Searching...
Rabu, 27 Maret 2013

Indonesia Perlu Pemimpin Asli Indonesia


Bangsa Indonesia harus kembali jaya dan besarIndonesia perlu pemimpin asli Indonesia, yang benar-benar mengerti permasalahan yang terjadi dan kebijakannya itu benar-benar sesuai dengan bangsa Indonesia. Tidak seperti permasalahan yang terjadi seperti sekarang ini, dimana peristiwa demi peristiwa yang mengorbankan nyawa manusia sepertinya susul menyusul dan silih berganti di Indonesia. Kemana keramahan dan senyum, serta kesabaran bangsa Indonesia saat ini? Apa yang sesungguhnya terjadi dan salahkan mereka yang melakukan hal itu?

Sedikit saja ada yang menyulut emosi pasti terjadi hal yang tidak diinginkan. Coba kita lihat yang terjadi saat ini, untuk hal sepele dan tidak perlu ribut saja bisa jadi besar atau mungkin perkelahian anak kecil akan membawa dampak menjadi perang antar kampung. Sedikit terjadi kesalahpahaman bakal jadi ramai dan ruwet, tidak ada lagi rasa satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa. Kemana rasa itu semua?? Yang kuat menekan yang lemah, yang lemah makin terpojok dan tersinggirkan. Apakah ini semua risiko dari demokrasi barat di Indonesia?

Antara percaya dan tidak setelah mendengar dari beberapa sumber yang hidup di tiga jaman, bisa disimpulkan di jaman inilah yang paling buruk. Di jaman kepemimpinan presiden Soekarno bangsa ini masih bersemangat dan sangat mencintai bangsanya, saudara-saudaranya dan kebudayaannya. Semangat kemerdekaan yang didapat susah payah itu lekat dan dihargai oleh bangsa Indonesia dibawah kepemimpinan presiden Soekarno.

Pada masa itu mulai dari Presiden hingga rakyat bahu membahu, hingga Malaysia tidak berani mengatakan negara Indonesia ini dengan sebutan Indon, apalagi melecehkan seperti saat sekarang ini atau mencaplok bagian dari kedaulatan negara ini. Bangsa Indonesia disegani sebagai bangsa yang besar, bangsa yang berani dan bukan bangsa yang lemah. Mereka tahu bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaan bukanlah berasal dari hadiah, tapi dengan pengorbanan harta dan nyawa putera-puteri bangsa Indonesia dari sabang sampai merauke. Pada saat itu nasionalisasi perusahaan penjajah terjadi dan akhirnya mengusik si rakus barat dan mengobok-obok Indonesia dengan memperalat bangsa Indonesia sendiri.

Waktu berjalan dan berganti dari jaman kepemimpinan Presiden Soekarno (orde lama) menjadi orde baru yang dipimpin oleh Presiden Suharto. Isu pembasmian komunisme yang terjadi saat itu menjadi isu bintang pengganti era orde lama, meskipun isu sejarah si rakus barat adalah penyebabnya. Akhirnya 32 tahun bangsa Indonesia berada dibawah kepemimpinan presiden Suharto, hingga turun dari singgasana kepresidenan atas desakan mahasiswa dan rakyat di tahun 1998. Di era orde baru pun menurut sumber yang mengalami era itu tidak seperti era saat ini. Di era kepemimpinan presiden Suharto tidak ada unjuk rasa, tidak ada perang antar kampung dan tidak ada premanisme seperti era setelah orde baru. 

Memang era orde baru bisa dikatakan era diktaktor, namun lebih tertib dibanding era demokrasi import seperti saat ini. Dan yang menonjol di era orde baru adalah ketika prsiden berpidato di negara lain, selalu menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi Presiden dalam berpidato. Apakah bodoh presiden saat itu?? menurut saya tidak, oleh karena itulah bangsa lain melihat bangsa Indonesia adalah bangsa yang menghargai bahasanya dan bangga sebagai orang Indonesia, hingga mereka bangsa lain harus berpikir dua kali untuk semena-mena menghina bangsa Indonesia saat itu.

Kemudian setelah era orde baru redup, maka muncul era reformasi yang telah gonta-ganti kepemimpinan hingga saat ini. Di era ini memang demokrasi lebih berjalan dan terbuka, namun sepertinya bangsa Indonesia belum siap dan mudah diobok-obok oleh oknum-oknum yang berkepentingan, entah itu oleh bangsa lain atau bangsa Indonesia sendiri. Bangsa Indoensia dicekoki oleh slogan demokrasi import, dan sebenarnya itu hanyalah menguntungkan kepentingan barat yang haus melihat kekayaan bangsa ini. 

Bangsa Indonesia jadi seperti pion-pion permainan catur para elit penguasa barat atau elit penguasa bangsa Indonesia sendiri. Sedikit tidak cocok dan gesekan di antara mereka, rakyat dijadikan tameng dan dijadikan tumbal demi kepentingan mereka. Rakyat diposisikan saling berhadapan demi tujuan dan kepentingan mereka. Paham demokrasi seperti itu selalu diperlihatkan kepada bangsa Indonesia yang sebenarnya belum tentu tahu apa itu arti demokrasi. Jadilah seperti saat ini, sedikit tidak setuju serang! Sedikit tidak setuju demo! Sedikit kurang sependapat sikat! Dan sedikit pergesekan, terjadilah perang antar kampung! Dimana dan kemana keramahan bangsa Indonesia yang terkenal itu?

