Searching...
Sabtu, 16 Februari 2013

Kotak-kotak Rieke Bukan Kotak-kotak Jokowi


Kotak-kotak Rieke bukan kotak-kotak JokowiBeberapa hari ini tayangan televisi mengenai kegiatan kampanye Cagub dan Cawagub Jawa Barat kelihatan seru, meski tidak seseru Pilkada DKI Jakarta waktu itu. Saat Pilkada DKI Jakarta tidak hanya ramai saat seluruh Cagub dan Cawagubnya kampanye dilapangan, tetapi juga begitu riuh di dunia maya. Apalagi ketika itu Pilkada DKI Jakarta berlangsung pada dua putaran, antara Cagub dan Cawagub incumben Foke-Nara vs Jokowi-Ahok. Lalu apa hubungannya dengan kotak-kotak Rieke bukan kotak-kotak Jokowi ?

Bila bicara kotak-kotak pasti semua warga Jakarta masih ingat, ketika kotak-kotak dijadikan motif baju yang digunakan dan dijadikan simbol Jokowi-Ahok dalam berkampanye waktu itu. Nah, saat ini motif tersebut juga digunakan oleh Cagub dan Cawagub Jawa Barat, Rieke-Teten yang diusung  PDIP. Bukan motif kotak-kotak saja yang digunakan oleh Rieke dalam berkampanye, tapi hampir seluruh materi hampir menyerupai materi saat Jokowi berkampanye. 

Kilas balik isi materi kampanye Jokowi saat Pilkada DKI Jakarta, ternyata konsentrasi utama pada kampanye Jokowi adalah mengatasi kemacetan lalu lintas, permasalahan yang berkaitan dengan banjir, pasar,  pendidikan dengan kartu pintar, dan lain sebagainya. Saat melihat materi kampanye Rieke di salah satu televisi sepertinya hampir sama, hanya ada sedikit perubahan nama saja. Seperti Kartu Jabar Bangkit oleh Cagub Rieke-Teten, sedangkan waktu Pilkada DKI Jakarta saat itu sebutannya Kartu Pintar oleh Jokowi-Ahok. Blusukan dan tiba-tiba merakyat pun mengikuti gaya Jokowi, seperti makan bakso keliling, becek-becekan dipasar tradisionil. Untuk materi dan gaya kampanye Cagub Rieke-Teten kotak-kotaknya hampir sama dengan kotak-kotak Jokowi-Ahok.

Jika hampir sama, berarti masih ada perbedaan antara Rieke-Teten sebagai Cagub-Cawagub jabar dengan Jokowi-Ahok. Perbedaan ini jelas sekali terlihat pada pasangan Cagub dan Cawagub Rieke-Teten dengan Jokowi-Ahok, meskipun sama-sama menggunakan mengangkat motif kotak-kotak. Dimana letak perbedaannya dari kedua pasangan tersebut?

Ada perbedaan antara Cagub dan Cawagub Rieke-Teten, bila dibandingkan dengan pasangan Jokowi-Ahok. Tentu ini akan mempengaruhi hasil akhir Pilkada Cagub dan Cawagub Rieke-Teten, mungkin hasilnya tidak akan sama dengan Jokowi-Ahok pada Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Kotak-kotak Rieke bukan kotak-kotak Jokowi bisa dilihat dari tiga hal, yaitu: Jenis Kelamin, Gaya Kampanye dan Dukungan.

Kotak-kotak Rieke bukan kotak-kotak Jokowi, karena Cagub Rieke itu wanita

Cagub Rieke Diah Pitaloka yang wanita mungkin tidak begitu populer bagi warga Jawa Barat yang masih menganut pimpinan laki-laki. Kalau pun mendapat suara, itu pun hanya suara dari kader PDIP dan bukan dari warga Jawa Barat yang dilingkungannya banyak tersebar pesantren-pesantren, berbeda dengan DKI Jakarta yang heterogen dan multi etnis. Cagub Rieke yang wanita itu akan menjadi batu sandungan, meskipun disaat kampanye warga Jawa Barat kelihatan menerima ide dan akan mendukung Cagub dan Cawagub Rieke-Teten. 

Kotak-kotak Rieke bukan kotak-kotak Jokowi, bila dilihat dari gaya kampanye

Gaya kampanye Rieke sangat berbeda mulai dari gaya bicara, perhatian dan pembawaannya dengan gaya kampanye Jokowi. Hal yang masih diingat oleh saya pribadi adalah satu hal, yaitu Jokowi tidak pernah berbicara lantang seperti gaya bicara Rieke yang selalu lantang dan menggebu-gebu layaknya saat berdemonstrasi buruh. Kita tahu, warga Jawa Barat itu memiliki kelembutan dalam bertutur kata, meskipun dalam keadan marah. Nah, disini Rieke tidak memanfaatkan dan mencontoh gaya Jokowi yang apa adanya.

