Searching...
Minggu, 17 Maret 2013

Antara Pemilu/Pilkada dan X - Faktor Indonesia


Antara Pemilu/Pilkada dan X-Faktor Indoenesia
Antara Pemilu/Pilkada dan X - Faktor Indonesia sepertinya serupa tapi tak sama mulai dari awal hingga tujuan akhirnya, yaitu untuk menghasilkan sesuatu bagi kepentingan orang banyak. Sesuatu itu tentu berupa kemenangan dari salah satu kontestan pada pemilu/pilkada atau pada ajang kontes X-Faktor Indonesia. Kemiripan yang tidak dibantah dari keduanya itu adalah pada pemilih, dimana masyarakat yang menentukan pilihannya masing-masing.

Awalnya ajang kontes X-Faktor itu dipikir hanyalah sebuah ajang kontes sejenis dengan kontes-kontes lainnya, seperti Indonesia Idol, AFI, KDI dan lain-lainnya. Tapi ada hal menarik dari sisi X-Faktor yang membuat saya ingin menulis tentang 'Antara Pemilu/Pilkada dan X - Faktor Indonesia'. Pada tulisan ini tidak mengulas tentang lagu, penyanyi dan pernak-pernik di X-Faktor, tapi kesan persamaan dan trik politik yang sama diantara keduanya.

Pada awalnya seluruh finalis yang tampil pada X-Faktor harus melalui beberapa kali babak audisi atau seleksi, barulah kemudian masuk pada tahap berikut yang menjadi 12 besar dan ditambah satu disaat malam pertama panggung X-Faktor digelar. Masing-masing finalis dikelompokan menjadi berdasarkan kategori umur dan kelompok. Masing-masing kelompok memiliki mentor plus menjadi dewan juri dari ajang kontes X-Faktor. Bisa dibayangkan dan apa yang akan terjadi, bila mentor merangkap dewan juri pada kontes X-Faktor?

Bayangan unfair atau berat sebelah juri memang sudah pasti terjadi diajang kontes X-Faktor Indonesia, namun pada kenyataannya masyarakat lebih mendominasi keputusan dari berhasil atau tidaknya kontestan X-Faktor Indonesia ke babak berikutnya. Lalu, kontestan yang berada pada posisi 2 terbawah dari hasil voting masyarakat (penonton) akan dinilai dan dipilih langsung oleh juri, entah itu mentornya atau bukan. Disaat menentukan dua pilihan itu tentu subjektifitas mentor kepada kontestannya lebih besar, tapi ada dua juri yang harus menentukan pilihan terberat, hingga akhirnya satu kontestan memperoleh suara terbanyak atau draw dan kembali keputusan masyarakat menjadi penentu lolos tidaknya peserta yang berada di urutan 2 terbawah itu.

Siapapun mentornya, mereka pasti menginginkan yang dimentorinya itu bisa lolos ke babak berikutnya. Itu bisa dilihat ketika para juri mengemukakan pendapat mereka yang sekaligus berstatus sebagai mentor dari kontestan X-Faktor. Juri atau mentor akan membela sebisanya untuk kontestan yang dimentori, hingga kadang terlihat sedikit lebay dan gimana gitu. Sindiran-sindiran sesama mentor kerap terlontar disaat mengomentari para kontestan X-Faktor, bahkan sedikit memanas bila kritik kurang berkenan bagi salah satu juri sekaligus mentor kontestan X-Faktor yang dikritik. Suasana jadi sedikit heboh dimeja juri, saling mempertahankan dan membela dengan argumentasi masing-masing. Lalu balik lagi, semua keputusan yang diterima oleh para kontestan itu seluruhnya adalah keputusan murni masyarakat yang melakukan vote.

Apa hubungannya antara partai politik dan X-Faktor di Indonesia? Menurut saya, hubungan langsung tidak ada, tapi melihat dari proses, sosialisasi dan pernak-pernik X-Faktor sepertinya tidak jauh beda dengan ajang pemilu atau pilkada di Indonesia. Nah, diajang pemilu atau pilkada di Indonesia itu mayoritas peran  utama dikendalikan oleh partai politik. Jadi letak persamaannya, yaitu kelompok yang dibina Ahmad Dhani, kelomppok yang dibina Rosa, kelompok yang dibina Anggun C. Sasmi dan kelompok yang dibina oleh Bebi Romeo. Kelompok-kelompok dari kontestan dengan masing-masing mentor ini serupa dengan semua partai politik yang memiliki pembina atau ketua umumnya masing-masing.

