Searching...
Selasa, 12 Februari 2013

Penentu Suatu Pilihan, Popularitas atau Elektabilitas?

Apakah penentu pilihan itu popularitas atau elektabilitas
Penentu suatu pilihan, popularitas atau elektabilitas? Pertanyaan ini sebenarnya sangat umum dan biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari, terutama jelang Pemilu, Pilkada atau Pilpres. Apa sekian ratus juta penduduk Indoensia mengerti apa itu popularitas dan elektabilitas? Padahal pada prakteknya, kedua kata tersebut menjadi tolak ukur dalam memilih sesuatu, apapun itu, seperti halnya memilih sebuah produk dari sekian banyak produk sejenis dan sama-sama ngepop alias TOP.

Samakah pengertian popularitas dan elektabilitas itu? Tidak, kata poopularitas (popularity = terkenal) dan elektabilitas (electability = tingkat keterpilihan) sama sekali jauh berbeda, hanya saja satu dengan lainnya saling mendukung. Sesuatu dikatakan popularitasnya tinggi belum tentu eklektabilitas tinggi. Seperti dalam kehidupan sehari-hari, dimana kita banyak dihadapkan oleh banyak pilihan produk yang sama-sama popular dan top. Kemudian hanya satu dua produk yang memiliki tingkat keterpilihan (elektabilitas) tinggi. 

Produk tersebut hampir setiap hari hadir dimata kita melalui iklan yang mencitrakan keunggulan-keunggulannya, tapi apakah kita dengan mudahnya memilih produk tersebut hanya karena melihatnya di iklan-iklan tersebut? Bagi yang tidak berpikir panjang mungkin sekali melihat dan memiliki kemampuan untuk membeli, pastinya langsung memesan atau membeli, meskipun tidak jarang akhirnya ada penyesalan akibat memilih hanya karena popularitasnya saja. Bukan hal baru di Indoneisa, dalam memilih sesuatu itu banyak dipengaruhi oleh popularitas.

Untuk elektabilitas juga bukan hal baru, istilah ini sudah digunakan secara umum, meski tidak terdefinisikan sebagai elektabilitas. Bila melihat popularitas, semua produk sepeda motor yang ada di Indonesia itu popular. Coba kita lihat beberapa produk sepeda motor di Indonesia dan mana terbanyak dipilih? Apa penyebabnya produk sepeda motor itu dipilih? Apa kelebihannya dibanding produk sepeda motor lainnya? Pasti penilaian itu tergantung dari pengguna atau calon pembeli masing-masing produk.

Kata popularitas sangat umum ditemui tanpa harus menunggu suatu even, tapi kata elektabilitas umumnya muncul berkaitan dengan pemilu, pilkada atau pilpres, ya seperti sekarang ini jelang pemilu 2014 dan pada beberapa daerah di Indonesia yang sedang mengadakan Pilkada. Kata elektabilitas bisa dikaitkan dengan sosok yang akan dipilih atau nama partai peserta pemilu. Tidak pernah ada elektabilitas itu dikaitkan dengan produk sepeda motor, padahal pada prakteknya elektabilitas produk sepeda motor itu yang menentukan dipilih atau tidaknya oleh pembeli.

Bagaimana bila dikaitkan dengan Pemilu, Pilkada atau Pilpres di Indoensia, apakah penentu pilihannya itu popularitas atau elektabilitas? Menurut pendapat saya, yang mempengaruhi pilihan pada even tersbut masih pada popularitas sosok yang dipoles sedemikian rupa oleh promosi, jargon dan kata-kata manis disaat kampanye, sehingga akhirnya terpilih dan kemudian disesali dan didemo. Bahkan kacaunya lagi, penentu pilihan itu kadang bukan keduanya, tapi ujung-ujungnya duit sebagai pemikat diatas janji manis saat kampanye demi kepentiingan rakyat.

Dua kata kunci itu, popularitas dan elektabilitas menjadi incaran untuk tetap pada posisi puncak oleh partai apapun, sosok siapapun dan kelompok apapun.Sampai-sampai Presiden yang juga menjadi ketua dewan pembina partai harus turun tangan membenahi partainya disebabkan oleh isu menurunnya elektabilitas dari partainya akibat kasus korupsi. 

