Searching...
Rabu, 30 Januari 2013

Penyelesaian Kasus Narkoba dan Korupsi di Indonesia Separuh Hati

Penyelesaian Kasus Narkoba dan Korupsi Separuh Hati
Kasus narkoba umumnya merebak setelah ada korban atau kejadian, itu pun hanya sesaat dan tidak ada yang menindak lanjuti kasus narkoba ini kecuali Badan  Narkotika Nasional (BNN) atau Kepolisian. Padahal masalah narkoba ini sangat berpengaruh pada kemajuan bangsa, tapi kalah dengan iklan samphoo atau snack. 

Mungkin hampir semua kejadian dari tindak kejahatan atau pidana umumnya terekspose setelah timbul korban. Coba sosialisasi dalam pemberantasan tindak kriminal seperti narkoba, korupsi, perlecehan seksual atau tindak kejahatan lain itu mendapat perhatian melebihi iklan produk yang manfaatnya tidak seberapa itu.

Ini kenyataan, narkoba itu bukan kasus kejahatan biasa seperti kejahatan pencurian atau pembunuhan. Kasus Narkoba itu berdampak panjang dan menggurita dengan jutaan link yang terhubung, tidak beda dengan tindak pidana korupsi. Tapi kenapa tidak pernah ada dalam agenda kampanye dari salah satu pimpinan di negeri ini ya? Boleh dilihat apa janji dan target para kandidat pimpinan, entah itu Pilpres atau Pilkada. Tidak ada satu pun yang menyinggung, jika narkoba itu adlaah hal yang akan dijadikan target apabila terpilih nanti.

Untuk kasus korupsi memang ada dan tersirat dalam janji yang tidak tegas dan jelas, hingga hasilnya pun abu-abu seperti beberapa penyelesaian hukum tindak pidana korupsi pada waktu yang lalu. Mereka semua hanya menerima hukuman sebatas pindah tempat tinggal untuk sementara dan tidak ada efek jera bagi kemungkinan pelaku berikutnya. Begitu pun pada kasus narkoba yang ramai disaat jatuh korban, apalagi si korban itu publik figur

Dari kejahatan lain, narkoba dan korupsi lah yang sangat butuh perhatian khusus dan berkelanjutan. Bukan hanya sekedar slogan dalam kampanye atau memberikan beban pada satu badan untuk mengurus dan menyelesaikan urusan keduanya ini, seperti KPK dan BNN. Bukan berarti kejahatan lain diabaikan, tetap juga diperhatikan. Namun, kedua kasus ini lebih spesifik dan begitui rumit dalam penyelesaian hukumnya. Jika kasus pembunuhan, pelaku bisa diminta melakukan rekonstruksi kejadian, tapi pada kasus korupsi dan narkoba rasanya belum pernah diberitakan, baik itu di media cetak ataupun elektronik.

Kembali pada sosialisasi pencegahan untuk kedua jenis kasus tersebut juga belum maksimal, yang seharusnya gencarnya sosialisasi masalah narkoba dan korupsi itu lebih galak dari iklan rokok. mana yang lebih bermanfaat? Kenapa tidak pernah rutin dan hanya pada even-even tertentu saja, alias kagetan kampanye mengenai narkoba dan anti korupsi itu. Padahal jika kedua ini mendapat tempat khusus yang diwajibkan oleh penguasa negeri ini, bisa dipastikan Indonesia kan lebih aman dan nyaman dari kasus narkoba dan korupsi.

Saya tidak tahu, kenapa tidak pernah ada dalam agenda kerja calon pemimpin yang diungkapkan disaat-saat kampanye, apa mungkin takut atau gimana? Jika ada pun hanya slogan anti korupsi yang akhirnya dilanggar juga, parah. Seperti sekarang ini, kasus korupsi begitu-begitu saja, kasus narkoba marajalela dimana-mana. Ini salah siapa? Pastinya yang salah ya si pelaku kejahatan itu, tapi upaya penjeraan bagi mereka itu nonsen.

Jika mau, Presiden Indonesia bisa mengeluarkan peraturan presiden yang mewajibkan setiap media cetak atau elektronik untuk memuat sosialisasi perihal "narkoba dan korupsi" dimuat setiap hari dalam beberapa waktu yang rutin. Apa mungkin ditolak atau diabaikan oleh mereka (media), mereka pasti mengikuti peraturan yang juga berlaku sebagai hukum.  Bayangkan saja bila anak berusia 3 atau 4 tahun bisa menghafalkan lagu hanya dengan melihat dan mendengar, padahal mereka itu belum bisa membaca dan menulis. Ini membuktikan peran media sangat effektif dalam pemberantasan narkoba dan korupsi? Namun, pada kenyataannya tidak pernah ada, jika ada pun itu disaat-saat peringatan salah satunya atau kasusnya merebak (apalagi yang terjerat itu publik figur).

Dengan sosialisasi serius yang dimotori penguasa, generasi berikut yang masih clean dari kasus narkoba atau korupsi pasti menjadi forcast mati bagi kedua kasus tersebut. Jika sudah tidak ada yang bermiinat, perlahan pasti mereka akan pergi dengan sendirinya. Artinya Indonesia ke depan akan jadi lebih clean dari narkoba dan korupsi. 

Kenyataan berbicara lain, tidak ada pimpinan di negeri ini yang serius dalam dua hal tersebut. Ini bukan asal tulis, coba lihat saja realita yang terjadi dimana tidak pernah ada sosialisasi masalah narkoba dan korupsi yang berkelanjutan kecuali jika ada kasus atau korban saja. Seperti sudah diberitakan dibanyak media, tentang penyelesaian korupsi kelihatannya hanya sebatas lelucon, dan hanya dibebankan kepada KPK dan rakyat, tapi tidak dibebankan pada di lingkungan internal. Akhirnya penyelesaian kasus korupsi itu ya begitu, penyelesaian hukumnya pun begitu-begitu saja. Sebagai rakyat jelata yang baru belajar  baca tulis ini, merasa, sepertinya penyelesaian kasus narkoba dan korupsi di Indonesia itu separuh hati, bukan separuh jiwanya mas Anang Hermansyah

Adakah calon pimpinan masa depan yang berani dan tegas, serta amanah dengan janji-janji kampanyenya, khususnya pada hal narkoba dan pemberantasan korupsi di Indonesia? Hanya Tuhan Yang Tahu.

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!