Searching...
Rabu, 06 Maret 2013

Dari Lurah Hingga Walikota Baiknya Tiru Jokowi-Ahok


Dari Lurah Hngga Walikota baiknya tiru Jokowi-Ahok
Dari Lurah hingga Walikota baiknya tiru Jokowi-Ahok, bila benar-benar serius dan menginginkan Jakarta menjadi lebih baik. Anggap saja gaya atau style seseorang itu berciri khas dan tidak semua sama, tapi apa salahnya ditiru jika itu baik dan berguna. Seperti meniru gaya Jokowi dalam memimpin dengan blusukannya atau Ahok yang ceplas-ceplos

Cara kerja Jokowi-Ahok  itu sederhana dan tidak terlalu rumit, tapi mengena dengan hati orang banyak. Apalagi ditambah pasangan Jokowi, yaitu Ahok yang memiliki karakter ceplas-ceplos bila melihat hal yang 'tidak beres'. Harusnya gaya pemimpin dari gubernur dan wakil gubernur, Jokowi-Ahok itu dikuti secara otomatis mulai dari tingkat Lurah hingga hingga Walikota. 

Memang tidak akan sama persis dengan Jokowi, tapi paling tidak seorang Lurah, Camat atau Walikota mencoba mengikuti cara kerja gubernurnya? Hemat saya, bila lurah, camat atau walikotanya bekerja seperti yang dicontohkan oleh Jokowi tidak ada ruginya. Bahkan menurut saya banyak untungnya, karena kejadian-kejadian buruk di daerah masing-masing bisa diatasi sebelum meluas seperti kasus bayi kembar yang sakit dan akhirnya ditolak rumah sakit sana dan sini. Banyak sebenarnya kejadian-kejadian di Jakarta ini yang semestinya tidak perlu melebar dan membawa korban, bila kepala-kepala pemerintahan mulai dari tingkat Lurah, Camat atau Walikota perduli dan mau turun seperti Gubernur DKI Jakarta.

Maaf pak lurah, pak Camat dan pak Walikota, apa sih susahnya masuk kampung keluar kampung? Apa tidak bosan duduk cuma tanda tangan dalam ruangan? Masa Gubernur lebih dikenal dan dekat dengan warga kota Jakarta dibanding Lurah, Camat atau walikotanya? Bukanya lebih mudah pak lurah, pak camat atau pak walikota mengetahui permasalahan dari warganya di wilayah masing-masing? Kalau sudah dapat data dari warga di masing-masing wilayah dan tidak dapat diatasi sendiri, maka baru dilaporkan ke pak Jokowi yang jadi pimpinan tertinggi di DKI Jakarta. 

Pengalaman di daerah saya, sepertinya pak Lurah dan pak Camat tidak pernah keluar masuk kampung. Umumnya datang hanya saat diundang pada acara-acara tertentu, seperti acara tujuh belasan begitu atau ada program tertentu saja. Kebiasaan lama itu harus diubah mengikuti trand baru dari pemimpin baru, yaitu contohlah cara kerja Kepala Daerah DKI Jakarta Jokowi-Ahok. 

Kejadian bayi Dera yang ditolak rumah sakit dan akhirnya meninggal dunia itu salah satu contoh dari ketidakpekaan kepala pemerintahan di tingkat Kelurahan, Kecamatan dan Walikota, hingga akhirnya kejadian, baru semua sibuk dan ujung-ujungnya bos besar Jakarta yang turun tangan. Coba bila waktu itu ada kepekaan pimpinan daerah tempat tinggal bayi Dera, pastinya pak Lurah bakal ikut mengantar kerumah sakit atau mungkin buka dompet untuk bayar biaya rumah sakit. 

Untuk masalah banjir, kalau pak Lurah, pak Camat atau pak Walikota itu memang perduli dan peka pastinya sudah turun dan masuk ke sungai atau kali duluan untuk mengumpulkan data-data, baru kemudian dilaporkan ke Gubernur bila diluar wewenang dan tanggung jawabnya Buat jaga-jaga jangan sampai banjir masuk Istana Merdeka lagi gitu. Tanggul Banjir Kanal Barat tidak akan jebol, pemohon kartu Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) untuk mengajukan kartu Jakarta Pintar tidak akan berjubel, bila pak Lurah mau turun dan mensosialisasikan program-program yang dibutuhkan masyarakat. Kenapa berjubel? Sebabnya adalah masyarakat tidak tahu awal dan akhir program kartu Jakarta pintar itu kapan dimulai dan kapan ditutupnya. Itu semua terjadi karena kepala daerah dibawah gubernur tidak mau meniru cara kerja gubernur dan wakilnya, selintas  masih melakukan kebiasaan lama atau mungkin shock melihat gaya dan cara kerja sang gubernur dan wakilnya,  Jokowi-Ahok.