Entah benar atau tidak berita dari beberapa media online, bahwa Cagub Rieke merasa yakin menang telak dan mendapat dukungan penuh dari kaum buruh. Nah, disini sepertinya Rieke terlalu percaya diri dan sangat berbeda dengan gaya Jokowi yang selalu biasa-biasa saja tanpa pernah mengungkapkan dirinya akan menang pada Pilkada DKI Jakarta waktu itu.

Satu hal yang membuat kaget adalah ketika melihat youtube saat Cagub Rieke berkampanye di Bogor, ketika Rieke akan memasuki salah satu toko pengrajin di Bogor ada seorang yang menyalami dan mencium tangan Rieke. Saat itu Rieke menerima uluran tangan tanpa melihat si penyalam yang mencium tangannya, kemudian masuk keruangan toko pengrajin  tersebut. Coba kita bandingkan dengan cara Jokowi menyambut warga yang menyapa dan meyalaminya, wah sungguh berbeda. Jokowi kelihatan low profile, seperti gambar dibawah ini, untuk lengkapnya bisa dilihat di http://youtu.be/q-OwW2m5eGQ (Rieke kelihatan acuh tak acuh saat disalami) dan ini saat Jokowi Kmapanye di Condet Jakarta Timur (http://youtu.be/PGySa7EHxug).

Gaya Rieke Bukan kotak-kotaknya JokowiGaya Rieke bukan kotak-kotaknya Jokowi

Kotak-kotak Rieke bukan kotak-kotak Jokowi, bila dilihat dari dukungan

Kotak-kotak Rieke-Teten di Jawa Barat belum tentu menyamai kesuksesan dari kotak-kotak Jokowi-Ahok, bila melihat dari dukungan yang diberikan. Saat Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu, Keriuhan kampanye berdesakan hingga kedunia maya antara pendukung Foke-Nara dan pendukung Jokowi-Ahok. Pilkada Jabar yang dekat sekali lokasinya dengan DKI Jakarta tidak seramai Pilkada DKI Jakarta, apalagi keriuhan atas dukungan Rieke sama sekali berbeda pada dukungan saat Jokowi-Ahok menjadi Cagub dan Cawagub Pilkada DKI Jakarta. 

Pendukung paspol pun berbeda antara pendukung kotak-kotak Cagub dan Cawagub Rieke-Teten di Pilkada Jabar dan pendukung kotak-kotak Jokowi Ahok. Saat itu Kotak-kotak Jokowi-Ahok tidak hanya didukung oleh PDIP, tapi juga oleh Partai Gerindra yang mendukung Jokowi hingga dilayar kaca.. Bahkan, bisa dikatakan dukungan warga DKI Jakarta pada Jokowi-Ahok saat pilkada DKI Jakarta disebabkan oleh faktor sosok Jokowi dan Ahoknya sebagai penentu. Jokowi dianggap sebagai sosok fenomena yang tampil beda dan Indonesia sekali, sedangkan Ahok muncul sebagai sosok yang dikabarkan jujur saat menjabat bupati Belitung Timur. Paling tidak sumber suara terbesar Jokowi-Ahok berasal dari kalangan bawah dan Etnis Thionghoa yang menjadi warga DKI Jakarta. Meskipun hanya didukung oleh PDIP dan Partai Gerindra, pasangan Jokowi-Ahok bisa memenangi pertarungan di Pilkada DKI Jakarta putaran kedua saat dihadapakan oleh pasangan Foke-Nara yang didukung oleh banyak partai.

Ikut andilnya Jokowi 'jika saya warga Jawa Barat, saya akan pilih Rieke' pada iklan di TV sepertinya tidak begitu berpengaruh di Jawa Barat. Bahkan bisa jadi sebaliknyam  warga Jawa Barat akan melihat Cagub Rieke sepertinya tidak percaya diri karena menggunakan pengaruh Jokowi yang sedang naik daun untuk membantu berkampanye. Mungkin hal ini akan mendapat cibiran, terutama dikalangan terpelajar warga Jawa Barat. 

Jadi menurut saya pribadi, Kotak-kotak Rieke-Teten tidak akan sesukses kotak-kotak Jokowi-Ahok, jika tidak melakukan perubahan dan inovasi. Mudah-mudahan kampanye menarik simpati warga Jawa Barat oleh Cagub-Cawagub bisa lebih dari sekedar kotak-kotak Jokowi-Ahok, sehingga mendapat banyak simpati dan suara pada tanggal 24 Februari  2013 mendatang.

0 comments:

Poskan Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!