Searching...
Jumat, 14 Desember 2012

AKIBAT TEMANKU MELAYANI PAMANNYA, PIKIRAN JADI KORUP!

pikiran buruk ketika temanku melayani pamananyaPostingan akibat temanku melayani pamannya,  pikiran jadi korup (rusak alias ngawur). Awalnya antara  muat atau tidak, akhirnya kucoba saja memuat postingan ini di salah satu sosial media. Lengkapnya seperti yang kutulis dibawah ini (sumber).

Beberapa hari ini kulihat teman yang biasanya rajin dan bersemangat,  kelihatan muram dan kelihatan sangat lelah, entah apa yang sedang terjadi denganya. Meskipun menutupi apa yang sedang terjadi diwajah cantiknya itu, mata dan kelesuannya masih jelas terlihat. Aku sebenarnya ingin sekali bertanya, kenapa temanku yang Mifta jadi begitu lesu? Dia itu sebenarnya gadis yang bersemangat, cantik dan cerdas di kampus.

Keesokan harinya pun begitu, Mifta masih terlihat lesu dan murung diwajahnya makin nampak jelas. Beberapa temanku yang lain mengatakan tidak tahu penyebabnya, ketika kutanyakan perihal Mifta. Bahkan ada temanku yang pernah menanyakan langsung ke Miftah, tapi tanpa mendapatkan jawaban. Hanya gelengan dan diam sebagai jawabannya.

Mifta memang kelihatan berubah sekali, sering murung, menyendiri dan selalu menghindar dari teman-teman, termasuk denganku juga. Sepertinya ada hal yang disembunyikannya dan tidak ingin ada seorang pun yang tahu hal yang menimpa dirinya. Kasihan seklai Mifta, sayang jika dia yang berprestasi dan cantik harus berubah drastis dan menjadi malas seperti itu.

Hari terus berjalan, tiba-tiba beberapa temanku terlihat seperti membicarakan sesuatu, ternyata mereka membicarakan temanku, sahabatku Miftah. Mereka membicarakan hal miring yang aku sendiri tidak mengerti. Salah satu dari mereka pernah datang ke rumah Miftah, ketika itu temanku mendengar suara keluhan dan teman yang sedang bercerita alias ngerumpi itu menirukan gaya suara Miftah, "masukiin om.., masukin om..,jangan dikeluarin dong, ayo buruan," begitu kata temanku yang mendengar suara Mifta. Aku kaget campur tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan mereka itu. Temanku melanjutkan ceritanya dan dia bilang," parah juga si Mifta yang berjilbab kalau begitu!"

Mendengar sahabatku dikatakan parah, kontan saja aku agak kesal dan bertanya, " memangnya kenapa dengan Mifta samapi dibilang parah?" Temanku malah tertawa dan mengatakan aku ini kupr, lantas dia bilang juga," itu lho temanlo lagi gituan sama omnya." Gituan apanya, aku semakin tidak mengerti menanggapi perkataan temanku itu. Malas aku mendengarkan pembicara mereka, lalu langsung ku tinggalkan saja mereka itu.

Sesampai dirumah, kutanyakan apa yang disampaikan temanku di kampus ke mamaku. Kontan mamaku setengah teriak mengucap,"Astaghfirallah.., masa sih Mifta melakukan hal sehina itu dengan omnya sendiri?" mamaku bertanya disela kekagetannya itu. Aku jadi bingung dan penasaran, "Maksudnya hina apaan ma?" tanyaku. Mamaku menjelaskan dari a sampai z tentang kemungkiinan yang dilakukan oleh Miftah bersama Om nya itu. Begitu selesai mamaku bicara, kontan hal yang sama dengan mamaku kulakukan juga. Gila juga si Miftah kalau dia melakukan hal serendah itu ya ma?" ujarku.

Keesokan harinya kuberanikan diri untuk bertanya langsung ke Miftah, masa bodoh dia marah terima atau tidak. Yang penting aku harus peringatkan jika perbuatan itu terlarang,  apalagi dengan omnya sendiri. Sengaja aku berangkat kuliah agak cepat, agar bisa bicara lebih lama dengan Miftah. Tunggu dari menit ke menit, ternyata Miftah belum juga menunjukan batang hidungnya hingga waktu kuliah pertama dimulai. Batal rencanaku untuk bertanya, sambil menggerutu ku mulai mata kuliah pertama. Belum lima menit, Miftah terdengar salam dari luar dan ternyata itu Miftah. Wah, terlambat lagi si Miftah dan kelihatan makin kusust dan agak kurus.

