, mendistorsi alokasi sumber daya dengan mendorong konsumsi energi yang berlebih,” bunyi pernyataan IMF dalam laporan terbaru mengenai reformasi subsidi energi. (TSR)
Bila ditolak atau melawan, kemungkinan Indonesia akan kesulitan dalam meminjam dana yang berasal dari badan-badan keuangan seperti IMF dan sejenis lainnya, jadi mau tidak mau ya manut pada si tuan Dollar agar alasan pembangunan tetap bisa berjalan.  TDL sudah naik, BBM akan naik, Commuter bakal naik dan apalagi kira-kira yang akan naik lagi. Kenapa Indonesia tidak seberani Iran yang cuma mengandalkan minyak buminya?

Benarkah Penghapusan Subsidi Membuat Rakyat Indonesia Mandiri?

Untuk pertanyaan ini sebenarnya jawabannya sangat benar sekali dan setuju, bila kenaikan harga BBM adalah salah satu dari penghapusan subsidi energi di negeri ini akan membuat rakyat lebih mandiri, lebih berhemat dan lebih cerdas dalam berhitung pada penggunaan BBM serta sumber energi lainnya. Hanya saja, kenapa ko pemerintah yang diwakili oleh entah apa namanya badan itu, tidak pernah mandiri. Dari dulu hingga saat ini masih saja membeli BBM import, padahal bahan dasarnya kan berasal dari perut ibu pertiwi bumi Indoneisa tercinta ini.

Sekian lama sejak kemerdekaan, masa Indonesia hanya bisa menghasilkan minyak mentah dan itu pun banyak diberikan, dilakukan dan dimandatkan kepada asing. Masa iya sekian tahun tidak bisa mengolah sendiri hasil bumi seperti minyak bumi itu? Masa pemerintah Indonesia hanya memiliki Balongan, kenapa tidak dibuat Balongan-balongan lainnya diseluruh penjuru negeri yang kaya minyak buminya? Aneh bukan, rakyat diminta berdikari, minyak mentah dikirim keluar dan dibeli kembali. Bodohnya saya!

Bangkrutkah Indonesia Bila Memberi Subsidi Energi?

Untuk pertanyaan ini agak ribet jawabnya, karena kalau pakai kata bangkrut ya seharusnya Indonesia sudah bangkrut. Kenapa begitu? Ya iyalah, masa ngutang sepanjang masa dan tidak pernah bisa menggunakan modal pinjaam seperti pedagang nasi goreng. Indonesia terbuai dengan hutang luar negeri dan lupa untuk mandiri. Indonesia bisa dibilang tidak bangkrut, bila minimal bisa membayar hutang tersebut dan kemudian tidak berhutang lagi. Coba saja ngutang di bank seperti Indonesia, sudah bisa dipastikan akan ditolak dan dianggap bangkrut! Mungkin kekuatiran dari pendemo yang mendukung kenaikan BBM dari serangkaian penghapusan subsidi energi seperti telat mikir. Amerika Serikat saja masih memberlakukan subsidi, kanapa Indonesia tidak boleh?

Kenapa Setiap Kenaikan Selalu Ada Sejenis BLT?

Menurut saya kebijakan bantuan serupa BLT entah siapa nanti yang memberikan dan siapa yang mencitrakan itu kurang mendidik dan kebijakan diskriminasi antara rakyat miskin dan kaya, kelas bawah dan atas. Bukannya kita semua ini miskin, kan itu bisa dilihat dari negera ini yang selalu berhutang? Siapapun yang berhutang sudah pasti dia itu tidak berdaya dan kekurangan seperti Indoneisa, lalu kenapa ada istilah rakyat miskin lagi? Berarti Indonesia terdiri dari dua  golongan masyarakat, yaitu rakyat miskin dan super miskin yang harus diberikan bantuan sejenis BLT disetiap kenaikan BBM.

Bila melihat golongan di Indonesia ini secara normal dan tidak mengingat bahwa negara ini selalu berhutang memang ada tiga golongan, yaitu masyarakat golongan atas, menegah dan bawah. Nah, menurut saya pun masyarakat golongan menengah dan atas (baca bukan koruptor) juga membayar pajak ini itu, lalu kenapa dibedakan dan dipertegas dengan istilah masyarakat miskin? Lebih baik kenaikan dihitung pas-pasan hingga tidak berlebih dan tidak perlu ada kompensasi bantuan penghibur sejenis BLT. Rakyat kelas bawah tidak terlalu berat, harga tidak terlalu melonjak dan tidak ada sebutan kata masyarakat miskin (tidak mampu). Kalau pun berlebih ya tinggal alokasikan pada pembangunan negeri ini, seperti bantuan pendidikan, kesehatan atau bantuan infrastruktur lain yang bermanfaat.

Selebihnya ya lakukan efesiensi, perketat penggunaan anggaran negara dan cegah terjadinya korupsi untuk bisa eksis. Saya yakin lambat laun Indonesia bisa berdiri sendiri dan berkata tidak untuk berhutang. Kelola kekayaan alam Indonesia untuk bangsa Indonesia sendiri. Jangan salah kita disuruh menuruti aturan mereka si rakus barat untuk ini dan itu, untuk menjual manggis di Australia saja butuh waktu 6 tahun baru bisa masuk. Apa namanya itu, bukankah mereka itu mau menang sendiri dan mengakali alias membodohi kita yang bodoh berkepanjangan ini? Jangan dong! Sekarang sudah tahun 2013, Indonesia harus bisa mandiri dan mungkin itu bisa terjadi bila kita memiliki pemimpin yang betul-betul Asli Indonesia.

Hal lain yang berdampak negatif dari bantuan sejenis BLT pastinya membuat masyarakat menjadi malas, terbiasa dimanjakan, dibodohi dan sekedar pencitraan semata dari pemberi bantuan karena selalu berdekatan dengan pesta demokrasi pemilu atau pilpres. Sampai kapan Indonesia terdesak dan mendesak untuk menhilangkan subsidi? Mohon maaf, tulisan ini hanya  curhat sebatas kemampuan sebagai rakyat biasa seperti saya.

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!