Searching...
Sabtu, 30 Maret 2013

Bila Presiden Jadi Ketua Umum Partai


Presiden SBY Calon Ketua Umum Partai DemokratBila Presiden jadi ketua umum partai, bagaimana dengan rakyat yang berseberangan partai? Ops, jadi bingung juga melihat berita dan ternyata Presiden SBY menjadi calon ketua umum Partai Demokrat. Tidak adakah calon lain selain Presiden SBY atau memang tidak ada kader Partai Demokrat yang berkualitas menjadi ketua umum? Ah, rasanya tidak mungkin jika tidak ada yang mampu menjadi ketua umum Partai Demokrat. 

Bila akhirnya presiden SBY menjadi ketua umum Partai Demokrat, berarti SBY adalah presiden kedua dijaman reformasi yang menjadi ketua umum partai setelah mantan Presiden Megawati. Memang sah-sah saja dan tidak ada larangan dalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 45), namun baliknya Presiden menjadi ketua umum partai yang didirikannya itu akan menimbulkan dampak 'dua sisi mata uang'. Antara naiknya elektabilitas akibat ketua umum dijabat Presiden RI, atau mungkin sebaliknya. Apakah hanya karena kuatir elektabilitas Partai Demokrat akan terjun bebas akibat kasus korupsi dari kader-kadernya, sehingga hanya Presiden SBY sebagai pendiri sekaligus ketua dewan pembina partai Demokrat turun tangan? Tidak adakah kader mumpuni Partai Demokrat yang memiliki kemampuan dalam menyelamatkan Partai?

Sangat disayangkan apabila Presiden SBY yang sudah  membangun Partai Demokrat dari nol harus turun gunung lagi menajdi ketua umum partai menggantikan Anas Urbaningrum. Memang tidak bisa dipungkiri bila Presiden SBY yang menjadi ketua umum Parta Demokrat, kemungkinan besar elektabilitas Partai Demokrat akan naik dan selamat dari terjun bebas. Ini terbukti dengan usia Partai Demokrat yang baru dua periode, langsung berada diurutan atas dan tercatat sebagai pemenang pemilu mayoritas di Indonesia tahun 2009. Bisa dibayangkan sosok SBY mampu memikat hati rakyat Indonesia di dua periode pilpres. Pastinya SBY sebagai sosok pendiri parta dan presiden itu akan sangat berpengaruh pada elektabilitas Partai Demokrat.

Namun, saya sebagai rakyat biasa merasa kurang sreg, bila pak Presiden jadi ketua umum sebuah partai.  Meskipun partai itu didirikan oleh pak Presiden pada waktu dahulu. Kenapa saya kurang sreg? Begini alasannya, saya melihat ada kegagalan kaderisasi di tubuh Partai Demokrat, Partai Demokrat seperti kondisi darurat hingga membutuhkan sang icon untuk balik membenahi, Posisi presiden tidak lagi netral ketika sedang mengendalikan partainya, kader partai tidak bisa dipercaya dapat menyelamatkan dan menyelesaikan kemelut yang mendera partai, bapak presiden menjadi lawan politik rakyatnya yang berseberangan partai politiknya. 
"Apakah mungkin harus berhadapan dengan presiden SBY di tahun 2014, hanya karena berbeda partai politik?" 
Menurut saya Presiden SBY tidak perlu lagi turun tangan menjadi ketua umum Partai Demokrat, karena saat ini sebagai presiden yang notabene adalah milik seluruh rakyat Indonesia meski berseberangan partai politiknya. Nah, Presiden cukup melihat dan memonitor Parta Demokrat dalam kapasitas sebagai dewan ketua pembina partai. Ketua umum bisa saja dijabat oleh Sekjen, bila tidak ada kader mumpuni sebagai ketua umum yang bisa dipercaya dapat menyelamatkan kemelut yang terjadi di tubuh Partai Demokrat. Hal wajar dan bahkan lebih bersinergi, bila Ibas yang menjadi ketua umum Partai Demokrat. Bisa dipastikan aura SBY masih melekat pada Ibas, ,jika dipercaya menjadi ketua umum Partai Demokrat. Daripada saya sebagai rakyat Indonesia melihat dan berpikir, bahwa partai Demokrat gagal dalam kaderisasi atau karena tidak ada kader Partai Demokrat yang mumpuni dan dipercaya dapat membangkitkan elektabilitas Partai Demokrat?

