Searching...
Kamis, 07 Februari 2013

Korupsi Investasi Menarik Pejabat Kerdil

Korupsi Investasi Menarik Pejabat Kerdil
Korupsi menjadi investasi menarik bagi oknum pejabat berjiwa kerdil di Indonesia ini. Korupsi bukan hal tabu dan mengerikan dimata pejabat berjiwa kerdil, bahkan korupsi bagai ajang dan ladang subur bagi mereka. Tidak perduli latar belakang, tidak perduli dampak dan tidak perduli risiko yang akan dihadapi bila tertangkap KPK. 

Korupsi adalah investasi tiada tanding di negeri ini, coba mana ada investasi yang menguntungkan seperti korupsi? Tidak ada! Investasi bentuk deposito saja paling banter sebulan untungnya berkisar 2%, bila ada yang sampai 10 % perlu dicurigai itu. Invesatasi korupsi jauh diatas itu, bila dihitung dengan rumus matematika jenis apapun. Untuk 12 Milyar risiko hukumannya hanya 4,5 tahun saja di penjara dan denda yang jauh lebih kecil dari nilai korupsinya, meskipun masih dalam tahap banding.

Untuk deposito atau bermain bursa jenis apapun, seluruhnya memerlukan modal dan tidak gratis. Awalnya diperlukan modal, baik itu besar atau pun kecil. Korupsi nampaknya juga seperti itu, karena pelaku tindak korupsi bukan orang yang datang dari kampung yang tidak memiliki jabatan. Pelaku tindak korupsi rata-rata memiliki jabatan dan kedudukan yang baik pada posisi-posisi yang basah, ditambah lagi mereka itu rata-rata terkenal dan berpendidikan tinggi.

Kata korupsi bila dilihat dari artinya, yaitu penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dsb) untuk keuntungan pribadi atau orang lain, termasuk juga penyuapan (gratifikasi). Berarti korupsi tiu tidak ada bedanya dengan tindak pidana pencurian, tapi kenapa banyak yang lebih suka dengan korupsi dari pada sekedar mencuri? Inilah hebatnya korupsi, meskipun disebut tindakan terlarang dan memalukan di negara Indonesia ini.

Korupsi sebagai investasi bagi pejabat kerdil pastinya lebih menarik dan menjanjikan, meskipun dengan seribu risiko dibelakang menanti. Bagi mereka, korupsi lebih baik dari investasi model lainnya. Korupsi lebih menguntungkan dari investasi apapun di Indonesia ini. Terakhir adalah, bila akibat korupsinya itu berhadapan dengan hukum, bagi mereka pejabat kerdil hukum bagai kerikil kecil dan bumbu saja. Hukuman hanyalah   sarana bersabar bagi pejabat kerdil yang melakukan korupsi.

Pejabat kerdil itu memang pintar dan cerdar, karena memilih korupsi sebagai investasi mereka. Mereka bukan pencuri, perampok atau maling! Para pelaku tindak korupsi yang biasa disebut koruptor itu sangat berbeda dengan pencuri, copet, maling atau perampok, karena hukuman tindak pidana korupsi tidak pernah seberat tindak pidana pencurian, copet, perampok atau maling.

Seorang perampok uang senilai 100 juta rupiah kemungkinan bakal diganjar hukuman diatas 5 tahun penjara,    lain dengan pelaku korupsi sekian miliyar hanya dihukum doremifasolasido. Perdedaannya mungkin perampok itu dilakukan oleh orang malas yang ingin cepat punya uang, sedangkan korupsi dilakukan oleh pejabat pintar meski kerdil. Perampok tidak memiliki dukungan dan jaringan, sedangkan korupsi sangat perlu jaringan. Perampok tidak pernah didampingi oleh pengacara top, karena tidak sanggup. Pelaku tindak pidana korupsi jangan ditanya lagi untuk pendamping saat dipengadilan, rata-rata top deh.

Perampok biasanya dilakukan oleh orang malas, susah atau memiliki motif dendam dan sebagainya. Berbeda dengan korupsi, tindakan ini dilakukan dengan penuh kesadaran, tanpa paksaan dan saling berjabat tangan tanda sama-sama tahu oleh para pejabat kerdil. Penampilan pun berbeda jauh antara perampok dengan pelaku korupsi. Dari namanya saja, perampok itu seram dan garang. Nah, karena pelaku korupsi itu pejabat, jadi penampilan jauh berbeda dan kelihatan sangat terhormat. 

Yang membingungkan adalah, orang melakukan perampokan atau pencurian itu karena tidak memiliki apa yang dicurinya,  sedangkan pelaku tindak korupsi dilakukan oleh mereka yang sebenarnya sudah memiliki apa yang dikorupsinya itu. Mengherankan, Untuk apa coba! Mereka yang korupsi itu rata-rata sudah kaya dan tenar, jika tidak korupsi pun mungkin hartanya tidak akan habis selama mereka masih hidup. Lalu, untuk apa dan kemana uang yang mereka korupsi? Hanya Tuhan Yang Tahu, dan si pejabat kerdil pelaku investasi korupsilah yang tahu. 

Artikel ini terinspirasi oleh beberapa vonis hukuman yang begitu ringan terhadap para pelaku korupsi, seperti kasus  mantan pejabat di Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jocob Purnomo yang telah merugikan negara sebesar 80 miliyar rupaih hanya vonis 9 tahun penjara, dan ini pun masih diberi waktu tujuh hari untuk mempertimbangkan putusan hakim. (sumber: Berita KPK). Meski sama-sama pejabat kerdil, kelihatannya lebih berat hukumannya dibanding pejabat kerdil pelaku korupsi yang biasa disebut terhormat. 

Bagaimana dengan investasi korupsi Hambalang dan Century nih, dimana kerugian negaranya miliyar-miliyar dan triliyun?? Sayangnya investasi korupsi tidak diperdagangkan di bursa efek, jika ada pasti sangat menguntungkan.

0 comments:

Poskan Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!