Searching...
Jumat, 29 Maret 2013

Bagaimana Menjadi 'Konsumen Cerdas' di Indonesia?


Bagaimana Menjadi Konsumen Cerdas di Indonesia
Bagaimana menjadi 'konsumen cerdas' di Indonesia? Pertanyaan sederhana, tapi sulit untuk menjawabnya. Yah, jika sekedar memeriksa standarisasi, tanggal kadaluarsa atau bisa dikatakan teliti saja rasanya belum bisa dijadikan tolak ukur untuk disebut sebagai 'konsumen cerdas'. Jawaban tersulit adalah bukan dari kata konsumen saja, tapi dari kata cerdasnya itu. Kata cerdas itu sangat kompleks, bisa cerdas dari sisi memilih kualitas, cerdas memilih harga, cerdas melihat produk itu diperlukan atau tidak, cerdas melihat kemampuan daya beli, cerdas sebagai bangsa Indonesia yang bangga dengan produk lokal dan lain sebagainya.

Jelang peringatan 'Hari Konsumen Indonesia' yang jatuh pada tanggal 20 April 2013 mendatang, langkah pemerintah melalui Kemendag mengkampanyekan kepada masyarakat Indonesia tentang  perlindungan konsumen sangat tepat. Untuk menjadi konsumen cerdas memang harus ada sinergi  antara pemerintah dan masyarkat Indonesia, karena aturan dan kebijakan dari produk yang beredar adalah tanggung jawab pemerintah dan kemudian masyarakat Indonesia yang kemudian menjadi konsumen.

Dampak menjadi 'konsumen cerdas' itu sangat luas, bukan hanya sebagai perlindungan bagi konsumen masyarakat Indonesia. Tapi lebih dari itu, yakni meningkatkan produk lokal dan menjadikan produk lokal menjadi tuan raja di negeri ini. Kalau produk lokal menjadi raja di negeri sendiri sudah pasti sangat berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi masyarakat Indonesia sendiri. Bisa dibayangkan bila Indonesia yang jumlah penduduknya banyak ini menjadi 'konsumen cerdas', perekonomian Indonesia pasti maju dan rakyatnya sejahtera. Tapi kenapa sampai saat ini, meskipun sudah banyak lembaga-lembaga atau yayasan-yayasan perlindungan konsumen,  tetap saja belum membuat masyarakat Indonesia menjadi 'konsumen cerdas'?
Sasarannya selain untuk perlindungan konsumen, juga untuk pengamanan pasar dalam negeri, sekaligus mendukung terciptanya kepastian hukum dalam berusaha untuk dapat menarik investasi di Indonesia (hkn2013)
Sebenarnya masyarakat Indonesia sudah jauh lebih maju dan mungkin harusnya sudah termasuk dalam kategori 'konsumen cerdas',  Menurut saya ada beberapa penyebab yang membuat masyarakat Indonesia belum seluruhnya menjadi 'konsumen cerdas', hal itu terjadi disebabkan oleh masyarakat Indonesia sendiri dan ketegasan pemerintah dalam hal perlindungan konsumen. 

