Searching...
Rabu, 23 Januari 2013

Hilangnya Keceriaan Gubernur DKI Jakarta


Kelihatan Hilang keceriaan Gubernur Jokowi
Tidak seperti biasanya Gubernur DKI Jakarta, Jokowi yang selalu berwajah ceria dan murah senyum itu, tiba-tiba serius,  muram dan bersedih. Berdiri, mondar-mandir dan duduk diatas rel kereta api  di sekitar tanggul banjir Kanal Barat yang jebol tergerus air beberapa hari lalu.

Ini bukan penampilan yang dibuat-buat atau pura-pura, ini ekspresi natural dengan sejuta kata yang tersimpan dalam benak pak Gubernur. Ini semua terjadi semenjak tanggul Banjir Kanal Barat di Jalan Latuharhary, Menteng, jebol, Kamis (17/1/2013) pagi tadi sektar pukul 08.00 WIB. Hilang semua keceriaan Gubernur DKI Jakarta saat itu.

Apa ya yang dipikirkan oleh pak Gubernur saat itu? Ini jelas betul tersirat kekecewaan, kekesalan dan sebagainya. Apalagi banjir terjadi disaat 100 hari masa kerjanya dan pengentasan banjir jadi slogan kampanyenya waktu itu sebelum menjadi gubernur. Satu-satunya kejadian banjir yang pernah merendam Istana Merdeka hingga keruang dalam istana. Sialnya, kejadian banjir bertepatan dengan kedatangan tamu kehormatan dari Argentina pula.

Wajah pak Gubernur sepertinya menunjukan ekspresi kekecewaan yang dalam, mungkin didalam pikiran beliau kenapa ini bisa terjadi dan luput dari blusukannya waktu itu. Apalagi saat melihat  para anggota TNI yang sedang bergotong royong memperbaiki tanggul yang jebol.

Kemana semua pendukung Gubernur Jokowi? Bukannya saat blusukan ramai dan riuh, bukannya menurut data banyak yang mendukung dan gembar-gembor supaya jadi Presiden, apalagi di media sosial bukan main banyaknya. Sekarang disaat banjir pada kemana semua, kenapa yang memperbaiki itu berseragam TNI? Dimana mereka yang selalu membuntuti pak Gubernur saat blusukan? Terus lagi, untuk batu saja pak Gubernur harus minta dukungan dulu, kemana semua orang berduit yang mendukung Jokowi-Ahok dulu? Kalau tidak percaya baca, klik aja batu diatas, kan jadi sedih dan gimana gitu melihat Gubernur harus minta tolong seperti itu.

Padahal kalau dipikir-pikir, saat blusukan mestinya tim Jokowi itu tanggap yang dimaksudkan oleh pak Gubernur yang memprioritaskan pada pencegahan banjir, kenapa malah banjir Kanal Barat jebol?. Ini jelas sekali cuma ruyang-ruyung saja, ya tidak bakal kelar meski seribu kali ikut blusukan. Ini sih seperti orang bawa mobil yang ga ngecek ban, masuk tol dan ketahuan ban bermasalah setelah mobil terbalik. Wah, kacau dong kalau kerja model begitu.

Sebenarnya blusukan pak Gubernur itu sudah mantap, coba lihat saja beberapa waktu lalu beberapa daerah yang kerap terjadi banjir di bantaran kali Ciliwung telah dikunjungi. Ini tersirat, pak Gubernur memerintahkan ke anak buahnya untuk melakukan hal yang dilakukannya itu. 

Seharusnya jajaran Pemprov DKI Jakarta terkait dengan masalah banjir langsung membaca dan mengerti untuk melakukan tindakan pencegahan, kalau perlu naik perahu dari Jakarta sampai ke mata airnya di gunung sana. Masa pak Gubernur harus naik perahu dari sungai ke sungai untuk melihat dan mencari kemungkinan-kemungkinan buruk, seperti jebolnya tanggul banjir kanal barat itu. 

Permasahan  tanggul itu masalah teknis, jadi seharusnya terdeteksi sejak awal sebelum jebol, kenapa ini tidak? Kan ujung-ujungnya secara hirarki yang bertanggung jawab ya pak Gubernur juga dong, nah pak Gubernur jadi kena getahnya kan? Entah disengaja atau tidak, tanggul banjir Kanal Barat sudah jebol. Bukannya banyak tenaga ahli dibelakang pak Gubernur, please dong bantu pak Gubernur sepenuh hati, jangan nunggu perintah baru kerja. Masa pak Gubernur harus blusukan pake perahu dari Jakarta sampai ke mata air di gunung sana?


Bukannya musibah yang menimpa Jakarta itu adalah akibat dari sebab, nah loh bingung kan? Ya iya lah, banjir itu kan air yang meluap atau peristiwa yang terjadi ketika aliran air yang berlebihan merendam daratan (wikipedia). Jelas sekali kata "aliran" ada dalam definisi banjir, semestinya aliran penyebab banjir itu ditelurusi satu persatu dan tentu bukan dilakukan oleh pak Gubernur. Bukan kayak atau tamasya naik perahu di sungai, tapi memeriksa fisik tempat air mengalir, dari hulu ke hilir sungai atau kali, dari Jakarta ke sumber mata air di gunung sana kalau perlu.

Peristiwa banjir Jakarta ini secara teori bukan sekedar bencana, ada dua kemungkinan penyebabnya: pertama, keteledoran jajaran Pemprov DKI Jakarta dalam pencegahan (kontrol) terjadinya banjir yang tentu bersumber dari saluran-saluran air yang melintasi kota Jakarta; kedua, bisa jadi jebolnya tanggul itu disengaja  disaat 100 hari masa kerja pak Gubenur. Tapi, mudah-mudahan keduanya tidak menjadi penyebab banjirnya Jakarta, atau lebih baik kita salahkan saja si Banjir, beres kan! Kalau banjir di gang atau banjir di sungai Ciliwung biasanya itu sih wajar, dan ribet untuk dibenahi, karena menyangkut banyak orang.

Ayo dong semua pendukung pak Gubernur jangan cuma ruyang-ruyung kesana kemari, bantu dan dukung pak Gubernur habis-habisan dengan bekerja, semangat seperti kampanye waktu itu. Jangan biarkan pak Gubernur dalam kesedihan dan kemurungan seperti ketika tanggul Banjir Kanal Barat jebol dong. Singsingkan lengan baju, Nyok kite Bantu pak Gubernur, minimal jangan buang sampah sembarangan dan mau bersih-bersih sudah cukup lah.


Link 塔吉特千層蛋糕
Network Share Food Star - Touched Melaleuca cake, widely loved by the users, the products from raw materials imported to complete the process are in compliance with legal standard process.

0 comments:

Poskan Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!