Saya melihat keterbatasan dari Presiden SBY, bila menjadi ketua umum Partai Demokrat. Keterbatasan pertama adalah akibat jabatan presdien sebagai amanat rakyat melalui pemilihan presiden secara langsung. Kedua adalah keterbatasan usia, bila harus selalu melibatkan SBY sebagai icon partai Demokrat. Bukankah pengalaman membuktikan, icon partai tidak terlalu berpengaruh terhadap pemenangan pemilu legislatif, meskipun icon itu masih ada.  Kenapa icon tidak mempengaruhi konstituen dalam memilih? Menurut saya icon yang menarik hati untuk hal setaraf pemilu itu harus spesial sekali, seperti ketika simpati ketika melihat SBY dimarahi oleh Presiden Megawati. Rakyat Indoneisa sangat melankolis dan mudah trenyuh, sehingga momentum itu membuat elektabilitas SBY menjadi naik dan populer sebagai orang yang terzhalimi. Disaat pak Presiden SBY mash ada saat ini saja tidak ada kader partainya yang mampu memperbaiki kemelut yang terjadi saat ini? Bagaimana dan apa yang terjadi dengan Parati Demokrat nantinya?

Bila memang Presiden SBY harus menjadi ketua umum Partai Demokrat mudah-mudahan tidak mengganggu kapasitas SBY sebagai Presiden. Dimana harus berada ditengah-tengah rakyat yang berseberangan partai politiknya dan mampu membangkitkan kejayaan Partai Demokrat. Posisi Presiden SBY saat ini memang harus memilih satu dari dua sisi mata uang, ikut terjun langsung atau rela dan legowo memberikan jabatan ketua umum kepada lainnya atau mungkin Ibas putera bungsunya sendiri. Semoga saja ketika Presiden SBY turun langsung sebagai ketua umum Partai Demokrat, seluruh permasalahan dan elektabilitas partai dapat diatasi.

Prediksi saya bila Presiden SBY menolak dijadikan ketua umum Partai Demokrat, simpati pendukung akan naik dan otomatis elektabilitas pasti mengikutinya. Bila penol;akan ini terjadi, tercermin jiwa demokratis prasiden SBY dimata jutaan rakyat Indonesia. Penolakan bisa juga berarti cermin, bahwa  Presiden SBY adalah sosok yang benar-benar mementingkan kepentingan rakyat dibanding kepentingan partainya. Nah, terakhir ini mungkin prediksi agak ngawur, yaitu: Presiden SBY tidak mendirikan Partai Demokrat sebagai partai turun temurun, melainkan mendirikan partai untuk rakyat.
Aristoteles sebagai suatu bentuk pemerintahan, yaitu pemerintahan yang menggariskan bahwa kekuasaan berada di tangan orang banyak (rakyat).[4] Abraham Lincoln dalam pidato Gettysburgnya mendefinisikan demokrasi sebagai "pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat".[5] Hal ini berarti kekuasaan tertinggi dalam sistem demokrasi ada di tangan rakyat dan rakyat mempunyai hak, kesempatan dan suara yang sama di dalam mengatur kebijakan pemerintahan.[6] Melalui demokrasi, keputusan yang diambil berdasarkan suara terbanyak (Demokrasi)
Demikian goresan saya sabagai bagian rakyat Indonesia, mohon maaf bila tidak berkenan. Untuk saya, perbaikan dan kebaikan tidak pernah ada, bila disisi kanan dan kiri hanyalah penjilat dan pendusta yang hanya berbicara menyenagkan hati tanpa berani koreksi. Nasi telah menjadi bubur, mau bilang apa lagi?

0 comments:

Poskan Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!