Dua kata kunci itu, popularitas dan elektabilitas menjadi tolak ukur sukses atau tidaknya dalam pemilu, pilkada atau pilpres, sehingga bukan rahasia lagi jika seorang artis atau publik figur menjadi bagian dari pendongkrak popularitas. Kita lihat saja pada kenyataan para wakil rakyat di tingkat pusat saat ini, dimana prosentase sosok yang popularitasnya tinggi (artis/aktor) itu banyak sekali ditemui disana. Atau dalam beberapa pilkada,  untuk menarik simpati pemilih, sosok artis atau publik figur yang sering muncul dilayar televisi menjadi pilihan untuk dijadikan jago dalam pasangan peserta pilkada. Paling tidak, masyarakat pemilih sudah tidak bertanya lagi siapa itu A atau B, karena mereka sudah terbiasa muncul dan dikenal lewat layar kaca. 

Kejadian pilkada Jakarta itu sangat berbeda dengan pilkada di provinsi lainnya di Indonesia, seperti terpilihnya Jokowi dan Ahok. Kelima pasangan Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu itu hampir seluruhnya memiliki popularitas yang sama, nah kenapa Jokowi-Ahok muncul sebagai pemenang? Siapa yang membuat Jokowi-Ahok memenangi pilkada DKI Jakarta waktu itu? Kenapa Jokowi-Ahok memiliki tingkat elektabilitas yang begitu tinggi saat itu, padahal notabene dikeroyok sebagian besar parpol di Indonesia? Nah belum berapa lama, sudah ada kabar angin dari lembaga survey mengatakan, elektabilitas Jokowi tertinggi sebagai Capres 2014. 