Sadarkah para pemimpin bangssa ini, bila telah terjadi pergeseran pada bangsa ini? Tidakkah mereka itu sadar, saat ini hasil perjuangan dan pengorbanan pendahulunya telah berubah dan jauh dari harapan para pejuang yang rela berkorban dengan harta dan nyawanya demi bangsa ini? Dimana sumpah pemuda yang didengungkan dan dianut oleh bangsa ini, bila sedikit gesekan maka nyawa melayang, sedikit berselisih nyawa menjadi murah dan tidak berharga? Ujung-ujungnya sebagai alasan dan jawaban, inilah demokrasi dan inilah dampak demokrasi. 

Bangsa Indonesia saat ini memang telah bebas dari penjajah yang ada dibuku-buku sejarah, tapi sebenarnya bangsa ini masih dijajah oleh kepentingan orang-orang kuat dan berpengaruh bangsa Indonesia sendiri. Entah itu secara ekonomi, hukum, sosial dan lain sebagainya. Sebagian Bangsa Indonesia yang beruntung dan memiliki kekuasaan membodohi dan menjajah bangsanya sendiri. Salahkah bila menuliskan demikian, karena kenyataannya memang demikian yang terjadi?

Sedikit demi sedikit hingga menjadi bukit, mungkin itu yang bisa diambil dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di Indonesia ini. Semua terakumulasi menjadi satu disuatu saat dan akan meledak, jadi wajarlah bangsa ini jadi cepat marah dan mudah terpancing emosi. Yah, semua itu kesalahan bangsa ini sendiri, maaf maksudnya pengelola bangsa ini yang tidak perduli dan tidak mau menjadi bangsa Indonesia yang sebenarnya. Kenapa begitu? Ya iyalah, saat ini kita terlalu bangga dengan demokrasi import ala barat, sedikit salah demo, sedikit kurang cocok serbu. Nah, sebenarnya itu semua akal-akalan penguasa barat agar Indonesia tidak aman dan kacau, akhirnya mereka bisa masuk dengan alasan bantuan keamaanan dan tetek bengek yang sebenarnya mereka itu berdagang dan menguras kekayaan bangsa ini. Jika suasana kacau siapa yang untung? Ya mereka, bukan bangsa Indonesia yang untung. Jadi perlu kita sadari dan berpikir ulang bila diperalat mereka yang beralasan demi demokrasi atau apalah. Pada kenyataannya jika kita lapar, mereka tidak akan semudah itu memberi kita makanan dan kitalah yang harus mencari makanan itu. Mereka memberi makanan pasti ada maunya, mereka tersenyum dan  merayu kita juga karena ada maunya. Ya, semua itu untuk keuntungan mereka dan bukan untuk kita yang diperalat. 

Oh, hampir lupa..Menurut sumber yang sudah berumur dan bisa dipercaya, dari ketiga jaman mulai bangsa Indonesia merdeka, pada era pertamalah yang paling membangggakan bila menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Di era kepemimpinan Presiden Soekarno, selain ketenangan adalah bangsa ini disegani oleh bangsa lain dan tidak pernah dihina oleh bangsa lain, seperti Malaysia. Era kemudian adalah era kepemimpinan Presiden Suharto, dimana keamanan bangsa ini patut diacungi jempol. Tidak ada premanisme dan tidak ada demo-demo dijalan, apalagi demo anarkis. Meskipun ada celah keburukan, yaitu otoriter, tapi di era Suharto dikabarkan lebih baik dari era reformasi hingga saat ini. Buat apa demokrasi selalu didengungkan, bila kenyataan yang terjadi kita saling berbaku hantam diantara saudara sesama bangsa Indonesia, kita dihina oleh bangsa lain dan bahkan kedaulatan tanah air bangsa Indonesia pun bisa diambil alih.
Soekarno masih dikenal oleh seorang lelaki tua berwajah Jepang yang ditemukan di Nollendorfplatz, sebuah daerah di Berlin-Jerman. Malah lelaki tua itu selalu memanggil setiap orang Indonesia dengan nama Soekarno. Dalam tulisan itu juga diceritakan bahwa saat si penulis menghadiri konferensi kaum muda negara-negara APEC tahun 2003 di Thailand, ada seorang kakek yang menanyakan kabar Soekarno. “Bagaimana Soekarno? Apa masih sehat?”, kakek itu mengira kalau Soekarno masih hidup (sumber)
Mudah-mudahan di era mendatang Indonesia memiliki pemimpin asli Indonesia, yaitu pemimpin Indonesia yang tegas, berintegritas dan berkebangsaan Indonesia yang tinggi. Bangsa Indonesia saat ini perlu pemimpin yang menghargai pengorbanan dan cita-cita luhur para pejuang kemerdekaan terdahulu. Hingga bangsa Indonesia kembali menjadi bangsa yang besar, ramah dan bukan bangsa yang mudah marah, serta tidak mudah dihina oleh bangsa lain. Bangsa Indonesia harus kembali menjadi bangsa yang besar, bermartabat dan disegani oleh bangsa lain di dunia ini. Bukan bangsa yang bangga dengan pujian dari barat atau bangsa lain yang hanya menginginkan isi perut kekayaan bangsa Indonesia tercinta. Merdeka, Hidup Indonesia!!

0 comments:

Poskan Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!