Searching...
Kamis, 07 Maret 2013

M. Rasyid Amrullah Sebaiknya Dibebaskan Saja


M. Rasyid Amrullah Sebaiknya dibebaskan saja
M.Rasyid Amurllah sebaiknya dibebaskan saja, meskipun menjadi tersangka tunggal kasus kecelakaan diawal tahun baru 2013. Untuk apalagi sidang dan proses lebih lanjut yang hanya membuang-buang biaya negara, toh akhirnya ketegasan hukum bagi M. Rasyid Amrullah berbeda dengan pelaku atau tersangka pada kasus yang sama. Banyak kasus kecelakaan yang sebenarnya terjadi dan sama seperti yang dialami oleh M. Rasyid Amrullah, tapi mereka semua tidak seberuntung M. Rasyid Amrullah yang jadi anak pejabat negeri ini.

Pada sidang terakhir, JPU menuntut 8 bulan penjara bagi M. Rasyid Amrullah, dengan beberapa alasan yang kurang masuk akal. Diantara alasan JPU ketika diwawancarai oleh stasiun televisi  mengatakan, bahwa status M. Rasyid yang masih menjadi mahasiswa menjadi pertimbangan, selain tanggung jawab keluarga M. Rasyid Amrullah kepada korban. Lanjutnya, berbeda dengan kasus Susi Apriyani yang pada saat itu sedang dalam pengaruh narkoba dan  seluruh keluarga korban melakukan tuntutan.

Memang kasus Susi dan M. Rasyid tidak sama, Susi dalam pengaruh Narkoba sedangkan M. Rasyid tidak. Tapi keduanya sama dalam hal menghilangkan nyawa seseorang. Adalagi perbedaan mendasar dari Susi dan M. Rasyid, yaitu Susi hanya warga negara Indonesia biasa sedangkan M. Rasyid Amrullah anak seorang Menko Perekonomian. Dari perbedaan mencolok itu , maka dalam hal tanggung jawab jelas M. Rasyid Amrullah lebih baik dari Susi.

Melihat keistimewaan yang diberikan kepada M. Rasyid ini akan menimbulkan dampak buruk bagi citra hukum di Indonesia, yaitu hukum hanya tegas bagi warga negara Indonesia yang tidak sekelas dengan M. Rasyid. Bila tersangka kecelakaan memiliki kemampuan yang sama seperti Rasyid, pasti mereka semua akan bertanggung jawab penuh pada keluarga korban dalam bentuk materi. Apa materi tersebut yang membuat hukum menjadi lunak?

Coba bayangkan, bila seorang pengemudi (supir pribadi) sedang mengendarai mobilnya di daerah Cawang UKI. Ketika sedang berjalan cepat tiba-tiba seorang  copet berlari dari balik badan Bus yang sedang berhenti,  lalu tertabrak dan mati oleh pengemudi yang tidak tahu sama sekali si korban tiba-tiba berada didepannya. Apakah itu disengaja? Apakah itu kemauan pengemudi? Lalu, apakah si pengemudi itu akan terbebas dari hukum? Jawaban pastinya, mustahil! Si pengemudi 100% pasti akan mendekam dalam sel penjara. Si pengemudi tidak mabuk, si pengemudi tidak tahu jka si pencopet itu tiba-tiba nongol dari balik bus, si pengemudi tidak tahu kalau hari itu sial dan satu lagi si pengemudi tidak mampu memberikan jaminan seumur hidup bagi keluarga korban.

Nah, mungkin diatas itu sedikit gambaran saja dan hal yang mungkin banyak terjadi pada beberapa kasus kecelakaan yang mengakibatkan korban jiwa. Belum lagi pada beberapa kejadian, seperti truk yang melindas pengendara sepeda motor atau ban belakang bus transjakarta yang tiba-tiba melindas pengendara motor yang terjatuh. Mereka semua tidak sengaja, karena bukan mereka penyebab jatuhnya atau celakanya pengendara sepeda motor naas itu, tapi hukum tetap hukum dan mereka harus bertanggung jawab meski tak sengaja dilakukan. Bagaimana dengan M. Rasyid Amrullah? Pulang pagi selesai pesta songsong tahun baru 2013, lalu kemudiaan menjadi penyebab keceleakaan yang menimbulkan korban jiwa.

Hemat cerita, menurut saya lebih baik M. Rasyid itu sebaiknya dibebaskan saja. Percuma! Mau bicara apapun, hukum seperti tidak ada apa-apanya pada kasus M. Rasyid Amrullah. Bila melihat perkataan Nabi kepada anaknya, wuih itu baru namanya top markotop. Bagaiman tidak top, dimana Nabi sendiri yang akan memotong tangan anaknya, jika anaknya itu mencuri. Saya yakin sekali, hal ini sangat dipahammi oleh keluarga M. Rasyid Amrullah, tapi kenapa aparat penegak hukumnya tidak paham?

Sepertinya hukum hanya sekedar tulisan bukan untuk suatu keadilan, bila melihat kasus M. Rasyid Amrullah. Hanya untuk kasus M. Rasyid saja tuntutan JPU itu begitu ringan, bagaimana putusan vonis Hakim bila tuntutan JPU hanya 8 bulan penjara? Proses hukum M. Rasyid bagai drama sinetron pendek di FTV, hasil akhir bisa ditebak dan bisa dibaca. Paling banter kalau orang betawi bilang, vonis buat M. Rasyid cuma 2-3 bulan atau 50% dari tuntutan.

Daripada pemborosan biaya negara untuk sidang itu, lebih baik sudahi saja dan bebaskan saja M. Rasyid Amrullah. Paling tidak, keluarga korban kan sudah memperoleh ganti rugi berupa materi dari orang tua M. Rasyid, dan belum tentu materi itu bisa diperoleh bila tidak terjadi kecelakaan tersebut. Tapi itu kalau menggunakan hukum Syar'i, entah bisa atau tidak bila di Indonesia. Pendapat saya ini tidak masuk akal dan tidak ada dasar hukumnya, tapi tidak jauh beda dengan perlakuan hukum yang diberikan kepada M. Rasyid Amrullah. Sama-sama tidak masuk akal, apalagi bila dilihat dari rasa keadilan! Bebek kwek kwek kwek, kafilah berlalu !

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!