Searching...
Rabu, 16 Januari 2013

PKL Mulai Tampak di Tepi-tepi Jalan Kota Solo

PKL ditepi Jalan daerah Solo Paragon
Awal datang ke kota Solo pada tahun lalu memang benar, jika di kota Solo tidak ada pedagang kaki lima (PKL) di tepi jalan. Kalau pun ada PKL, itu yang berdagang di dalam gang atau di depan pasar pada pagi hari khusus pedagang makanan, seperti yang terjadi setiap hari dipasar relokasi PKL di Kentingan Solo. Itu masih wajar, karena siang hari mereka kembali ke kios masing-masing di pasar relokasi itu.

Beberapa hari ini, dipertengahan bulan Januari 2013 ini ternyata PKL ada yang berdagang di tepi jalan lagi, padahal biasanya tidak ada. Tadinya kupikir itu hanya sekedar beristirahat atau melayani pembeli saja, karena PKL itu mengunakan sepeda motor. Pada sore harinya ternyata PKL tersebut masih berada ditempat itu. Keesokan harinya pun begitu ketika lewat dijalan yang sama, PKL yang kemarin masih berjualan dan mangkal ditempat yang sama, bahkan ada PKL lain di sebelahnya.

PKL dan Becak yang berada Di tepi Jalan di SoloHeran campur tidak percaya, padahal kota Solo sudah terkenal dengan kota yang PKL tidak mangkal ditepi jalan. Beberapa hari kemudian  disaat libur, bersama temanku naik sepeda motor melewati beberapa jalan besar di Kota Solo. Kebetulan kami memang penasaran dan ingin membuktikan, apakah  PKL lain juga mulai turun ke jalan raya di kota yang belum lama ini jalan-jalannya terbebas dari PKL?.

Wah, ternyata seperti si buta dari gua hantu atau tarzan turun ke kota, PKL memang ada lagi di tepi-tepi jalan protokol dan beberapa jalan raya besar di Kota Solo, waktu itu hanya 20 menit keliling dengan sepeda motor. Padahal belum lama kulihat di pertigaan jalan tidak pernah ada becak, ojek atau pedagang yang mangkal, tapi sekarang semrawut. Kenyataan PKL ada di tepi-tepi jalan kota Solo ini seperti terlihat di beberapa foto dibuat tanggal 15 bulan Januari 2013, pemotretannya dilakukan sambil naik sepeda motor berjalan tanpa arah di jalan-jalan besar kota Solo.
Beberapa PKL yang berjualan di tepi Jalan Kota Solo
Ada beberapa pertanyaan dari kenyataan yang kulihat, apa yang salah dan kenapa mereka kembali berdagang di jalan? Apakah karena keuntungan atau pembeli lebih ramai di tepi jalan, mereka tidak mau mengikuti aturan pemerintah yang benar atau memang budaya ganti pimpinan ganti juga cara dan gayanya. Bingung! Sekali waktu setelah itu, kutanya pada salah satu pedagang sambil membeli sesuatu, dan jawabannya klise "lebih ramai disini mba pembelinya". Jika memang pendapat itu hanya satu dua pedagang mungkin tidak masalah, tetapi kalau satu-per satu terpengaruh dan kembali kejalan apa jadinya kota yang terlanjur terkenal bebas PKL itu?

Kenyataan itu seperti runtuhnya jembatan di Tenggarong Kalimantan Timur yang kelihatan begitu kokoh dan megah atau budaya mbeling (bandel) para PKL? Jika disebabkan oleh Walikota yang baru, rasanya kecil kemungkinan menjadi penyebab PKL kembali kejalan. Masa kebijakan yang baru ditinggal 100 hari diabaikan? Tidak mungkinlah walikota yang baru tidak meneruskan kebijakan lama, agar PKL tidak berjualan di tepi jalan raya lagi.

Padahal relokasi itu bagaikan sebuah bangunan ekonomi yang kokoh jika ditekuni dan dijalani oleh para pedagang, pastinya butuh waktu dan kesabaran untuk memperoleh hasil yang maksimal. PKL di pasar relokasi tidak kehujanan, kepanasan dan hanya perlu sedikit kreatif kalau  kata konsultankreatif, agar barang dagangannya laku. Apa mungkin mereka yang berdagang di tepi jalan itu para PKL pendatang baru dikota Solo? Yang tidak mengetahui jika di Kota Solo itu bebas dari PKL. Memang belum separah Jakarta PKL -nya, tapi lama kelamaan nampaknya tepi jalan menjadi magnet bagi para PKL yang telah direlokasi.

PKL di halte bus tepi jalan di SoloKenapa masalah PKL ini ditulis? Jawabannya, boleh dong kasih masukan agar yang sudah baik itu tidak menjadi buruk. Apalagi sebagai bagian dari warga kota Jakarta yang saat ini dipimpin oleh Pak Jokowi yang dulunya adalah mantan walikota Solo, makanya perlu membuat tulisan ini, karena sementara aku berada di kota Solo. 

Tujuannya jangan sampai selama dipimpin oleh beliau dan apapun program yang dibuatnya itu hanya berumur sementara seperti di Solo. Paling tidak bergesernya jangan terlalu jauhlah, itu masih lebih baik dibanding baru 100 hari ditinggal, PKL sudah kembali ke Jalan-jalan di Solo lagi. Jakarta pasti lebih baik, jika pimpinan dan warganya saling bekerja sama. Ayo kita semangat! Agar Jakarta ke depannya menjadi lebih baik.

Beberapa PKL berjualan di tepi jalan di Solo

0 comments:

Poskan Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!