Searching...
Senin, 31 Desember 2012

HARUSNYA SANG RAJA BELAJAR DARI GITO ROLLIES

Sang raja dangdutLucunya melihat sang raja dangdut kesana kemari cari dukungan dalam pencalonan dirinya menjadi presiden. Hal itu sah-sah saja dalam dunia politik, tapi jangan lupa diri dan berangan terlalu tinggi hanya karena dukungan sepihak. Apalagi sang raja dangdut itu sangat mengerti agama, mestinya harus istiqomah dengan yang sudah ada dan tidak mencari sensasi pada posisi no. 1 di Indonesia ini.

Menurut beberapa refferensi, gebrakan politk sang raja dangdut yang pernah mampir di PPP dan Golkar (1997) itu tidak begitu cemerlang, hanya sebagai yang duduk diam dan setuju-setuju saja waktu itu di Gedung DPR. Masalah penggemar bolehlah diacungi jempol, karena memang sudah begitu lama berdangdut ria di dunia musik negeri ini. 

Sang rocker rendah hatiCoba bandingkan dengan Gito Rollies yang bernama lengkap Bangun Sugito (almarhum) yang juga punya nama di dunia musik waktu itu, dengan aliran musik keras dan binal. Herannya, Sang legenda musik keras itu benar-benar merunduk bagai padi yang menguning dihari tuanya, sangat luar biasa sang legenda Gito Rollies. Tak ada manggung, tak ada wara wiri dalam dunia politik yang kotor diakhir hidupnya. Beliau hanya berjalan menuju satu tujuan, yaitu menghadap Tuhan Sang Pencipta.

Bukankah sang raja dangdut itu seharusnya lebih dari sang legenda rock Gito Roliies? Dari awal musik sang raja dangdut sangat mengagumkan, seluruhnya berisi dakwah, kenapa harus jadi Presiden? .Harusnya sang raja belajar dari sang rocker yang berbalik 180 derajat, dari gelimang narkoba dan miras ke jalah Ilahi.

Untuk politik pun terkesan kutu loncat, mungkin beliau beranggapan bisa membenahi Golkar saat itu, berdasarkan refferensi saat itu nyatanya tidak ada tuh yang diperbuat sang raja dangdut di Golkar dalam kancah politik waktu itu. Kalau mau tahu kontroversi lengkapnya baca di merdeka.com supaya lebih jelas dan tidak salah duga.

Sangat disayangkan ilmu dan kemampuan yang dimilikinya hanya sekedar mengejar jabatan, nauzubillah! Orang yang mengerti agama Islam secara mendalam pastinya takut dengan jabatan Presiden, bukan malah dikejar dan dicari seperti sang raja dangdut itu. Atau mungkin sebaliknya, sang raja merasa berkewajiban dan berhak pda posisi itu, nasrsis kalo kata anak muda jaman sekarang. Mana ada orang di dunia ini merasa berilmu tinggi, kecuali dijaman pendekar-pendekar sakti di dunia lain.

Sebenarnya jejak dan perjalanan sang raja itu sudah sangat baik dan sempurna, karena selalu mengusung kebaikan dan dakwah, meski diselingi skandal-skandal kecil yang tertangkap di infotainment pada waktu yang lampau. Kenapa malah berbanding terbalik dengan sang rocker Gito Rollies yang mengundang decak kagum diakhir hayatnya, padahal alirannya bagai langit dan bumi. Sang raja mengusung dakwah dalam setiap lagunya, sedangkan sang rocker Indonesia selalu mengusung dengan hentakan lagu keras hingga lupa dengan Tuhan. 

Satu hal lagi yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam, yaitu apabila seseorang beriman mengharapkan  sebuah jabatan, apalagi ini jabatan Presiden. Dasarnya apa bisa mengatakan bertentangan? Ini refferensi yang disadur dari Bilakah Indonesia Memiliki Pemimpin Ideal

"Sesungguhnya kami tidak akan memberikan jabatan ini kepada seseorang yang memintanya, tidak pula kepada orang yang sangat berambisi untuk mendapatkannya" (HR Muslim).