Dari Lurah hingga Walikota baiknya mengikuti cara kerja Jokowi-Ahok, karena permasalahan akan lebih mengerucut dan sesuai dengan kebutuhan daerah masing-masing. Dan lagi, hal yang dicontoh pun tidak terlalu sulit dari gaya dan cara kerja Jokowi-Ahok, yaitu mendengar, melihat dan memberi solusi. Bila tidak sanggup dan bukan wewenangnya baru dilaporkan ketingkat diatasnya, jangan sampai terulang kembali seperti kasus bayi Dera, akhirnya gubernur dan wakilnya turun tangan langsung. Malu dong pak, kalau digaji hanya untuk duduk, tanda tangan dan tunjuk kanan tunjuk kiri!

Satu contoh dari gaya kerja Jokowi-Ahok adalah mau mendengarkan dan tidak lari atau ngumpet kalau di demo/diprotes. Jokowi-Ahok berani menghadapi, meskipun kita tahu suasana demonstrasi itu terkadang mudah tersulut emosi. Nyatanya semua ditemui dan dihadapi dengan gaya masing-masing. Pernah ada pendemo sekelompok mahasiswa tentang kampung yang selalu terendam air di wilayah Jakarta Barat, Jokowi mau menerima dan ikut duduk dilantai bersama-sama pendemo, hingga akhirnya suasana demonstrasi  berubah menjadi susasan diskusi. Jokowi mendengarkan keluhan, mencatat dan kemudian mengintruksikan kepada bawahannya di Jajaran Pemda DKI Jakarta untuk persiapan peninjauan keesokan harinya. Disini ada lucunya, Walikota dihubungi langsung oleh Jokowi yang akan meninjau wilayahnya. Padahal seharusnya walikota Jakarta Barat yang menghubungi Jokowi, bukan pendemo yang melaporkan permasalahan yang dialami wilayahnya. Yang dilakukan oleh Jokowi saat menerima pendemo itu adalah: mendengar, melihat dan memberi solusi dengan memerintahkan jajaran dibawahnya untuk segera menyediakan mesin pompa air yang ada untuk pemecahan masalahnya.

Nah, untuk gaya kerja Ahok yang tegas, dan ceplas-ceplos itu patut juga dicontoh oleh dari Lurah hingga Walikota. Gaya Ahok ini mencerminkan pemimpin yang tegas, disiplin dan terbuka. Gaya kepemimpinan lama semestinya ditinggalkan, seperti gaya penjilat, iya , manggut-manggut, tersenyum semanis-manisnya bila berhadapan dengan jabatan yang lebih tinggi. Ahok memberikan contoh untuk bertindak apa adanya, realisits dan tidak pengecut, karena apa yang dirasa janggal langsung ditegur keluar saat itu juga. Coba saja lihat ketika Ahok menegur notulen di Pemda DKI Jakarta, Dinas Pekerjaan Umum dan lain sebagainya, semua dilakukan spontan dan tidak dibelakang alias gentlemen.

Ayo, kapan kepala daerah setingkat Lurah hingga Walikota mau mengikuti gaya dan cara kerja orang no.1 di DKI Jakarta ini? Dijamin, kalau dari Lurah hingga Walikota mengikuti cara Jokowi-Ahok, Jakarta akan menjadi lebih baik kedepannya. Dijamin! Tidak akan pernah lagi terjadi peristiwa kecil yang mennjadi besar, atau sederhananya adalah warga di daerah masing-masing mengenal siapa Lurah, siapa Camat dan siapa Walikotanya. Kalau cuma mengandalkan Jokowi-Ahok, mending ngeblog saja pak Lurah, Pak Camat dan Pak Walikota. Sekali lagi, dari Lurah hingga Walikota baiknya tiru cara kerja Jokowi-Ahok agar hasil akhirnya Jakarta benar-benar menjadi lebih baik. Mengikuti cara kerja Jokowi-Ahok tidak ada Ruginya dan tidak haram bagi Lurah, Camat atau Walikota. Dijamin tidak rugi!

0 comments:

Poskan Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!