Penyebab pertama bukan berarti masyarakat Indonesia belum menjadi 'konsumen cerdas', tapi lebih dipengaruhi oleh daya beli masyarkat Indonesia pada umumnya masih rendah. Sehingga dalam memilih suatu produk bisa dikatakan tidak lagi melihat cerdas atau tidak, tapi murah dan terjangkau. Nah, inilah yang terjadi sehingga mau tidak mau masyarkat Indonesia akhirnya kecewa dan tertipu atau bahkan hingga menimbulkan kerugian lebih dari sekedar materi, tapi merugikan keselamatan jiwa konsumen itu sendiri. Salahkah masyarakat Indonesia yang memilih murah sesuai dengan kemampuannya, lalu mengabaikan arti perlindungan konsumen atau menjadi 'konsumen cerdas'?
Akan tetapi dalam kenyataan di lapangan tampak bahwa barang-barang produksi Cina terlihat di mana-mana. Kita tidak menutup mata bahwa banyak produk dari negeri panda tersebut yang masuk secara ilegal ke Indonesia sehingga tidak ikut tercatat secara resmi dalam laporan tersebut. Namun penjelasan dari Ketua Umum Kadin Indonesia Komite Cina, Sharif Cicip Sutardjo sangat masuk akal. Sebagaimana dikutip dari wawancara dengan Sinar Harapan dijelaskan bahwa ekspor Indonesia ke Cina memang besar namun sebagian besar merupakan bahan mentah dengan jumlah item yang sangat sedikit, kurang lebih hanya 15 item seperti migas, CPO, karet, kayu, dan lain-lain. Sedangkan dari Cina kita mengimpor ratusan item, mulai dari ampas, hasil pertanian, peralatan sampai ke motor dan mobil. Sebagian besar perusahaan yang menghasilkan produk-produk itu semua di Cina hanyalah industri swasta, UKM atau TVEs (sinarharapan).
Bagaimana bisa menjadi 'konsumen cerdas', bila daya beli tidak mampu untuk produk yang memiliki kualitas atau bersertifikat dan tentunya labih mahal dibanding produk yang tidak berlabel (misalnya: berstandar SNI). Kemudian datang dan banjir produk import murah akibat kesepakatan perdagangan bebas, jauh lebih murah meski tidak kuatitas dan bahkan tidak melalui kontrol SNI. Jelas dan pasti produk ini menjadi pilihan tanpa harus berpikir menjadi 'konsumen cerdas' Apa yang terjadi dengan produk lokal dengan banjirnya produk import murah? Produsen lokal berusaha mengurangi biaya produksi (cost down), agar bisa bersaing dengan produk import. Dan yang buruknya bila costdown itu berimbas pada kualitas produk. Untuk beberapa produk lokal bermodal kuat mungkin tidak terpengaruh dengan harga obral barang import, tapi tetap saja pengaruhnya ada pada margin pernjualan yang berkurang. Ujung-ujungnya efisiensi kearah perampingan karyawan bisa terjadi untuk mengurangi biaya pengeluaran. Jika itu terjadi, maka makin rendahlah daya beli masyarakat yang terkena dampak perampingan dan secara otomatis tidak lagi berpikir untuk jadi 'konsumen cerdas'.

Untuk itulah pemerintah diwakili Kemendag perlu membuat regulasi tegas guna mengatasi banjir produk import murah, agar produk lokal menjadi raja ditanah airnya sendiri. Memang mau tidak mau, Indonesia harus mengikuti kesepakatan global mengenai perdagangan bebas, tapi ada baiknya memperketat dan hanya mengijinkan produk berstandar Internasional yang bisa masuk di Indonesia. Saya yakin dengan regulasi yang tegas dari pemerintah Indonesia, produk lokal lambat laun akan semakin berpacu dan bersaing, serta menjadi produk yang dipilih oleh masyarakat Indonesia. Sedikit demi sedikit masayarakat Indonesia selain menjadi 'konsumen cerdas', juga akan menjadi masyarkat yang cinta pada produk dalam negeri. Jika produk dalam negeri menjadi raja di Indonesia, sudah bisa dipastikan terjadi peningkatan pertumbuhan dunia usaha dan tingkat ekonomi masyarakat Indonesia.
“Pengawasan tersebut juga dilakukan untuk mendorong peningkatan produksi dan penggunaan produk dalam negeri serta mencegah distorsi pasar dari peredaran produk impor yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” kata Wamendag. (hkn2013)
Kenapa saya tulis perlunya regulasi pemerintah pada produk import murah? Ya, karena memang banyak saat ini beredar produk-produk import, terutama produk China yang sangat murah dan tidak melalui pengawasan, apalagi standarisasi. Bukankah untuk ruang lingkup import, standarisasi suatu produk itu harus bertaraf internasional dan bukan abal-abal? Saya yakin masyarakat Indonesia akan menjadi 'konsumen cerdas', bila pemerintah diwakili Kemendag membuat regulasi dan pengawasan ketat pada produk import abal-abal dan menertibkan oknum korup yang mengeluarkan ijin masuk produk import itu tanpa melalui prosedur pengawasan. Bisa dipastikan, bila produk import abal-abal tidak ada, produk lokal akan semakin meningkatkan kualitas dan akan mengikuti regulasi ketat pemerintah. Dari sini barulah masyarakat Indonesia secara umum akan menjadi 'konsumen cerdas', akibat regulasi Kemendag pada seluruh produk yang beredar, terutama pada banjirnya produk import murah yang menghancurkan produk lokal. 
Karena itu, sejalan dengan upaya tersebut, maka tak kalah pentingnya adalah partisipasi aktif konsumen untuk bersikap kritis dan membantu Pemerintah dalam melakukan pengawasan (hkn2013)
Jadi menurut saya, untuk menjadi 'konsumen cerdas'  itu tidak hanya terpaku pada perilaku masyarakat Indonesia sebagai konsumen , tapi juga pentingnya regulasi, pengawasan dan keseriusan pemerintah dalam hal perlindungan konsumen. Hingga akhirnya menigkatkan pertumbuhan ekonomi dibidang usaha produk dan jasa yang akan dinikmati oleh masyarakat Indoneisa sebagai 'konsumen cerdas'  

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!