"Sesungguhnya engkau ini lemah (ketika abu dzar meminta jabatan dijawab demikian oleh Rasulullah), sementara jabatan adalah amanah, di hari kiamat dia akan mendatangkan penyesalan dan kerugian, kecuali bagi mereka yang menunaikannya dengan baik dan melaksanakan apa yang menjadi kewajiban atas dirinya". (HR Muslim).

Kecuali, jika tidak ada lagi kandidat dan tugas kepemimpinan akan jatuh pada orang yang tidak amanah dan akan lebih banyak membawa modhorot daripada manfaat, hal ini sebagaimana ayat ;

HARUSNYA SANG RAJA LEBIH DARI GITO ROLLIES

"Jadikanlah aku bendaharawan negeri (mesir), karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan". (Qs : Yusuf :55)

Dengan catatan bahwa amanah kepemimpinan dilakukan dengan ;


a     - Ikhlas
b     - Amanah.
c     - Memiliki keunggulan dari para kompetitor lainnya.
d     - Menyebabkan terjadinya bencana jika dibiarkan jabatan itu diserahkan kepada orang lain.

Apakah untuk menjadi Presiden itu hanya perlu aspek dukungan, tanpa melihat aspek-aspek lain yang harus dimiliki oleh kandidat calon jabatan Presiden? Jika memang demikian, mungkin bangsa ini tinggal menunggu kehancuran yang kesekian kalinya. Apakah dukungan menjamin Indonesia jadi lebih baik?

Jangan samakan kemenangan Jokowi menjadi gubernur DKI Jakarta beberapa waktu lalu dan kemudian tiba-tiba sejajar dengan artis atau aktor Indonesia, itu bukan hanya sekedar popularitas. Jokowi meskipun sekedar menjadi walikota kota Solo, tapi paling tidak memiliki pengalaman pemeritahan yang bahkan sudah menggema ke manca negara.

Jika sang raja berpikir jabatan Presiden itu adalah sebagai kewajibannya, wah..berarti Indonesia sudah tidak ada lagi yang bermutu dan bisa dicalonkan jadi presiden. Bila beranggapan demikian, betapa sombongnya seorang raja itu. 

Lebih baik konsentrasi dan tetap berjalan menggarap lahannya sendiri, dibanding berkhayal terlalu tinggi. bukankan berdakwah dengan lagu juga besar manfaatnya tidak beda dengan sebuah jabatan yang disebut Presiden. Ada apa dengan sang raja dangdut yang bernafsu besar pada jabatan Presiden? Lebih baik berdakwah, dibanding jadi Presiden Raja! Contohlah sang legenda rock Indonesia, Almarhum Gito Roliess yang begitu mengagumkan diakhir hayatnya...Pertimbangkanlah Sang Raja dangdutku!

Apalagi jawaban dari Gus Mus  jelas-jelas tidak mendukung pencalonan sang raja menjadi Presiden, padahal ketika itu malah sang raja sedang berada disana. Ini adalah kejujuran dari seorang ulama yang pintar, alih-alih malah menyebut nama ketua Mahkamah Konstitusi yang didukungnya. Aduh, gimana Indonesia kedepannya, kalau jabatan Presiden itu diburu dan dikejar. Sangat luar biasa bila beranggapan jadi Presiden di negara ini sama dengan konser dangdut, bisa-bisa  rakyatnya bergoyang ria sepanjang masa jabatannya kalau tidak dilengserkan.

Masih banyak yang lebih berkompeten untuk jadi Presiden 2014, dibanding sang raja dangdut. Maaf bukan under estimate, untuk musik memang mumpuni. Namun, untuk mengurus negara yang sangat luas dan serba kompleks ini bukan seperti konser. Beliau-beliau yang pernah menjadi presiden dan memiliki pengalaman manajemen saja belum bisa membebaskan negeri ini dari koruptor-koruptor busuk, gimana sang raja dangdut? Ada-ada saja gebrakan sang raja dangdut Rhoma Irama di tahun 2012 ini.

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!