Masalah popularitas dan elektabilitas ini sangat menarik, apalagi bila dikaitkan pada permasalahan politik disaat-saat jelang pemilu, pilkada atau pilpres. Dibawah ini, sebagai wawasan mengenai popularitas dan elektabilitas, saya sadur secara lengkap tulisan dari Bapak Said Zainal Abidin, ahli manajemen pembangunan daerah (regional development management) dan kebijakan publik, guru besar STIA LAN. Sekarang sebagai penasihat KPK.
Jakarta - - Menjelang pemilihan umum (pemilu) yang makin dekat, partai-partai politik dan tokoh-tokoh yang berminat untuk maju dalam pemilu itu, sudah mulai bersiap-siap. Sebagian sudah ada yang mengarah, sebagian lain baru pasang kuda-kuda.
Jika diperhatikan dari efektifitas sebuah kampanye, mungkin dapat disebutkan, semua mereka sesungguhnya belum berkampanye, walaupun sudah ada yang mulai turun ke desa-desa, atau melemparkan jargon-jargon dan harapan-harapan melalui media massa. Alasannya, istilah-istilah yang dipergunakan banyak yang masih sulit dicerna rakyat biasa. Bahasa yang diucapkan masih bergaya puisi. 
Minggu yang lalu, seorang tetangga saya, lulusan S2 dari sebuah perguruan tinggi di USA, datang bertanya kepada saya makna dari “ruang” yang dipergunakan dalam kampanye politik seorang tokoh nasional. Katanya, tokoh politik itu kira-kira mengatakan “untuk pembangunan kita memerlukan sebuah ‘ruang’ yang aman dan damai……”. Saya hanya tersenyum, tidak memberi sesuatu jawaban. Nah, kalau teman saya ini belum dapat mengerti istilah yang dipergunakan, bagaimana lagi dengan rakyat umum di desa-desa dan kota-kota? Kalau rakyat tidak tahu apa yang dikatakan, untuk apa ada kampanye?
Pertanyaan yang perlu kita kemukakan, apa yang menjadi tujuan dari kampanye itu? Apakah sekedar untuk popularitas dengan sering tampil, atau untuk meningkatkan elektabilitas? Istilah popularitas dan elektabilitas dalam masyarakat memang sering disamaartikan. Padahal keduanya mempunyai makna dan konotasi yang berbeda, meskipun keduanya mempunyai kedekatan dan korelasi yang besar. 
Popularitas lebih banyak berhubungan dengan dikenalnya seseorang, baik dalam arti positif, ataupun negatif. Sementara elektabilitas berarti kesediaan orang memilihnya untuk jabatan tertentu. Artinya, elektabilitas berkaitan dengan jenis jabatan yang ingin diraih. Elektabiltas untuk menjadi gubernur tidak sama dengan elektabilitas untuk jabatan Ketua PSSI.
Dalam masyarakat, sering diartikan, orang yang populer dianggap mempunyai elektabilitas yang tinggi. Sebaliknya, seorang yang mempunyai elektabilitas tinggi adalah orang yang populer. Memang kedua konstatasi ini ada benarnya. Tapi tidak selalu demikian. Popularitas dan elektabilitas tidak selalu berjalan seiring. Adakalanya berbalikan. 
Orang menjadi popular karena sering tampil di depan umum. Sering terlibat dengan persoalan-persoalan publik. Bagaimana dia tampil, merupakan persoalan lanjutan untuk menilai elektabilitasnya. Kalau tampilnya sebagai pelaku kriminal, sebagai koruptor atau karena tindakan yang melanggar etika publik, maka pengaruhnya terhadap elektabilitas tentu saja negatif. 
Aceng Fikri sekarang sudah menjadi sangat populer. Sudah dikenal secara meluas, mulai dari orang kecil dikaki gunung, sampai ke SBY di istana Negara. Tapi apakah dia memiliki elektabilitas untuk maju sebagai Calon Presiden tahun 2014 ? 
Orang yang memiliki elektabilitas tinggi adalah orang yang dikenal baik secara meluas dalam masyarakat. Namun untuk dapat dikenal secara luas, perlu ada usaha untuk memperkenalkan. Di sini publikasi dan kampanye memegang peranan penting. Ada orang baik, yang memiliki kinerja tinggi dalam bidang yang ada hubungannya dengan jabatan publik yang ingin dicapai, tapi karena tidak ada yang memperkenalkan menjadi tidak elektabel. Sebaliknya, orang yang berprestasi tinggi dalam bidang yang tidak ada hubungannya dengan jabatan publik, boleh jadi mempunyai elektabilitas tinggi karena ada yang mempopulerkannya secara tepat. 
Maka itu, dalam hal ini tergantung pada dua aspek. Pertama, teknik kampanye yang dipergunakan. Kedua, tingkat kematangan masyarakat. Dalam masyarakat yang belum berkembang, kecocokan profesi tidak menjadi persoalan. Sementara dalam masyarakat yang relative maju professi calon menjadi cukup penting. 
Uraian ini perlu dikemukakan dengan maksud untuk memperjelas bagi mereka yang ingin maju sebagai calon presiden dan calon wakil presiden pada waktu yang akan datang. Begitu juga bagi juru kampanyenya. 
Yang perlu diingat, tidak semua kampanye berhasil meningkatkan elektabilitas. Ada kampanye yang menyentuh, ada kampanye yang tidak menyentuh kepentingan rakyat. Kampanye yang menyentuh kapentingan rakyat bisa diharapkan dapat meningkatkan elektabilitas. Tapi kampanye asal kampanye, tanpa menampilkan kinerja tokoh atau menggunakan kata-kata yang tidak relevan atau yang tidak dapat dipahami rakyat, nampaknya dapat berakibat pada “arang habis, besi binasa”.
Sementara itu ada kampanye yang berkedok sebagai survei, dengan tujuan untuk mempengaruhi orang yang sulit membuat keputusan dan sekaligus mematahkan semangat lawan. Kampanye seperti ini jika dilakukan secara periodik, dengan hasil yang sudah didesain, sering kali sangat efektif. Tetapi teknik kampanye seperti ini dapat merusakkan image survei di mata masyarakat pada masa yang akan datang. Secara ilmiah dapat dipandang sebagai pengkhianatan terhadap ilmu pengetahuan. Karena itu, pemerintah perlu melarang. 
Bagaimana sobat setelah membaca perihal popularitas dan elektabilitas? Apakah penentu suatu pilihan dalam pemilu, pilkada atau pilpres itu sekedar berdasarkan popularitas, elektabiliatas, atau keduanya? Mudah-mudahan pada pemilu mendatang tidak lagi hanya terpengaruh pada popularitas, atau parahnya terpengaruh serangan fajar gocapan atau cepean. 

Paling tidak seperti membeli sebuah sepeda motor sajalah trik dalam pemilu, pilkada atau pilpres dan tidak hanya melihat modelnya pembungkusnya saja, tapi lihat bagaimana after sales servicenya, ketersediaan suku cadangnya, pelayanannya atau mungkin harga jual setelah bosan nantinya. Kitalah raja dalam menentukan pilihan, kitalah raja dalam memutuskan sesuatu, bukan amplop atau bujukan dan janji manis yang memperngaruhi pilihan kita. Siapa yang banyak janji atau bersumpah tanpa diminta, dia itu pasti pendusta ulung.

Maaf, ini adalah pendapat saya pribadi mengenai popularitas dan elektabilitas. Jika ada perbedaan pendapat, ya monggo, kepala sama hitam cara berpikir siapa yang tahu? Thank's!

0 comments:

Poskan Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!