Searching...
Senin, 11 Maret 2013

Dilema Golput di Pemilu dan Pilkada di Indonesia


Golput pemenang pemilu dan pilkada di IndonesiaGolput (non-voter) atau golongan putih alias golongan tanpa pilihan menjadi dilema di pemilu dan pilkada di Indonesia, bahkan golput selalu menjadi pemenang pemilu dan pilkada di Indonesia belakangan ini. Seperti belum lama berselang pada pilkada di Jawa Barat dan Sumatera Utara, dimana golput di pilkada Jawa Barat sekitar 35% dan golput di pilkada Sumatera Utara sekitar 50%

Bila melihat angka golput dari tahun ke tahun sangatlah mengkhawatirkan, karena ini terjadi di era demokrasi yang lebih maju. Apa sebenarnya yang menjadi motivasi golput itu? Kenapa di era orde lama dan orde baru golput tidak lebih dari 10%, sedangkan saat ini angka golput semakin tinggi dan mencemaskan? Dan kemudian hanya sekali terjadi tingkat golput dibawah 10% hanya pada pemilu 1999, yaitu saat perubahan era orde baru ke era reformasi. Namun, semakin kesini golput di pemilu dan pilkada di Indonesia semakin subur.

Dilema golput ini memang bukan permasalahan baru diajang pemilu dari tahun 1955 hingga saat ini, namun yang jadi permasalahannya adalah semakin tingginya angka golput setelah pemilu 1999. Sepertinya ada yang salah, hingga masyarakat memilih golput dan bahkan mengabaikan pada yang berbau 'politik'. Bila ketidakpercayaan sudah lebih dominan dari pada yang masih mempercayai politik di Indonesia ini, lalu bagaimana proses pembangunan dan sebagainya bisa berjalan dengan baik? Bila golput adalah suatu kesalahan, berarti harus ada yang bertanggung jawab. lalu siapa yang bertanggung jawab itu? Apakah masyarakat golput atau partai politik sebagai peran utama politik di Indonesia ini?
Natalie Masuoka dan Christopher Stout (2007) mengkategorikan Non–Voter tersebut  menjadi tiga ketegori yakni ; (a) Registered Not Voted ; yaitu kalangan warga negara yang memiliki hak pilih dan telah terdaftar namun tidak menggunakan hak pilih, (b) Citizen not Registered ; yaitu kalangan warga negara yang memiliki hak pilih namun tidak terdaftar sehingga tidak memiliki hak pilih dan (c) Non Citizen ; mereka yang dianggap bukan warga negara (penduduk suatu daerah) sehingga  tidak memiliki hak pilih.
Sekedar mengenang kejadian pada pemilu 1999, saat itu masyarakat Indonesia seperti terlepas dan terbebas dari belenggu orde baru. Pada pemilu 1999 sebagian besar, bahkan hampir semua lapisan masyarakat berbondong-bondong ke TPS untuk memilih wakilnya. Mungkin pada waktu itu masyarakat menginginkan perubahan menuju ke arah yang lebih baik dan rakyat sudah muak dengan ulah pemimpin pada waktu itu. Lalu yang terjadi kemudian ketika semakin maju ke pemilu 2004 hingga 2009, angka golput meningkat.

Pemilu 1999 adalah sebagai bukti antusias masyarakat Indonesia dalam menentukan pilhannya, sehingga ketika itu angka golput sangat kecil dibanding kini. Melihat partisipasi besar disaat ada harapan perubahan baru itu sepertinya saya pribadi tidak menyalahkan golput yang terjadi saat ini. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan besar saat itu, maka timbul kekecewaan masyarakat dan akhirnya tidak lagi percaya dengan mengambil tindakan golput

Padahal kalau dipikir-pikir, iklim demokrasi sejak tahun 1999 hingga saat ini Indonesia jauh lebih baik dan terbuka. Apalagi lagi dengan sistim pemilihan langsung pada pilpres dan pilkada di Indonesia semenjak tahun 2004 hingga saat ini, tapi herannya golput semakin tinggi. Menurut saya, semua itu adalah kesalahan dari partai politik yang  menjadi peran utama berpolitik di Indonesia. Partai politik gagal dalam membangun kepercayaan masyarakat, hingga masyarakat tertentu itu lebih memilih golput