Disaat menarik hati pemilih pun sepertinya hampir sama antara pemilu/pilkada dan X-Faktor di Indonesia. Untuk kontes pemilu atau pilkada,  peran ketua umum atau pembina kadang jadi sosok yang ditunggu dan menjadi idola dari partai politiknya masing-masing. Ketua umum atau pembina malah terkadang menjadi penghias dibelakang kandidat yang sedang mempromosikan dirinya dalam kampanye. Ketua umum atau pembina menjadi sorotan utama, bahkan bintang dalam kampanye yang dilakukan oleh partai politik apapun namanya. Jujur, masyarakat calon pemilih terkadang tidak tahu siapa orang yang sedang berkampanye itu, tapi mereka memilih karena melihat background dari ketua atau pembinanya yang menjadi pujaan hatinya. Begitu pun di ajang kontes X-Faktor, sepertinya juri sekaligus mentor akan berusaha menarik simpati para penggemarnya dan dengan terang-terangan meminta penggemarnya untuk memberikan vote pada asuhannya masing-masing.

Secara garis besar menurut saya tujuan dari ajang pemilu atau pilkada pun sama dengan X-Faktor di Indonesia, yaitu menghasilkan kandidat yang nantinya adalah untuk kepentingan orang banyak atau rakyat Indonesia. Sepertinya tujuan keduanya beda-beda tipis setelah melihat gelaran X-Faktor Indonesia yang menyisakan 9 finalis. 

Menurut saya ajang kontes X-Faktor Indonesia layaknya berpolitik didunia seni suara, ini bisa dilihat dari seleksi atau audisi, kemampuan X bukan sekedar bernyanyi, dan pastinya memiliki mental diajang sekaliber X-Faktor. Di Pemilu atau pilkada pun begitu, partai politik adalah yang menentukan kandidat mana dan siapa yang akan bertarung pada ajang pemilu atau pilkada. Partai pemilu yang menentukan kriteria calon legislatif atau eksekutifnya menurut kriteria yang ditentukan masing-masing partai politik tentunya. Untuk kriteria utama yang ditentukan oleh partai politik tentunya mungkin calon legislatif atau eksekutif itu harus bekerja demi dan untuk rakyat 

Ulasan diatas itu adalah sebagian kemiripan antara pemilu/pilkada, tapi ada juga perbedaan yang mencolok dari keduanya. Perbedaan itu bisa dilihat dari kontestan yang lolos diajang X-Faktor Indonesia, mereka rata-rata memiliki kemapuan X faktor dalam bernyanyi dan lolos seleksi dari sekian banyak peserta yang mengikuti seleksi atau audisi diawal-awal X-Faktor Indonesia digelar. Finalis berhasil lolos bukan karena uang atau penampilan wajah atau popularitas, tapi mereka benar-benar memiliki kemampuan yang baik dan memiliki nilai plus yaitu X-Faktor dalam bernyanyi. Para finalis tidak melakukan money politic pada voter, sehingga kualitas performa finalis ditiap ajang kontes X-Faktor itulah yang menentukan berhasil atau tidaknya dibabak berikut ajang kontes X-Faktor Indonesia. 

Para mentor pun demikian, mereka akan berusaha memoles para finalis yang dimentori itu sebaik mungkin. Lalu kemudian, hasilnya ditentukan oleh para finalis itu sendiri dan bukan intervensi atau ketebelece mentor. Mentor hanya bisa menyarankan atau mengkampanyekan pada penggemarnya masing-masing untuk voter pada anak asuhnya, tapi tidak memaksa dengan cara apapun. Masyarakat voter yang menentukan berhasil atau tidaknya para finalis ajang kontes X-Faktor, bukan juri atau popularitas juri. Satu lagi, mentor yang juga juri sepertinya tidak mengharapkan timbal balik dari finalis yang berhasil menjadi pemenang di ajang kontes X-Faktor Indonesia. Semua peserta berangkat dari angko nol untuk meraih sukses dan bermanfaat dimasa depan.

Nah, bagaimana dengan pemilu atau pilkada, apakah sama  atau berbeda? Apakah calon legislatif atau eksekutif itu adalah berdasarkan seleksi yang ketat? Faktor X apakah selain uang yang dimiliki oleh calon legislatif atau eksekutif di pemilu/pilkada? Dan seabrek pertanyaan lain yang semua sudah tahu jawabannya, jadi tidak perlu ditulis lagi. Maaf, menurut saya ada pelajaran menarik yang perlu dicontoh oleh partai politik yang akan mengikuti pemimlu/pilkada di Indonesia dari X-Faktor Indonesia. Bila pemilu/pilkada menyerupai X-Faktor Indonesia, bisa dipastikan golput jauh berkurang, iklim politik menjadi cerah dan Indonesia makin maju kedepannya.

0 comments:

Poskan Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!