Searching...
Rabu, 24 April 2013

Jerat Pelaku Bom Boston Cukup Gunakan data Intelijen


Jerat Pelaku Bom Bosotn Cukup Data Intelijen
Ini berita menarik, bila sekaliber Amerika Serikat jerat pelaku bom Boston dan dalam proses hukumnya cukup gunakan data intelijen. Lucu juga ketika membaca pola pikir orang Amerika Serikat pada tersangka kasus bom Bosotn beberapa waktu lalu. Seperti tulisan Lindsey Graham yang berjudul Boston Suspect's 'Ties To Radical Islamic Thought' Justifies 'Enemy Combatant' Status. Pada tulisan itu disebut kita atau mungkin yang dimaksud adalah pihak berwenang Amerika Serikat dapat menangkap dan menahan tersangka tanpa perlu didampingi oleh pengacara. Berarti untuk proses hukum tersangka, data yang digunakan cukup dengan menggunakan data intelejen.

Sepertinya bila sudah bicara harga diri semua jadi serba mungkin, apalagi peristiwa itu terjadi di Boston Amerika Serikat. Istilah kata, ente jual ane beli terjadi juga di Amerika yang konon memiliki pemikiran maju. Yah, memang siapapun sangat marah bla peristiwa serupa bom Bosotn terjadi di daerahnya. Hanya saja ko dalam menyikapi kasus tersebut, terutama pada tersangka kasus bom Bosotn jadi kurang nalar dan turun derajat. Entah itu alasannya, tuduhannya ataupun cara mereka yang maju pola pikirnya jadi serampangan juga.

Ada beberapa hal yang membuat saya geli, lucu dan bingung ketika membaca berita tersebut diatas. Pertama  adalah mereka (Amerika Serikat) selalu gembar-gembor tentang hak asasi, tapi kenapa mereka memperlakukan tidak adil pada tersangka dengan tanpa perlu didampingi oelh pengacara. Kedua, mereka itu  negara besar modern yang tingkat kesadaran dan sistem hukumnya jauh diatas rata-rata, tapi kenapa dalam memproses tersangka sepertinya fakta hanya cukup berasal dari data intelijen dan bukan fakta hukum. Jelas sekali tersangka bom Boston dikebiri dalam proses hukumnya, bila tidak didampingi oleh pengacara.

Lainnya yang membuat lucu adalah lagi-lagi menyebut Islam sebagai dalang pengeboman, padahal belum tentu pelaku bom Bosotn itu Islam. Bukankah pola berpikir tersebut membuat keruh suasan, terutama bagi yang beragama Islam? Menurut saya sikap memojokan Amerika yang selalu membuat Islam sebagai tempat pentalan bola pingpong sekedar bela diri menutupi kelemahannya. Belum tentu pelaku bom Boston Tsarnaev yang berasal dari Chechnya itu adalah Islam radikal. Bisa banget nih orang amrik kalau beropini.

Ada tapinya nih dalam tulisan ini, meski sedikit diluar jalur hukum, sepertinya Amerika Serikat begitu perduli dengan keselamatan penduduknya. Nah, bagi tersangka pelaku kejahatan yang merugikan masyarakat seperti bom Boston itu bisa dianggap musuh. Berbeda sekali dengan Indonesia, penjahat yang jadi musuh rakyat dibela mati-matian, rakyat tidak berarti apa-apa kecuali rakyat itu berduit dan ada dilingkaran penguasa. Coba kita lihat saja para penjahat koruptor yang masuk dalam kategori penjahat luar biasa, selalu mendapat dukungan dan pembelaan atas dasar hak asasi manusia atau apalah namanya yang cocok. Negara yang pola hukumnya sangat baik saja masih melanggar hak asasi manusia untuk suatu alasan yang masuk akal, tapi kenapa Indonesia terbalik?

Saya pribadi setuju dengan proses hukum yang diambil oleh Amerika Serikat, bila alasan tersebut adalah untuk kepentingan rakyat atau membela diri. Apa yang dilakukan Amerika Serikat adalah contoh dalam mengatasi suatu hal genting membahayakan negaranya, karena memang bom Boston itu telah melecehkan Amerika Serikat, terutama lemahnya sistem keamanan disana. Tindakan taktis seperti itu bolehlah, selagi tidak memancing atau menyebut dan lagi-lagi meojokkan Islam sebagai pelaku. 

Perlakuan hukum pada tersangka bom Boston yang tidak didampingi oleh pengacara memang satu metoda penjeraan bagi siapapun yang akan melakukan hal serupa. Bagaimana dengan Indonesia? Apa ada tindakan penjeraan, apabila ada penghinaan atau pelecehan dan kejahatan yang merugikan serta merongrong bangsa Indonesia? Seperti para koruptor itu, bukankah mereka itu luar biasa jahatnya dan perlu diperlakukan seperti Amerika memperlakukan penjahat yang merugikan dan mengancam negaranya? Bukankah koruptor mengancam bangsa ini? Bukankah pelaku korupsi itu merugikan perekonomian negara ini? Lalu kenapa takut dan tidak pernah bertindak tegas menjerakan?

Berita itu benar-benar berbanding terbalik dengan kondisi negara tercinta ini, itulah yang membuat lucu ketika membacanya. Disana, di negara maju begitu berharganya nyawa manusia, begitu tinggi rasa patriotik pada bangsanya, kemudian mereka akan berbuat apa saja untuk melindungi rakyatnya dari bahaya yang mengancam. Apakah itu terjadi di Indonesia? Ehm, mungikn ya mungkin tidak bila melihat kenyataan yang terjadi. Rakyat kerap diadu domba oleh kepentingan elit, rakyat sering dijadikan tameng dan rakyatlah yang harus menanggung beban kesulitan akibat ulah para pelaku tindak korupsi. 

Bila tulisan ini salah ya maaf saja, tapi dimana dan apa buktinya keadilan telah berjalan di negeri ini ? Wong di Indonesia ini hukuman koruptor sekian milyar slow saja atau mungkin ada juga yang aman-aman saja meski telah mengakibatkan korban jiwa, asalkan dia itu ada dilingkaran atas. Coba rakyat biasa seperti kejadian kecelakaan yang menyebabkan korban meninggal dunia beberapa waktu lalu, bisa nangis Bombay menyesali perbuatannya dibalik terali besi sel rumah tahanan. Kapan ya Indonesia ini pemerintahnya sangat perduli dengan rakyat dan harga diri Republik Indonesia? Masa harus nyanyi lagu "Kapan-kapannya Koes Plus? Semoga saja Indoneisa kedepan memiliki sistem dan pemimpin yang perduli serta sayang pada rakyatnya. Berarti bisa dikatakan pemahaman hak asasi manusia Indonesia kelewat diatas Amrik yang jerat pelaku bom Bosotn cukup gunakan data intelijen.

0 comments:

Poskan Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!