Bagaimana tidak gagal, bila partai politik itu sepintas hanya sebagai mesin untuk memenangi pemilu/pilkada, kepentingan sekelompok golongan dan bukan kepentingan rakyat, apalagi ada beberapa oknum menjadikan partai politik sebagai mesin uang. Pada awal-awalnya dalam meraih simpati, segerobak bahkan segunung janji manis keluar dan tumpah ke masyarakat, tapi setelah mereka duduk dan bertengger di dahan empuk singgasana, mereka mencampakkan yang namanya 'kepercayaan rakyat' dengan kelakuan minor, seperti korupsi, asusila atau lainnya. Janji-janji manis lenyap daintara gemerlap kekuasaan dan jabatan yang diberikan oleh rakyat. Rakyat dibuat melongo dan kesal dengan kenyataan yang ada, akhirnya sebagian rakyat menjadi golput
Golput adalah mereka secara sadar yang tidak puas dengan keadaan sekarang, karena aturan main demokrasi diinjak-injak partai politik dan juga tidak berfungsinya lembaga demokrasi (parpol) sebagaimana kehendak rakyat dalam sistem demokrasi. (Arbi Sanit;1992)  
Betul dan sangat wajar bila pada pemilu dan pilkada itu selalu ada bumbu uang, meskipun sekedar untuk sewa tenda, tapi itu adalah resiko berjuang untuk kepentingan rakyat. Bukan dianggap sebagai modal kerja seperti kenyataan saat ini, dan harus kembali disaat telah memperolehnya. Bagaimana masyarakat yang tadinya memberikan kepercayaan itu tidak berbalik 180 derajat alias golput dimasa yang akan datang? Rakyat melihat hiruk pikuk negatif di legislatif atau eksekutif dari tingkat daerah hingga pusat, sedikit demi sedikit secara pasti membuat rasa bosan, benci dan penyelasan timbul dimasyarakat yang kemudian memilih jalur pintas pada partai golput.

Saya yakin seluruh partai politik telah menyadari keberadaan golput yang semakin mengkhawatirkan di setiap pemilu dan pilkada.  Berbagai cara telah ditempuh, agar masyarakat tidak menjadi golput. Dari KPU hingga partai politik terkait berusaha menarik simpati dengan berbagai hal, sampai-sampai partai politik bingung dan menggunakan jalan pintas yaitu sembako atau uang sebagai penarik simpati masyarkat agar ikut memilih. Bukankah akhirnya terjadi money poltics dan ujung-ujung politik menjadi mahal? Akibat mahalnya biaya untuk menarik massa ini, tidak tertutup kemungkinan terjadi usaha balik modal dari biaya yang dikeluarkan dan politik jadi seperti bisnis. Ujung-ujungnya adalah pada tindakan korupsi yang marak terjadi seperti saat ini, untuk menutupi biaya yang telah dikeluarkan. Disatu sisi, masyarakat Indonesia saat ini sudah pintar ya pastinya monggo saja bila ada duit, tapi masalah pilihan adalah hak masing-masing. Terbukti tetap angka golput disetiap daerah pemilihan selalu ada dan tinggi, padahal disetiap pertemuan atau kampanye massa begitu riuh dan ramai. Kenapa saat memilih tidak seramai saat sembako dan uang dibagikan saat kampanye? Dilema golput yang terjadi ini perlu dipikirkan dan diatasi secara serius oleh partai politik di Indonesia.

Dengan tingginya angka golput ini sebenarnya menguntungkan partai politik yang soliditasnya baik, karena partai poltik yang solid ini telah memiliki pendukung tetap dan bukan pendukung mengambang atau pendukung duit. Tapi akhirnya partai lain menyadari hal tersebut dan membuat persaingan jadi kurang sehat, partai politik kaya akan membuka gudang duitnya untuk menarik simpati para pendukungnya. Hasilnya memang untuk partai yang soliditasnya baik perolehan suaranya akan stabil, tapi tidak lebih baik dibanding yang menggunakan trik plus-plus dalam berkampanye. Hal inilah yang kemundian semakin disadari oelh masyarkat di Indonesia, sadar setelah melihat banyak dari mereka itu ternyata minor alias korupsi setelah didukung. Ya balik lagi akhirnya dilema golput menjadi bayangan hitam dipemilu atau pilkada di Indonesia.

Kalau partai politik sebagai motor penggerak pembangunan di Indonesia tidak menyadari, bertindak dan memperbaiki, serta hanya memikirkan kemenangan, kemungkinan golput akan selalu menjadi pemenang dalam setiap pemilu dan pilkada di negeri ini. Bagaimana pembangunan negeri ini berjalan dengan mulus dan sukses, bila legitimasi rakyat terhadap para wakil-wakilnya di legislatif dan eksekutif itu kecil? Memang sih ga ngaruh dan sah secara hukum bagi mereka yang terpilih itu, tapi apa ga malu bila terpilih bukan oleh pilihan masyakarat pemilih. Lebih baik partai politik introspeksi dan melakukan perbaikan dibanding menyalahkan masyarakat golput, karena golput terjadi bukan tanpa sebab.

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!