Kutunda niatku untuk bertanya ke sahabatku Mifta, hingga jam kuliah berakhir. Belum aku tanya, tiba-tiba Miftah mendatangiku dan mengajakku keluar. "Sepertinya ada sesuatu hal yang ingin dia bicarakan, "pikirku. Dengan rasa penasaran kuikuti langkah Miftah keluar kelas diantara pandangan sinis teman-temanku yang lain. Diruang lorong kampus, Miftah memintaku untuk datang kerumah dan mengajaku untuk melayani omnya bersama-sama. " Gila lo, apa-apa lo!" bentaku setengah kaget, karena setengah tidak percaya jika sahabatku bicara seperti itu. "Ayolah, tolong sekali saja bantu aku melayani Om ku, aku ga kuat sendirian," ujarnya memelas. "Sekali ini saja, please!" rengeknya.

Dalam hati aku," wah kurang waras nih sahabatku Mifta, masa aku diajak untuk berbuat hal yang paling hina." Tapi melihat Miftah sedikit memelas, akhirnya aku luluh juga dan bersedia ikut dengannya. Dipikiranku waktu itu, "apa sih sebenarnya yang dia inginkan?" Aku sudah ikut hanya iingin tahu, jika memang Miftah menunyuruhku berbuat yang tidak-tidak, maka aku tidak sungkan-sungkan akan berteriak dan kalau perlu aku pukul sahabatku sendiri.

Segudang pertanyaan dan sangka memenuhi kepalaku saat diperjalanan, diam tanpa kata dari kampus hingga rumah Miftah. Sampai dirumah Miftah aku diajak  masuk ke kamarnya, sedangkan miftah langsung melepas jilbanya dan berganti pakaian. Andai aku ini cowok, wah pasti Miftah akan ku pacari, karena memang sangat cantik. Siapa yang tidak tertarik dengan bodynya yang langsing, putih, mulus dan berisi itu, pastinya OM-nya itu gila jika keponakan sendiri harus melayaninya.

Selesai ganti baju Miftah memintaku untuk menunggu sebentar, "disini dulu yah, aku mau ke kamar Om ku dulu!" pintanya. Setengah ngeri, aku menganggukan kepala sebagai tanda setuju menunggu dikamarnya saja. Selang beberapa menit kudengar suara Miftah dengan jelas. Miftah setengah terengah-engah mengatakan, "ko dikeluarin, ayo dong om masukin lagi, cepat jangan sampai teman Mifta dengar dong!" lantas ku dengar lagi," iya begitu dong, ini baru enak om, baru om ku namanya, kalau gini aku senang om," kemudian terakhir aku dengar, "om aku panggil temanku dulu ya, aku ga kuat kalau sendirian, sabar ya," setelah itu tak ada suara lagi, kecuali sosok Mifta yang berkeringat mucul dihadapanku tiba-tiba.

"Di, bantuin aku yu, aku ga kuat sendirian..memsti berdua, sekali ini aja , pleas!" ujarnya kepadaku. "Emangnya mau ngapain sih Mif?" tanyaku agak kesal dan merasa bingung campur tidak percaya dengan suara Mifta yang kudengarkan tadi. Belum sempat mengiyakan pertanyaan dan belum mendapatkan jawaban dari Miftah, tiba-tiba Miftah menarik tanganku setengah memaksa lalu membawaku ke kamar Om nya itu.

Setelah sampai dikamar itu, kulihat Om nya Miftah yang tidak berbaju dan penuh dengan perban di kaki dan tangan, serta sebagian badannya. Ternyata, Om-nya beberapa minggu lalu mengalami kecelakaan sewaktu terjadi ledakan dan kebakaran ditempatnya bekerja, yah di pengeboran lepas pantai. Oh, ternyata aku salah, Mifta bukan melayani nafsu Om nya, tapi melayani om nya yang sedang sakit. Berarti yang kudengar tadi itu adalah suara saat Miftah memberikan obat kepada Om nya yang sedang tidak berdaya itu, dan saat itu aku diminta untuk membantunya memegangi tempat obat. Alhamdulillah...!

Ternyata benar dugaan saat membuat tulisan ini di sosial media tersebut,  dalam waktu singkat sektiar 1 jam pembaca ramai. Padahal waktu memuatnya agak terlalu malam dan kurang tepat, tapi ya begitulah... judul merangsang dan sedikit vulgar mungkin menjadi daya tarik. Entah memang ini karakter kita bangsa Indonesia atau memang jenis judul seperti itulah yang lebih menarik dibanding artikel berguna yang berisi teori-teori dengan bahasa baku. 

Ini ngeri sebenarnya, mungkin sebagian pembaca merasa tidak pernah korupsi atau tidak berniat korupsi. Tetapi, jika melihat sesuatu hal yang miring sedikit, spontan tanpa disadari pikiran jadi korup ingin mengetahui isi bacaan lebih lanjut. Entah ini betul atau salah, yang jelas hal-hal yang berbau vulgar lebih menarik perhatian, disamping masalah uang dan gosip lainnya.

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih atas komentarnya, ..Sukses Buat Semua! Mohon maaf, diharap tidak memasukan URL, iklan de el el pada komentar!! Mohon maklum, ..

 
Back to top!