Searching...
Jumat, 12 April 2013

Bila Orang Tuaku Adalah Seorang Koruptor


Bila orang tuaku adalah koruptor
Sikap apa yang akan diambil bila orang tuaku adalah seorang koruptor? Sadar atau tidak, mungkin hal yang satu itu tidak pernah diinginkan dan terpikir oleh seorang anak. Handphone BB baru masih terbungkus kotak hingga mobil baru bisa didapat oleh anak dari ayah atau ibunya. Namun pernahkah terpikir dari mana asal muasal uang untuk membeli sesuatu itu, apalagi tidak jarang dan umum bila dihitung secara matematika barang tersebut itu tidak akan mungkin terbeli.

Siapapun orangnya bisa dipastikan tidak akan berani menanyakan sumber penghasilan orang tua, padahal apa yang diberikan orang tua kepada anaknya itu akan berdampak panjang. Bagaimana tidak panjang, bila anak selalu diberikan sesuatu yang dihasilkan secara tidak sah alias haram? Bagaimana jadinya si anak kelak jika dewasa? Bukankah si orang tua itu secara tidak langsung mendidik anaknya untuk menjadi seperti dirinya, ya karena terbiasa diumpani oleh sesuatu yang buruk.

Untuk seorang anak yang sudah dewasa mungkin sadar dan bisa menebak apakah orang tuanya itu jujur atau seorang koruptor dalam mencari nafkah. Bagaimana dengan anak yang belum mengerti dan selalu dipenuhi oleh kebutuhan hidup yang berasal dari prilaku orang tua koruptor. Mereka ini terbiasa hidup serba ada, serba terpenuhi dan sejahtera dari kecil, bahkan mungkin hingga dewasa. Setelah dewasa dan mengerti pun kadang tidak pernah ambil pusing dengan ketimpangan jabatan orang tua dan hasil yang dinikmatinya. Diam dan diam, seolah-olah tidak mengerti dan tidak mau tahu, yang penting menikmati dan enjoy.

Pengaruh buruk orangt tua koruptor itu bisa menular pada anaknya, misalnya si anak berperilaku boros, ugal-ugalan dan nyeleneh karena fasilitas dari orang tua yang berbeda dari teman-temannya. Bagaimana anak seorang koruptor itu bisa diberi nasehat untuk tidak boros, atau orang tua koruptor akan berani menasehati anaknya seperti," Nak kamu harus berhemat dan jangan hambur-hamburkan uang, karena mencari uang itu sulit!" Bila nasihat seperti itu diberikan oleh orang tua koruptor, berarti hanya ada satu arti dari kata 'sulit', yaitu sulitnya ayah atau ibu dalam melakukan tindakan korupsi. Apakah si anak memahami arti sulit? Jawabannya tidak, mereka akan berpikir sulit dengan konotasi bersusah payah secara jujur. Sikap buruk anak seperti boros itu, disebabkan si orang tua selalu bisa dan memaksakan diri memenuhi kebutuhannya. Entah pemberian orang tua itu memang benar-benar dibutuhkan, untuk trend, atau atau sebagai pembeda status agar bisa disebut orang 'kaya'.

Jujur saja bila orang tuaku adalah koruptor, maka aku tidak bisa berbuat apa-apa. Mau menanyakan salah, mau protes dosa, akhirnya diam pura-pura tidak tahu dan yang terpenting hidup enjoy terus. Anak tidak boleh protes kepada orang tua, apalagi marah karena tahu orang tuanya itu seorang koruptor. Dosa! Kualat! Durhaka! Lalu harus berbuat apa dan bagaimana negara ini bisa bersih dari koruptor. Maaf saya, anda dan bapak-bapak yang katanya benci koruptor apa sadar dengan apa yang telah diberikan oleh orang tua waktu dulu? Apakah pernah menanyakan atau meminta orang tau untuk menjelaskan bagaimana dan darimana sumber penghasilan yang diberikan kepada kita waktu itu? Nonsen alias tidak akan pernah terjadi.

