Searching...
Senin, 24 Desember 2012

Sidang Kasus Korupsi dari Negeri Dongeng

Saat sidang kasus korupsi di negeri DongengSidang kasus korupsi ini hanya terjadi di negeri dongeng, bukan di Indonesia. Namun, ada kesamaan dari kedua negeri ini, yaitu sama-sama ingin memberantas korupsi yang semakin menggurita. Kasus korupsi di negeri dongeng ini berbeda pada mata uangnya, disana menggunakan istilah setali, segulung dan sekarung untuk mata uangnya.

Suatu ketika ada seorang yang disidang dengan dakwaan kasus pidana  korupsi disebuah kota di negeri dongeng ini. Pengadilan disana jauh dari demokratis, dibanding pengadilan di Indonesia yang sangat terbuka belakangan ini.

Di negeri dongeng, yang berada di ruangan hanya terdakwa, hakim, jaksa dan pembela,  serta petugas polisi, sedangkan pengunjung dan pendukung terdakwa hanya diluar ruang sidang yang dilengkapi dengan alat bantu dengar berupa kaleng-kaleng  kosong yang terikat benang untuk mendengarkan persidangan. Berarti masih sedikit terbukalah di negeri dongeng ini.

Saat itu terdakwa sudah duduk di kursi terdakwa, sambil menunduk lesu tanpa daya menunggu keputusan sang hakim berambut gondrong dan macho, serta galak kelihatannya. Palu diketok tiga kali, pertanda sidang dimulai. Hari itu adalah sidang terakhir si terdakwa, jadi tinggal menunggu keputusan hukuman yang akan diterimanya hari itu dan besoknya. 

"Hari ini adalah keputusan akhir dari sidang yang sangat melelahkan," ujar sang Hakim dengan ekspresi supaya kelihatan galak dan seram. Lanjutnya lagi, "apakah saudara terdakwa sudah siap mendengarkan keputusan atau ingin menyampaikan pembelaan terakhir sebelum keputusan dibacakan?"

Si terdakwa menjawab,"jika diijinkan dan diperkenankan saya akan mengajukan pembelaan diri pak hakim yang terhormat." Si terdakwa kemudian mengalihkan pandangannya ke sederet pembela, ehm ada 19 pembela waktu itu dan semua pembela top. Tim pengacara yang merasa dituakan pun spontan mengacungkan jari telunjuknya, dan berkata," ada pak Hakim yang terhormat, bila diijinkan kami akan memberikan sebuah bukti lagi yang meringankan klien kami,"

"Silahkan saudara pembela, data apa yang akan ditunjukkan pada kami itu?" jawab pak Hakim setengah bertanya. Sang pembela pun berdiri dan memberikan data yang dimaksud olehnya kepada pak Hakim dengan langkah tergesa-gesa," Ini pak Hakim." Seorang perwakilan Jaksa saat itu pun sudah berdiri dan menghampiri sang Hakim yang menunnjukkan data pemberian sang pembela. Saat data pembelaan yang diberikan sudah berada ditangan Hakim dan diperlihatkan kepada perwakilan Jaksa yang ada didekat hakim itu, si pembela kembali ke kursinya dengan bergumam " siplah" kearah si terdakwa.

Belum sedetik si pembela duduk dikursinya, sang Hakim lalu berbicara," Ehm, sidang ditunda 30 menit, karena kami harus berembuk mengenai data tambahan ini bersama dengan jaksa penuntut, tok..tok...tok," Tanpa menunggu a b dan c, si Hakim ketua diikuti oleh hakim anggotanya beserta beberapa jaksa penuntut lalu meninggalkan si terdakwa diruang sidang menuju ruang kedap suara yang memang dikhususkan saat terjadi rembukan diantara hakim, jaksa dan pembela di negeri dongeng itu.

"Silahkan duduk!" seru sang Hakim ketua sambil memberi aba-aba kepada hakim anggota lainnya dan par a jaksa penuntut disana. "Ini ada bukti baru, ternyata si terdakwa hanya melakukan korupsi tidak lebih dari 100 karung (kalau dikonversi ke rupiah sekitar 100 miliar begitu), lalu lanjut Hakim ketua," dan disini pembela terdakwa memberitahukan kepada kita, bahwa masih tersisa 80 karung lagi." 

