Searching...
Kamis, 24 Januari 2013

M. Nazaruddin Dapat Hadiah Hiburan, Hukuman Jadi 7 tahun


hadiah hiburan jadi 7 tahun bagi m. NazaruddinJadi ada hiburan disaat banjir melanda kota Jakarta, M. Nazaruddin ditambah hukumannya menjadi 7 tahun ditingkat banding. Pertama ku ucapkan selamat buat KPK, meski hukumannya masih belum maksimal dan memuaskan hati masyarakat yang sudah empet sama pelaku korupsi di Indonesia ini. Lumayan lah naik dari 4 tahun 10 bulan menjadi 7 tahun, dari pada tidak sama sekali. Hitung-hitung keputusan MA itu hadiah hiburan bagi M. Nazaruddin, supaya lebih merenung didalam sana.

Kabar berita tanggal 23 Januari 2013 itu membuat kami jadi bersemangat lagi, artinya banding yang diajukan KPK membuahkan hasil. "Alhamdulillah, karena itulah yang kita inginkan, supaya ada efek jera," kata Abraham di Jakarta, Rabu (23/1/2013). Hasil ini kemungkinan akan menambah tenaga dan motivasi KPK pada kasus puteri Indonesia ditingkat banding.

Dalam amar putusannya, MA memperberat hukuman Nazaruddin dari empat tahun 10 bulan menjadi tujuh tahun penjara. MA juga menambah hukuman denda untuk Nazaruddin dari Rp 200 juta menjadi Rp 300 juta. Nazaruddin dianggap terbukti menerima hadiah yang berkaitan dengan jabatannya dalam kasus wisma atlet SEA Games. Menurut hakim agung, Nazaruddin terbukti sah dan meyakinkan bersalah melanggar Pasal 12 b Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sesuai dengan dakwaan pertama. Putusan ini sekaligus membatalkan putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta yang menyatakan Nazaruddin terbukti melanggar Pasal 11 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). (sumber: kompas.com).

Masih ada yang lucu sih, itu denda atau penyitaan harta yang dihasilkan dari korupsinya waktu itu? Bukannya dalam persidangan terbukti bersalah menerima suap. Seperti berita ini, "Di persidangan, Nazaruddin terbukti menerima suap sebesar Rp 4,6 miliar berupa lima lembar cek yang diserahkan Manajer Pemasaran PT Duta Graha Indah (DGI) Mohammad El Idris kepada dua pejabat bagian keuangan Grup Permai, Yulianis dan Oktarina Fury. Cek tersebut disimpan di dalam brankas perusahaan. Nazar juga dinilai memiliki andil membuat PT DGI menang lelang proyek senilai Rp 191 miliar di Kementerian Pemuda dan Olahraga" (Berita KPK).

Masa sih denda hanya sebesar itu, dari 200 juta hanya jadi 300 juta. Penambahan hukumannya lumayan, tapi dendanya itu yang masih acak adul. Itu sih sama saja dengan peserta lomba makan kerupuk di setiap perayaan HUT Kemerdekaan RI tiap tanggal 17 Agustus. Yang menang dapat hadiah, yang kalah juga dapat, ya seperti apresiasi saja lah hadiah hiburan diacara tujuh belasan buat ayng kalah. 

Nilai denda yang masih belum wajar ditingkat pemikiran saya, kalau yang lain ga tau dah, mungkin wajar kali dendanya cuma 300 juta dari korupsi 4, sekian miliar. Tujuh tahun bukan masa yang lama saat ini, seperti bangun tidur duduk manis twitteran atau main game tahu-tahu sudah azan Magrib lagi. Begitu seterusnya, sampai pintu penjara dibuka plus akibat remisi berkelakuan baik nantinya. Sebelum tiba dirumah dari penjara, mampir dulu ke ATM cek saldo, aman masih banyak!

Masa mau begini terus hukuman buat pelaku korupsi, selalu menguntungkan buat pelaku dan teman-temannya. Gimana tidak dicontoh sama calon pelaku korupsi berikutnya, masa sih ini sengaja dibentuk? Maaf, boleh dong berasumsi, bahwa "jika korupsi itu habis, maka banyak pemasukan besar hilang nantinya". Jangan dong! Kapan Indonesia mau bebas dari korupsi, bila begini-begini terus hukumannya. 

Selain hukumamn fisik pelaku tindak pidana korupsi, sepertinya perlu ketegasan hukuman secara psikis pada mereka. Harta disita habis-habisan, kalau perlu dilakukan pencucian otak secara elektronik, di Amrik ada ko yang jual. Tidak perlu hukuman mati, buat mereka lupa ingatan saja sudah cukup. Mereka para pelaku tindak korupsi itu bukan siapa-siapa, buat apa takut? Mereka itu tak beda dengan sampah, dan lebih terhormat mereka yang mengemis dipinggir jalan. 

Bagaimana bapak-bapak dan ibu-ibu yang terhormat, apakah hukuman bagi pelaku korupsi di Indonesia ini sudah pantas? Masihkah bapak-bapak dan ibu-ibu yang terhormat memandang mereka sebagai orang yang yang dihormati hak-haknya sebagai manusia? Jawabannya terserah bapak dan ibu yang terhormat sajalah. Jujur saja, dimata saya hukuman untuk pelaku korupsi itu cuma main-main alias hiburan bagi masyarakat kecil saja. Kalau tidak sependapat, ya monggo! Kita lihat saja berapa hukuman dan denda Angie nanti ditningkat banding.

0 comments:

 
Back to top!