Coba kita lihat dari rumor (semoga betul-betul rumor), setelah dewasa pun si anak itu kadang secara terbuka diajarkan untuk melakukan korupsi. Seperti apa itu? Ya, yang satu ini rasanya sudah umum bila si anak mau jadi pegawai negeri atau masuk sesuatu 'A', 'B' atau 'C' harus menggunakan RP. Lalu kemudian setelah menjabat atau jadi ditempat itu ya mesti cari cara untuk balik modal, seperti prinsip ekonomi pada umumnya mau untung besar ya harus dengan modal besar. Nah, susahnya kemudian adalah balik modalnya tiu dipaksakan dari celah sempit dan terlarang, yaitu korupsi. Bukankah berarti si anak telah menjadi korutor seperti orang tuanya.
Sulit rasanya sekarang ini mencari orang tua yang benar-benar jujur dari tidak korupsi. Entah itu pegawai negeri atau swasta, seperti angaka satu dua dan tidak berbeda. Siapa orangnya dan apa profesinya yang mau menjelaskan kepada anaknya perihal sumber rupiah yang didapatnya. Memang kategori korupsi yang terjadi sehari-hari berbeda secara hukum dan baru bisa dibilang koruptor bila si orang tua itu tertangkap KPK, bila tidak ya belum bisa dibilang koruptor. Betul tidak ya? Padahal korupsi bila benar-benar dimerngerti dan dipahami sedetail-detailnya, bisa dipastikan tidak ada tukang catut di glodok, tidak ada kata damai dijalan, tidak ada korek api terbang, tidak ada telat ngajar atau bolos kerja, tidak main fb atau bb-an di jam kerja, dan masih banyak lagi tidak serta tidak selanjutnya.

Bila orang tua kita itu adalah seorang pengusaha, apakah yakin dalam memperoleh proyek tidak ada komisi-komisian? Tidak ada entertainment di hotel atau lain sebagainya seperti kasus daging sapi beberapa waktu lalu. Bila orang tua kita adalah seorang purchasing, apa yakin tidak ada mark up atau komisi dari penjual? Sepertinya tidak pernah ada purchasing yang kere, mereka rata-rata parlente. Oh, orang tuaku hanya seorang pedagang buah di emperan jalan dan pasti tidak akan pernah korupsi! Eit jangan salah, bagaimana dengan timbangan? Apa sudah benar-benar sesuai ukurannya atau bila tidak menggunakan timbangan, apakah benar-benar memberikan informasi yang benar pada kondisi buah yang dijualnya itu? 

Berbanggalah bagi orang tua yang berprofesi sebagai penjaga mesjid atau tukang sapu jalan, karena sulit dan tidak ada celah untuk melakukan korupsi. Orang tua berpofesi seperti itu tidak akan pernah mengeluarkan bahasa seperti  orang tua umumnya yang mengatakan dapat objekan atau bisnis, makanya bisa beli ini dan itu, padahal sesungguhnya adalah melakukan korupsi meski belum berstatus koruptor. Lucunya si anak koruptor sekarang banyak yang berteriak anti korupsi, benci koruptor atau sebagai pemberantas korupsi dan lupa bila pernah menikmati hasil jerih payah korupsi orang tuanya dulu. Siapapun orang tuanya hingga saat ini tidak risih dengan kata koruptor, selama tidak tertangkap KPK. Risiko tidak masalah melihat kondisi negara ini yang serba mahal, serba global mengikuti trend dunia internasional. Mungkin itulah yang memaksa orang tua melakukan korupsi, jadi alasannya adalah terpaksa. Semua pakai Rp dan semua semakin mencekik leher, nah makanya wajar bila orang tua melakukan korupsi dan wajar pula bila hukum bagi pelaku korupsi itu ringan.

Kesimpulannya menurut saya bila orang tuaku adalah seorang koruptor, bisa jdipastikan tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menunggu orang tuaku tertangkap KPK. Kalau tidak tertangkap ya berarti bukan koruptor, meskipun kekayaan orang tuaku itu berlimpah dengan pangkat dan jabatan seperti Gayus. Tertangkap KPK pun kehidupan masih bisa mewah dengan simpanan berlimpah atas nama samaran. Jadi, mau bilang apa lagi, mennurut agama dilarang bicara keras pada orang tua, dosa dan kualat menurut para orang tua dulu.  Akhirnya ya cuma bingung, diam dan menikmati hidup sajalah. Salam koruptor! Sulit mencari terjemahan dari korupsi yang sebenarnya dan sulit untuk tidak melakukan korupsi di tengah negeri ini bergaya kapitalis malu-malu kucing. 

0 comments:

Poskan Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!