Semua yang hadir di ruang rembukan diam dan memperhatikan dengan seksama penjelasan sang Hakim ketua, lalu sang Hakim ketua melanjutkan kembali penjelasannya,"data ini dari 80 karung ditulis berkelompok menjadi 10 karung, berarti ada delapan." Seorang Jaksa penuntut lalu bertanya, "Maksudnya apa yang mulia?" dan disambut dengan anggukan persetujuan dari teman sesama penuntut. " Dan bagaimana dengan yang 20 karung itu pak Hakim?" tanya si Jaksa itu lagi.

"Begini, didata ini hasil korupsi dibagi menjadi delapan dan satu kelompok tertulis 20 karung bertanda hjjau," lalu si Hakim Ketua memberikan waktu kepada seorang pengacara yang ikut hadir saat itu untuk menjelaskan isi dari surat yang diberikannya.

"Hakim yang mulia dan Jaksa yang saya hormati, sebelumnya mohon pengertian dan kearifan dari bapak-bapak!" seru si pembela. Lalu lanjutnya,"  Di Zaman ini(pembela tidak bisa mengatakan j), mumpung berada diruang tertutup dan kedap ini, ijinkanlah saya berbicara zuzur dan terbuka kepada bapak-bapak," ujar si pembela.

Si Hakim ketua dengan sedikit bingung dan mata menatap tajam kearah si pembela, seraya berkata,"silahkan diperjelas maksudnya!" Si hakim ketua menoleh kearah rekan-rekan Hakin lainnya dan kearah Jaksa penuntut.

"Langsung saja pak Hakim Ketua dan Pak Zaksa penuntut, didata ini ada tulisa 80 yang dibagi menjadi delapan itu adalah untuk kita bagi sama-sama, dan 20 yang hijau itu dikembalikan ke negara, bagaimana?" jelas si pembela sambila bertanya kepada beliau yang ada diruang itu.

"Wah, ini namanya penyuapan dan ini terlarang!" tegas si Jaksa memotong sang Hakim Ketua yang akan berbicara. Sang Hakim lalu berkata,"Maksudnya dari 80 karung ini akan dibagi ke siapa?" 

"Rinciannya begini yang mulia," jawab si pembela mennjelaskan secara detail maksud pembagian dari 80 karung itu. Setelah dijelaskan si Hakim ketua berbisik kepada Jaksa penuntut yang paling berpengaruh dalam sidang itu dan kemudian berbisik pada hakim-hakim anggota pada kasus tersebut.

"Coba kau jelaskan sekali lagi mengenai 80 karung ini!" perintah Hakim ketua kepada pembela. "Hakim ketua yang mulia, dari 80 karung itu, 20 karung rencananya kami ambil untuk biaya kerja kami, 20 karung untuk di depositokan si terdakwa saat dipenjara nanti, sedangkan sisanya itu terserah bapak-bapak sajalah," jawab si pembela.

Ruangan itu jadi sunyi senyap, para hakim dan jaksa merenung memikirkan tawaran si pembela itu, lalu si Jaksa berkata,"Ini benar atau apa nih?" tanyanya memasatikan kepada si pembela dan juga mengarahkan pandangannya kearah Hakim Ketua. Si pembela dengan tangkas dan sigap menjawab,"Iya betul, ini bukti dari bahwa 80 karung itu masih ada di negeri sebelah dan masih aman."

"Bagaimana pak Hakim Ketua?" tanya si jaksa penuntut umum. "Bisa-bisa anda saja lah pak Jaksa, yang penting tidak terlalu terlihat, apalagi sampai tersebar ke wartawan. "Baik, kalo begitu, tuntutan mungkin hanya sekitar 4 tahun penjara dari 14 tahun penjara," sambil mengangguk-anggukan kepala. Dipikirannya, masa bodohlah dengan hukuman si koruptor yang hampir sama dengan si pencuri ayam.

Mereka bergegas berdiri dan kembali ke ruang sidang untuk melanjutkan sidang pembacaan putusan akhir. Hanya sekitar tiga puluh menit pembacaan kepututsan akhir kepada si terdakwa selesai, yaitu dengan putusan hukuman penjara kepada si terdakwa selama 3,5 tahun, denda 10 gulung, dibebankan biaya sidang 10 tali dan diwajibkan mengembalikan 20 karung dari hasil korupsinya. Si Koruptor lalu berkata "Alhamdulillah" dan tersungkur kelantai untuk sujud syukur, karena 4 tahun kemudian si terpidana masih memiliki 20 karung dari hasil jerih payahnya.

0 comments:

Poskan Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!