Searching...
Minggu, 16 Desember 2012

KORUPSI DI INDONESIA KOMBINASI TIKUS DAN GURITA

tikus gurita tepat bagi kasus korupsi
Ungkapan korupsi di Indonesia ini sudah menggurita ternyata bukan isapan jempol semata, memang hampir serupa dan beda tipis dengan banyaknya lengan gurita sesungguhnya. Bahkan kondisi tindak korupsi di Indonesia ini bisa jadi kombinasi tikus dan gurita. Untuk pemberantasan korupsi di Indonesia memang bukanlah hal mudah dan ringan, selain telah menggurita korupsi di Indonesia sudah mewabah bak hama tikus yang beranak pinak.

Tindak korupsi di Indonesia diibaratkan telah menggurita itu sangat masuk akal, selain seperti gurita  memiliki 8 lengan, tetapi juga smaa cerdasnya dengan gurita sungguhan. Karena menurut pakar biologi, gurita  merupakan hewan  paling cerdas dari seluruh hewan invertebrata.

Memang bukan isapan jempol dan karangan semata, bila pakar bahasa menggunakan istilah korupsi di Indonesia itu sudah menggurita. Ungkapan yang sangat tepat bagi koruptor di Indonesia ini, mereka bukan saja berlengan delapan, tapi mungkin lebih dari itu. Semua koruptor di Indonesia terbukti cerdas, bila dilihat dari latar belakang pendidikan yang rata-rata bersekolah tinggi dan bertitel, bahkan kadang ditambah titel religi seperti Haji.

Mungkin lengan tindak korupsi lebih banyak lagi, namun karena guritalah yang memiliki lengan terbanyak diantara hewan-hewan lain, maka istilah gurita yang digunakan. Pada kenyataanya pun, mereka pelaku tindak pidana korupsi tidak pernah melakukan tindakannya secara sendiri-sendiri, selalu ada teman dan jaringan dalam aksinya. Mulai dari awal hingga pelaku tertangkap pun masih memiliki lengan-lengan sebagai kepanjangan tangan. Intinya mereka pelaku tindak pidana korupsi tidak seperti maling ayam atau pencuri, maupun segerombolan pencopet di terminal.

Mereka memliki lengan yang sangat banyak, disini, disitu dan disana, semua diatur secara rapi saat melakukan tindakan korupsinya. Semua lengan dapat untung tanpa perduli lengan-lengan kurus yang mengais makanan dan tidak makan disekelilingnya. Banyaknya lengan pelaku korupsi baru bisa dibuktikan, setelah mereka tertangkap. Disitu si pelaku terpaksa memberitahu lengan-lengan lain yang menjadi lengannya dalam melakukan aksi korupsinya.

Ungkapan tindak korupsi di Indonesia telah menggurita pun juga ternyata sudah terbukti benar, bila melihat sifat gurita yang dalam keadaan stress akan memakan lengannya sendiri. Coba lihat pada beberapa kasus korupsi yang terungkap, beberapa pelaku mungkin bukan si guritanya, tapi hanya lengan-lengannya saja.

Selain itu, mungkin mereka si pelaku koruptor merasa banyak memiliki pelindung, seperti gurita sesungguhnya yang memiliki keistimewaan hewan tanpa tulang belakang yang dilindungi (Di Britania Raya, Cephalopoda seperti gurita termasuk hewan yang dilindungi Animals (Scientific Procedures) Act 1986 dan undang-undang anti kekejaman terhadap binatang). Cobalah lihat kenyataan yang terjadi pada mereka pelaku koruptor yang sudah menjadi pesakitan, berbeda sekali dengan pelaku tindak pidana lainnya. Mereka dilindungi dan dibela habis-habisan. Tidak ada kasus tindak pidana korupsi yang didampingi oleh pembela gratisan, semua punya harga pastinya.

Sayangnya meski secerdas gurita, tetap saja pelaku tindak pidana korupsi itu tikus. Mereka melakukan semua dengan sembunyi-sembunyi bersama lengan-lengan lain, bahkan Tuhan pun dianggap buta oleh mereka. Lihat saja mereka yang bertitel haji, apa mereka itu tidak tahu jika perbuatan korupsinya itu dilihat Tuhan? Kenapa mereka melakukan juga? ya karena mereka beranggapan seperti tikus, masa bodoh dengan tuan rumah yang sudah tidur disaat mencuri makanan untuknya. 

Tindak korupsi pun sama dengan tikus, mereka menularkan penyakit untuk lainnya yang belum terjangkit penyakit korupsi. Sengaja atau tidak, umumnya para pelaku korupsi selalu berbagi hasil korupsinya, yang secara tidak langsung menularkan penyakit korupsinya kepada orang lain, entah itu berupa sumbangan-sumbangan sosial atau pemberian tips kepada tukang parkir di pinggigr jalan. 

Tikus dan gurita sangat cocok untuk mereka yang melakukan korupsi di Indonesia ini, karena memang demikian  kondisi korupsi di Indonesia. Maka berhati-hatilah para koruptor yang hanya menjadi lengan gurita, karena suatu saat lengan itu akan termakan oleh si gurita. Serta berhati-hatilah para pelaku korupsi yang telah menggap Tuhan tidak melihat perbuatan korupsinya, pasti anda para koruptor akan benar-benar dibuat buta oleh Tuhan Sang Pencipta.

0 comments:

Poskan Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!