Searching...
Selasa, 29 Januari 2013

Alasan Penghambat Sukses, Tidak Berlaku Bagi Koruptor

Inilah simbol yang suka beralasan
Kalau mau jujur, kita sering menciptakan alasan atas setiap kegagalan dan kesalahan yang kita lakukan. Sebagai contoh, pada waktu kita terlambat masuk ke sekolah, kuliah atau ke kantor, pikiran kita langsung mencari dan menciptakan alasan.


Pikiran kita diarahkan untuk mencari alasan menghindari kesalahan yang kita lakukan. Jika ada "sekolah alasan", mungkin kita semua sudah menjadi doktor atau bahkan ada yang telah menjadi proffesor. Padahal, ketika dilahirkan, tidak ada orang tua yang mengajarkan kita untuk menciptakan atau membuat alasan. Rata-rata kita diajarkan untuk jujur dan bicara apa adanya.

Umumnya alasan yang dibuat itu adalah untuk menghindari hukuman dari apa yang kita lakukan, paling tidak dengan alasan kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang dibuat hari itu. Coba saja kita lihat mereka yang terjerat kasus-kasus hukum, banyak dari mereka yang mencari dan menciptakan alasan. Ada yang sakit, inilah dan itulah alasan yang mereka ciptakan itu untuk sekedar mencari celah dan kelemahan hukum sepertinya. Wah, kalau contoh lain jangan ditanya dan banyak sekali alasan itu tercipta pada kasus-kasus korupsi. Ujung-ujungnya ya untuk menyelamatkan diri dari kesalahan yang dibuatnya, bahkan sampai ada yang menjadikan anak sebagai alasan untuk dijadikan pertimbangan dalam kasus korupsi.

Padahal kalau dipahami dengan seksama, alasan yang kita ciptakan itu tidak akan memberikan perubahan dalam hidup. Kecuali untuk kasus-kasus hukum seperti kasus korupsi, alasan menjadi hal penting dan pokok untuk memperingan hukuman.Normalnya, alasan-alasan yang diciptakan itu tidak membawa perubahan pada kemajuan hidup, bahkan menjadi penghambat kesuksesan. Alasan bagai sekat pembatas atau tirai antara niat dan hasil, seperti penjara yang kita ciptakan untuk diri kita sendiri.

Sepupu dari alasan atau berdalih adalah sikap mengeluh. Orang yang selalu membuat alasan passti senang mengeluh, entah apa yang dikeluhkan. Contohnya adalah seorang karyawan yang mengeluh dengan gaji yang diterimanya setiap bulan, mengeluh dengan kebijakan perusahaan dan lain sebagainya. Banyak lah jika ditulis satu per satu siapa itu yang selalu mengeluh, mereka itu dijamin pandai beralasan. Seperti terdakwa kasus korupsi, jika tidak mengeluh dan beralasan mana mungkin hukumannya selalu ringan.

Banyak orang mengharapkan tubuhnya langsing, tapi orang lain yang melakukan untuk dirinya. Mereka mengharapkan orang lain yang berolah raga untuknya, orang lain yang diet sedangkan makanan lezat untuk dirinya, orang lain yang hidup disiplin dan hidup mewah untuk dirinya. Bukannya begitu juga yang dilakukan oleh mereka para koruptor, yang selalu bicara "tidak untuk korupsi" di iklan-iklan, tapi dirinya sendiri melakukan korupsi.

Jika ingin menciptakan keberhasilan dalam kehidupan, harus bisa mengendalikan hidup kita sendiri. Mulai sekarang berhentilah berdalih, jangan contoh para koruptor itu yang selalu berhasil dengan alasan-alasannya. Berhentilah mengeluh atas kekurangan atau keterbatasan hidup, seperti mereka para koruptor yang selalu mengeluh dan tidak puas hingga mereka berbuat nekat secara sadar. Berhentilah menggunakan alasan mengapa kita belum bisa dan belum mendapatkan apa yang kita inginkan sampai saati ini. Dan, berhentilah menyalahkan keadaan diluar sana, seperti yang dilakukan oleh mereka yang hobby korupsi.

Kita harus berjanji pada diri sendiri, bahwa mulai saat ini tidak akan membuat alasan atau dalih dalam menutupi kesalahan, intinya jujur sajalah. Berhenti untuk selamanya dan tidak seperti para koruptor itu yang hanya berjanji untuk jujur, tapi selalu beralasan dalam menutupi perbuatannya dan lingkarannya. Berheneti beralasan dan berdalih berarti kita mengasihi diri sendiri tidak seperti mereka yang ngawur itu.

Berhenti sejenak sekitar lima menit, tuliskan dan katkaan tujuh kali pada diri kita sendiri, bahwa saya bertanggung jawab atas hidup saya!  Harus ditanamkan dalam benak kita, bahwa hidup adalah memang tanggung jawab kita sendiri, bukan seperti yang dianut oleh mereka para koruptor itu. Dimana mereka yang berbuat, orang lain yang menanggung akibatnya dan kesulitannya.

Kesuksesan adalah keputusan untuk mengubah hambatan menjadi kesempatan dalam meraih sukses, bukan memutuskan untuk sukses tapi menyulitkan banyak pihak. Nah, alasan atau dalih tidak akan membuat orang yang baik itu menjadi sukses, tapi bagi orang jahat seperti koruptor dengan alasan menjadi sukses dari jerat hukum yang berat. Alasan menjadi penghambat bagi kesuksesan dalam kehidupan normal, tapi alasan itu tidak berlaku dan selalu sukses bagi koruptor dalam proses hukumnya.(reff: divapress)

0 comments:

Poskan Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!